Jodoh Itu...

Jodoh itu bukan bertemunya 2 insan yang sama-sama sempurna

Justru Jodoh itu adalah...

Ketika 2 insan sama-sama belajar saling mengerti dan menyempurnakan

Kalimat ini tiba-tiba aja muncul beberapa tahun lalu, saat jalan bareng Lisa & Fadzri, kedua keponakan saya yang waktu itu masih sama -sama kuliah.

Di jaman saya seusia mereka dulu, masa kuliah adalah masa saya cukup cuek dengan pencarian soulmate ini. Sampai-sampai kakak saya bilang, "Ayo kalo nanti sampai lulus belum ada ngenalin siapa pacarmu, kujodohin ama temenku loh".


Belum Klik

Dibilang cuek sebenernya gak gitu-gitu amat sih, tapi saya cenderung amat sangat pemilih. Sempat dekat dengan beberapa teman lama masa sekolah ataupun teman baru di tempat kerja part time, tapi berasa kurang sreg aja gitu. Semacam ada yang belum klik aja.

Setelah saya ingat-ingat lagi, hampir setiap mulai ada dekat dengan cowok, saya selalu berdoa ke Allah, "Ya Allah, kalau dia (sambal sebut namanya) memang jodohku, maka dekatkanlah, tapi jika bukan, maka segera jauhkanlah".

Maka itulah yang terjadi, setiap ada PDKT dari cowok, atau saya yang agak-agak naksir, ujung-ujungnya gak jadi lagi, gak jadi lagi. Sampai pada satu masa, cuek aja lah, biarin aja, nanti kalau udah jodoh bakal dateng sendiri.

Tiba Saatnya

Sampai kemudian saya bertemu dengan kakak kelas di tempat kuliah, yang secara garis kehidupan, ternyata beliaulah jodoh saya. Ketika berangkat ke tanah sucipun, saya bawa doa yang sama, jika memang sosok yang satu ini adalah jodoh terbaik yang Allah pilihkan ke saya, maka dekatkan, jika bukan, maka segera jauhkanlah.

Rupanya Allah memberi banyak, bahwa lelaki tersebut adalah jodoh saya. Padahal kalau dipikir-pikir, bukan kriteria yang selama ini saya cari. Satu-satunya kriteria yang pas adalah, ia adalah muslim, bagi saya ini adalah kriteria utama yang bisa ditawar-tawar lagi. Tetapi, kriteria lainnya, seperti kesukaan kami yang totally berbeda, karakter yang bertolak belakang, hingga kebiasaan yang berbeda, pada awalnya memang membuat uring-uringan dan beragam keraguan.

Tapi memang, jawaban Allah atas segala doa permohonan jodoh terbaik, hinggap di lelaki yang usianya hanya terpaut 3 bulan lebih tua dari saya. Lelaki yang merupakan anak pertama di keluarganya, sementara saya anak terakhir, menjadikan kami begitu KLIK. Tau kan, gimana kadang eh atau seringnya anak bontot itu manja dan ingin diperhatikan. Ternyata hanya lelaki yang akhirnya jadi suami saya inilah, yang paling bisa mengimbangi, bukan si A yang pernah saya taksir atau harapkan, atau si B yang selalu telpon ke saya kemanapun ia mau beraktivitas.

Lelaki yang jadi Ayah dari anak-anak saya pulalah, yang mendampingi di masa-masa terpuruk saya saat itu. Meski beberapa kali sempat adu argumen dan segala perbedaan pendapat lainnya, nyatanya ini yang membuat kita makin mengenal satu sama lain.

Inilah Jodoh

Ya, inilah jodoh, yang sebagian pendapat ini adalah sebuah takdir, ada pula pendapat bahwa jodoh adalah pilihan dengan doa dan ikhtiar.

Buat saya, 2 insan dikatakan berjodoh, ketika hubungan yang terjadi membuat keduanya makin kuat, sama-sama belajar saling memahami, hingga sama-sama berjuang menjadi pribadi lebih baik.

Jika memang jodoh, gak mungkin akan saling merusak ataupun saling menyakiti.

Jodoh ibaratnya 2 pilar yang menopang rumah yang begitu besar yang berisi tanggung jawab, kesetiaan, kerjasama, dan beragam norma bahkan masalah yang perlu dihadapi bersama. Jika kedua pilar kuat dan saling mendukung, maka rumah juga terus berdiri dengan kokoh, bahkan tahun demi tahun, bertambah dengan isi yang penuh keindahan dan kebahagiaan.

So, bagi para pejuang jodoh, yakinlah suatu hari jodoh yang baik dan terbaik pasti akan menghampiri. Kuncinya kembali ke diri kita, segigih apa kita berusaha memperbaiki diri. Tentu saja, jodoh sempurna itu hanya fatamorgana, yang ada adalah saling menyempurnakan.


Healing with Podcasting

Sejak mulai mengenal dunia podcast beberapa waktu terakhir ini, saya sepertinya makin asyik, baik sebagai pendengar maupun podcaster itu sendiri. Meski masih banyak yang belum tertarik, entah itu karena alasan podcast di dunia belum bisa monetize, atau dinilai lebih ribet daripada ngeblog, ataupun alasan personal lainnya, tapi buat saya, podcast punya tempat tersendiri. 

Ngepodcast itu Nyaman!


Buat saya pribadi, ngepodcast itu sangat nyaman. Dari dulu memang senang bercerita secara langsung daripada harus melalui tulisan, bahkan kalau WA ke teman pun, dan agak panjang isinya, saya mending kirim voice note daripada menulis panjang-panjang. 

Ngepodcast juga semacam obat kangen siaran yang sudah saya tinggalkan sekitar 3 tahun lalu. Gimanapun dunia kepenyiaran radio, bakal selalu di hati dan pikiran saya. Impian masa kecil yang kemudian bisa saya jemput ketika kuliah, lalu berlanjut hingga saya punya anak. 

Setelah menjalani rekaman hingga proses editing podcast, saya menemukan kenyamanan tersendiri, bahkan lebih dari itu, podcast ternyata membantu proses healing yang saya tempuh. Healing karena apa? Memangnya kenapa?



Self Healing

Tahun 2011, saya pernah berkesempatan ikut sebuah pelatihan NLP (Neuro Languange Programming) & Hypnotherapy. Dalam sesi perkenalan, saya memperkenalkan diri saya sebagai seorang Ibu rumah tangga, yang ingin menjadi Ibu yang lebih baik buat anak saya. 

Di depan para peserta lainnya, yang sebagian besar adalah para pengusaha, karyawan, agen asuransi, ataupun para trainer yang ingin upgrade ilmua, saya dredek maksimal. Bukan karena gak pede, tapi karena terbersit hal-hal buruk yang pernah saya ucapkan ke anak saya. Meski saya gak pernah menyakiti secara fisik, tapi waktu itu saya begitu marah ke diri saya sendiri, karena kata-kata yang saya pikir begitu melukai si kecil.

Saya begitu kecewa dan marah ke diri saya, kenapa sih gak bisa mengendalikan omongan ke anak? Sebenarnya bukan kata-kata seperti bodoh atau nakal atau kata-kata kejam lainnya. Tapi lebih ke penekanan kata ya, seperti emosi berlebihan, lalu saya ngomong ke Ical yang waktu itu masih balita, "Ical gimana sih?", misal saya kurang nyaman dengan apa yang Ical lakukan. Bahkan gara-gara Ical gak mau minum obat, saya sempat marah besar, dan Ibu yang kemudian menenangkan Ical yang terus menangis.

Kenapa ini? Ada apa ini? Seperti semuanya out of control, saya gak pengen seperti ini! Saya capek jadi ibu yang seperti itu! Kemana perginya teori-teori parenting yang udah saya baca jauh-jauh sebelum menikah?

Bukan hanya ke anak, tapi justru ke diri sendirilah yang bikin saya kelimpungan. Suka cemas, mendadak gak pede, dan aneka ketakutan menyergap gak jelas. Sampai-sampai saya pernah benar-benar menarik diri dari kehidupan sosial. Gak mau ketemu teman-teman masa sekolah, gak mau berbaur dengan siapapun.

Pada saat mengikuti pelatihan NLP & Hypnotherapy tersebut, barulah terkuak beberapa hal penting, yang membuat saya jadi pribadi kurang nyaman ke diri sendiri ataupun sekitar saya, gampang kecewa karena hal kecil, atau hal-hal lain yang membuat kecemasan berlebihan yang kadang kala gak mendasar


Memori Masa Kecil

Waktu kecil, suatu ketika, Ibu pernah marah begitu besar ke saya, mengacungkan gunting dan bilang ingin bunuh diri jika saya masih saja nakal. Saya lupa apa persisnya yang saya perbuat, sampai Ibu begitu marah. Tapi kejadian itu terekam begitu hebatnya. Ternyata ini tersimpan di bawah sadar saya, sampai saya pun ketika stres tingkat tinggi di masa SMP, pernah mencoba bunuh diri, meski akhirnya saya urungkan.

Kecewa

Masa remaja, saya pernah ngefans dengan seorang kerabat, yang saya nilai ia punya banyak prestasi dalam hidupnya. Hingga suatu kali, ia ternyata punya anak di luar nikah, hal inilah yang membuat saya begitu kecewa. Bagi saya yang waktu itu masih usia remaja, masa-masa mencari jati diri, ini jadi sebuah pukulan berat buat saya, seperti kehilangan sosok idola.

Takut

Uniknya, selain saya kecewa dengan kerabat yang saya sebutkan diatas, saya juga punya ketakutan teramat sangat dengan orang ini. Tiap ia datang silahturahmi ke rumah, suaranya yang menggelegar, membuat saya was-was luar biasa. Suaranya memang keras dan tegas. Apalagi ketika ia ngamuk, duh makin jiper lah saya. Hal inilah yang sering saya temui di masa-masa SMP-SMA saya, melihatnya marah-marah, ngamuk, dan aneka tingkat emosional yang terpapar jelas. Saya ingin tegaskan, bahwa kerabat ini bukan Ayah atau Ibu saya ya, biar gak salah persepsi buat siapapun yang membaca postingan ini, tapi yang jelas ia adalah sosok yang saya kenal cukup dekat.

Bapak & Kakak-Kakak Meninggal

Bapak meninggal ketika saya lulus SMP, bertepatan dengan rasa kecewa luar biasa yang pernah saya alami. Hal ini menjadikan trigger ingin mengakhiri nyawa, namun akhirnya batal, dan saya memilih kabur dari rumah. Saat saya lulus kuliah, kakak sulung saya meninggal dunia secara mendadak, ternyata kehilangan orang-orang tersayang ini membuat saya lemah lagi. Seperti pemicu bom yang siap meledak. Begitupun ketika kakak kedua saya meninggal karena kecelakaan, semacam ikatan tali lepas lagi, dan membuyarkan psikologis saya untuk kesekian kalinya.

Meski kejadian kakak kedua saya yang meninggal itu adalah setelah saya menempuh pelatihan NLP & Hypnotherapy, tetapi ternyata masih bisa muncul ke permukaan, sisa-sisa keterpurukannya.

Hal inilah, yang membuat saya, sebaiknya tetap waspada dan punya alert, supaya ketika *akan kambuh*, saya bisa dengan mudah dan cepat menetralisir. Salah satu caranya adalah dengan bercerita.


Healing with Podcasting


Suami saya termasuk orang yang open minded, kalo enggak yaaaa mana bisa menerima istri seperti saya ini yaaa, yang serba cemas berlebih begini. Justru dari suami, saya jadi belajar banyak, tentang gimana berusaha tenang ketika menghadapi masalah.

Banyak cerita yang sudah saya sampaikan ke suami, hanya saja sejak ngepodcast, saya juga ingin sharing banyak hal, yang mungkin saya terlewat ketika saya curhat ke suami. Bukannya apa-apa, karena dengan cerita, maka sering kali saya menemukan solusi. Besar harapan saya, bagi yang ikut mendengarkan, jika pernah mengalami etape kehidupan seperti yang saya alami, bisa mengambil hikmah dan pelajarannya.

Inilah kenapa, saya begitu nyaman ketika menemukan dunia podcast. Bisa bercerita dengan elemen rasa yang lebih kuat, dibanding saya menulis seperti ini. Yaaa, ngaku deh, kalau nulis tuh bawaannya pengen buru-buru selesai :D

Podcasting itu tentang kejujuran, gimana saya bisa jujur ke diri saya sendiri, bahwa saya masih harus terus berproses menyembuhkan luka batin yang mengendap puluhan tahun. Semoga dengan segala hal yang saya share melalui media podcast maupun blog ini, bisa membawa kebaikan & pencerahan ya. Satu hal yang saya yakini, bahwa tiap orang itu selalu punya kesempatan untuk berubah jadi lebih baik, tinggal mau atau enggak aja.

Untuk yang pengen mendengarkan postingan ini versi podcastnya, boleh silahkan dengarkan di Podcast Emak Eksis yuk, atau bisa dengan klik tombol play di bawah ini:



pic: pexels

Ellen DeGeneres Aslinya Sombong? #BukanNgegosip

Eh bentar, ini bukan mau ghibah ya 😆

Secara judul, kenapa semacam menuju gosip begini sih?

Gini gini, sabar bapak dan ibu sekalian, bukan mau nggegosip kok, mau bahas tentang sombong sebenernya, salah satu sifat yang mungkin ada di diri kita. Tapi kadang sifat sombong itu kita perlukan untuk mematahkan orang-orang yang sok tauuuu! Eh gimana?

Tenang dong bro sis, sebelum saya mulai pembahasannya, mari kita duduk manis dulu, rebahan juga boleh, sambil ngemil juga boleh, eh tapi kalau pas jam masih puasa yaaa ngemil angin ajaa dulu 😁

Ellen DeGeneres Itu Aslinya Sombong?


Gimana, katanya gak mau ghibah, ini subjudulnya ngulang judul!

Yaaa ini buat semacam latar belakang gitu buat pembahasan makin dalem dan akurat.

Acara Ellen DeGeneres Show Yang Fenomenal


Sifat sombong ini memang bisa melekat ke siapa aja dan kapan aja, ye kan? Apalagi sekelas Ellen DeGeneres yang udah eksis di dunia entertainment dari tahun 1990an. Secara penghasilan juga udah entah berapa tuh pertahunnya. Wajar dan sah aja sih kalau Ellen sombong.

Kalau Emak-emak macam saya begini sombong? Hadeh, apa yang mau disombongin coba? Body juga begini-begini aja, kagak langsing-langsing. Cita-cita kurus, buka puasa tetep aja kalap. Cita-cita rajin ngeblog tiap hari, tetep aja godaan ranah lain suka manggil-manggil 😂

Ellen tumbuh di keluarga yang gak sesempurna keluarga lainnya. Orang tuanya bercerai, bahkan di usia remajanya pernah dianiaya oleh ayah tirinya. Memulai karir sebagai seorang stand up comedian di sebuah klub di New Orleans, benar-benar menempa hidup Ellen.

Sampai kemudian ia juga sempat menang penghargaan Emmy Award, serta punya program televisi  Ellen DeGeneres Show yang udah ada sejak tahun 2003. Program  ini tentu bukan acara sembarangan, termasuk pretisius lah di kalangan dunia entertainment. Bahkan jadi inspirasi banyak acara serupa yang lahir di era-era berikutnya.

Yang membuat acara ini bertahan sampai sekarang, tentu karena ide kreatif Ellen yang luar biasa, ditambah dengan kemampuannya sebagai presenter cerdas yang mumpuni. Segar, kritis, pertanyaannya sering out of the box dan karena punya basic sebagai stand up comedian, tentulah ia piawai memasukkan unsur kocak ke tiap episode di acaranya ini.


Isu Bahwa Ellen Aslinya Sombong


Dalam program televisi Ellen DeGeneres Show, selalu ada sesi bagi-bagi uang untuk sosial. Ini jumlahnya gak sedikit loh. Buat orang amerika sendiri aja, jumlah yang diberikan di acara tersebut, dibilang sangat besar. Bahkan di setiap acaranya ini, Ellen selalu menggunakan tagline BE KIND, yang bermaksud mengajak para penonton fanatik acaranya untuk ikut berbuat kebaikan.

Lalu darimana isu merebaknya kabar Ellen DeGeneres itu aslinya sombong bahkan *kejam* terutama ke crew di balik layar acara televisi yang membawanya mendunia?

Adalah seorang youtuber yang diundang ke acara Ellen ini, yang menceritakan pengalamannya saat ia datang ke acara tersebut. Dari ia gak boleh pake toilet di dalam, karena hanya diperuntukkan untuk bintang tamu seperti penyanyi atau pemain film terkenal.

Saat Nikkie hadir sebagai bintang tamu di acara Ellen

Mmm, padahal youtuber yang diundang ke acara Ellen ini, bernama Nikkie De Jager, punya subscribers lebih dari 10 juta, bukannya ini artis juga yaaa? Maksudnya orang terkenal begono. Tapi sepertinya buat acara Ellen, masih kurang presitius? Mungkin sepertiiii itu yaaa, mungkinnnn....

Dari awal Nikkie datang, Ellen memang gak ngajak ngobrol sama sekali. Mereka benar-benar hanya ngobrol ketika di set acara berlangsung. Selain itu Nikkie juga sempat lihat, crew yang bekerja overtime, sampai terlihat sangat capek, semacam kurang dihargai di acara tersebut.

Dari kabar yang datang tentang betapa sombongnya Ellen ini, akhirnya membuat sebagian orang yang pernah bekerjasama dengan Ellen, muncul di sosial media dan bercerita hal yang sama, membuka keburukan demi keburukan Ellen, yang beda jauh dengan apa yang selalu ditampilkan di depan kamera.


Kenapa Orang Bisa Jadi Sombong?


Seperti yang sempet saya kulik sedikit diatas, bahwa yang namanya sifat sombong bisa melekat ke siapapun. Melihat backgound masa lalu Ellen yang keras dan pahit, lalu sekarang ia berhasil secara materi, tentunya ini jadi fenomena yang wajar. Ibaratnya kan ya, sekarang Ellen pengen nunjukin ke dunia, kalau gue bisa nih!

Terus kalau dibilang ia kejam, seperti rumor yang menyebutkan bahwa ia memPHK salah satu karyawannya yang autis, hanya karena menegur atau mengucapkan salam, bisa jadi Ellen pengen kasih reaksi ke orang-orang di sekitarnya, bahwa hidup ini gak gampang cuiiii, butuh perjuangan!

Jangankan Ellen yang artis kelas dunia gitu ya, lha wong saya pas kerja jadi crew tipi dulu, ketemu beberapa artis yang baru naik daun bentar aja, ituuu uda semena-mena ke kita para crew. Mau dibocorin gak siapa aja? 😜

Ya, ini gak semuaaaa yaaa, hanya oknum-oknum tertentu aja.

Banyak hal sebenernya, yang bisa memicu seseorang jadi sombong:


1. Masa lalu yang kelam, seperti Ellen

Tentunya setelah ia sukses di masa sekarang, pengen nunjukin ke orang-orang di masa lalunya, bahwa ia pun mampu bertahan dan berkembang pesat.


2. Diremehkan orang lain

Tanpa sadar ya, ketika kita sedang diremehkan orang lain, di satu sisi manusia kita, tuh pengennya nyombongin diri kita juga akhirnya. Misal nih, ada temen yang ceritain, ini loh bisa beli barang bermerk A. Ehh lah kok kita kepancing, buat ngomong juga, "Eh guwe juga beli tuh tas merk B, harga sekian".

3. Keberhasilan yang terlampau cepat

Sukses dalam usia muda, siapa yang gak mau? Tapi hati-hati, bisa jadi ini memicu sifat sombong keluar? Karena gak mudah, menahan diri untuk tetap rendah hati, ketika kita melesat begitu cepat, sementara teman-teman seusia masih jauh di bawah.


Don't Judge A Book By Its Cover


Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan orang lain sombong. Belum tentu benar. Kita aja kalau dijudge orang lain, juga belum tentu mau kan?

Seperti artis Ayu Azhari, yang kalau di set film, dianggapnya sombong, karena gak mau ngobrol sama rekan sesama artis lainnya. Setelah saya dengar info dari seorang sutradara yang saya kenal, ternyata Ayu Azhari dari mulai masuk set film itu dia udah masuk ke dalam karakter apa yang dimainkan. Nah untuk menjaga supaya ia bisa tetap menjaga karakternya, maka ia gak ngobrol dengan siapapun sebelum ia beradegan sesuai scenenya.

Begitupun saya nih, kalau ketemu orang baru, saya cenderung diam dulu. Mmm mungkin gak sekedar sombong tapi jutek 😝

Ellen pun, masih mending ada yang bilang sombong, karena ada komentar yang bilang ia jahat. Jahat tuh dalam bayangan saya kayak seseorang yang melakukan kriminal.

Yang pasti, kita gak bisa ngendaliin juga sih, orang mau nilai kita seperti apa. Mending kendaliin pikiran kita aja yuk, biar gak gampang kasih judgement ke orang lain, karena seseorang berbuat sesuatu di masa kini, itu artinya juga ada background di masa lalu yang mempengaruhi.

Gimana, teman-teman punya pendapat tentang hal ini? Atau ada yang mau disombongin? Boleh sokk komentarr ajaa, nanti kita berbalas komen saling sombong menyombongkan diri masing-masing yuk 😄


Covidiot, Istilah Baru Di Masa Pandemik Covid 19, Yay or Nay?



COVIDIOT, ISTILAH APA INI?


Pastinya, istilah  baru ini muncul secara viral di era pandemik corona covid 19 seperti sekarang ini. Bahkan sudah muncul definisinya di urban dictionary, dimana Covidiot punya arti yang merujuk pada seseorang yang mengabaikan keamanan dan kesehatan publik, orang-orang yang melakukan penimbunan barang atau bahan makanan, hingga mereka yang gak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Dari pengertian Cividiot diatas, coba yuk tanyakan ke diri kita sendiri, jangan-jangan kita termasuk Covidiot nih?

CIRI-CIRI COVIDIOT


Istilah ini makin dikenal, setelah beberapa public figure, melakukan aktivitas yang disebut netizen sebagai Covidiot. Seperti kakak beradik Kylie & Kendall Jenner, yang masih asyik bepergian kesana kemari, atau beberapa pemain sepak bola tim Arsenal yang juga kena semprotan warganet karena dinilai gak taat dengan peraturan pemerintah setempat dalam rangka menghadapi Covid 19.

Parahnya lagi, seperti Kylie Jenner, mengupload ketika bepergiannya dari satu tempat ke tempat lain ini di sosial medianya. Hal inilah yang memicu kemarahan publik.

Sekarang kamu cek nih, ada beberapa ciri-ciri Covidiot, yang siapa tahu ternyata kamu termasuk didalamnya 😌

1. Penimbun Barang

Kalau kamu, termasuk yang pernah atau justru sekarang sedang melakukan aksi borong kebutuhan pokok, dan juga kebutuhan urgent para tenaga medis seperti masker dan hand sanitizer yang sebenarnya dibutuhkan banyak orang, artinya kamu seorang Covidiot.

2. Nekad Mudik

Di tengah larangan pemerintah untuk mudik, kamu tetap ngotot untuk mudik. Alasan kangen orang tua di kampung, atau pengen merasakan lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya, artinyaa yeee ini juga termasuk ciri covidiot sejati.

3. Nongkrong

#dirumahaja, ini sebenarnya hal yang bisa kita lakukan, untuk meredam virus corona covid 19 ini. Kecuali, memang kita masih punya pekerjaan yang menuntut kita harus keluar rumah, seperti misalnya para tenaga medis dan seluruh elemen yang berkaitan.

Apalagi kalau pergi, untuk hal yang gak penting, seperti nongkrong, ngopi-ngopi cantik bareng teman-temanmu? Ya elahhh, emang gak ada waktu lain apa? Tunggu semua reda dulu, apa gak bisa? Kelakuan semacam begini nih, egois banget.

4. Jorok

Tetap aja jorok, jarang mandi, gak mau bebersih rumah, setelah sampai rumah dari bepergian gak mau ngikutin prosedur bebersih sesuai standar penangan covid 19, hal-hal inilah yang membuat virus makin lama hilangnya.

5. Ketika Urgent Harus Pergi, Gak Pakai Masker

Sekarang udah banyak alternatif masker yang bisa dibuat sendiri dengan beragam cara, baik itu yang dijahit ataupun enggak. Kalau ada budget lebih, juga bisa beli masker kain yang sekarang banyak dijual. Intinya, akses masker sekarang bisa kita dapatkan. Bahkan kita bisa donasi masker ke orang-orang yang membutuhkan. Jadi, gak ada alasan sebenarnya sekarang kalau gak pakai masker ketika kita di tempat umum. Bahkan WHO sekarang juga sudah mendukung semua orang untuk memakai masker ketika harus bepergian ke luar rumah.

TELAAH TERMINOLOGI COVIDIOT, LAYAKKAH SECARA MORALITAS?


Sumpah, jujur ya, saya sebenernya agak gak nyaman dengan sebutan Covidiot ini. Di satu sisi, ya setuju aja sih, terutama ketika gemes dengan tingkah sebagian orang yang masih saja acuh dengan pandemik yang sedang terjadi. Tapi di sisi lain, sisi lain diri saya, semacam menolak istilah ini.

Hal ini sama seperti penyebutan autis ke orang yang jarang bergaul atau cuek dengan sekitarnya, ya ini becandaan, tapi ternyata ini bikin gak nyaman para orang tua ataupun pakar anak yang sehari-harinya menangani anak-anak dengan diagnosa autis.

Dilansir dari health detik, istilah idiot sebenarnya sudah tidak dipakai di dunia medis untuk menyebut anak-anak yang memiliki kelambanan menangkap respons baik secara motorik, kognitif, sosial dan bahasa. Dengan pertimbangan ini, apakah secara terminologinya, istilah Covidiot ini layak secara moralitas?

Kalau kamu gimana, setuju gak dengan pemakaian istilah covidiot ini?

Diluar setuju atau gak setuju dengan istilah ini, saya yakin kita semua setuju dan berdoa, semoga pandemik corona covid 19 ini segera berlalu. Amin.






Review Film Antrum, Beneran Seram dan Mematikan?

Akhir-akhir ini, viral sebuah film yang disebut-sebut punya daya magis tersendiri dan bisa menciderai para penontonnya, Antrum, The Deadliest Film Ever Made

Di channel youtube para youtuber yang sering membahas hal-hal supernatural ataupun konspirasi, seperti Nessi Judge, Hirodata Radifan, Nadia Omara ataupun Yuvi Phan, ramai dengan komentar minta informasi tentang film Antrum yang misterius ini.

Ya secara Mak juga suka ya nonton-nonton film yang ada aroma-aroma horornya, otomatis rasa penasaran muncul tentang hebohnya aneka spekulasi tentang film Antrum ini.

Spekulasi tentang apa?

Entahlah, lebih baik menyebutnya sebagai spekulasi atau asumsi ya? Dengan mengambil tagline, The Deadliest Film Ever Made, film Antrum semacam ingin menegaskan ke calon penonton, ini nih film paling mematikan dan mengerikan yang bakal kalian tonton!


Rumor yang Beredar tentang Film Antrum


Okey, yang bikin film ini jadi viral, sebenarnya adalah karena beragam pemberitaan serba creepy yang menyelimuti film Antrum.

Utamanya, film Antrum ini disebut-sebut sebagai film yang mematikan. Ada yang menyebut kalau setelah nonton film ini, akan dilanda kecemasan mendalam, ketakutan bahkan kematian.



Di banyak komentar yang penasaran dengan film ini, pertanyaan yang muncul adalah, "Nonton Antrum gak papa ya?". "Aku mau deh nonton, tapi ramai-ramai sama temen-temen". "Kak, setelah nonton itu apa yang terjadi".

Ya ya ya, karena Mak penasaran, dan percaya namanya kematian itu ya bisa datang kapan saja, bukan cuma gegara nonton film, jadilah akhirnya Mak nonton ye, untuk ngecek sih, apakah rumor yang beredar tentang betapa seremnya film tersebut, emang beneran seremmmm?


Sinopsis Film Antrum 


Sekitar 9 menit awal film ini, diisi dengan aneka warning tentang bahaya menonton Film Antrum, bahkan digulirkan juga informasi yang dipercayai sebagai fakta, meninggalnya puluhan orang dimana tempat mereka nonton Antrum ini, meledak. Dipercaya juga, beberapa orang lainnya yang terlibat dalam proses screening film juga meninggal mendadak.

Ya ya ya, boleh percaya, boleh enggak.

Tapi yang pasti, film ini menceritakan hal yang sederhana banget sih, yaitu tentang seorang anak bernama Nathan yang sedih dengan kematian Maxine, anjingnya.

Ibu Nathan menyebutkan bahwa Maxine masuk neraka, inilah yang membuat Nathan sedih, sampai selalu terbawa mimpi buruk tentang kematian Maxine.

Melihat hal tersebut, Oralee, kakak Nathan, mengajak Nathan untuk memanggil *soul* Maxine, supaya Nathan gak sedih lagi. Caranya adalah menggali lubang di sebuah hutan tempat bunuh diri, karena disitulah pintu masuk ke Antrum, yaitu jalan ke neraka dengan berbagai lapisan.

Setiap lapisan terbuka, ada kejadian-kejadian yang membuat Film Antrum ini, sepertinya memang ada bumbu-bumbu mistisnya. Benarkah demikian? Lalu apakah mereka berhasil memanggil jiwa Maxine? Hal mengerikan apa yang mereka temui selama berada di hutan tersebut?

Ah ya, nanti dikit-dikit ada spoiler di kesan-kesan Mak setelah nonton film ini aja, sok baca terus sampai kelar ini postingan.


Film Antrum, Mari Kita Cari Dimana Letak Seremnya!


Setiap nonton film horor, Mak selalu siap-siap nih, kira-kira ntar seremnya muncul pas bagian apa ya? Seperti ketika nonton Conjuring atau Anabelle, kerasa tuh ya intens banget, bikin deg-deg-an, bikin penasaran, bikin dikit-dikit nutup mata pakai tangan, jadi nontonnya sambil ngintip di balik jari jemari 😜

Nah, terus apa yang terjadi pas Mak nonton film Antrum ini? Bagian mana seremnya?

Di awal film, antara warning bahaya nonton film dan sebelum film dimulai, ada sekitar 30 detik hitungan waktu mundur, ini seolah-olah nunjukin ke penonton, untuk make sure, beneran loe mau nonton?

Disini Mak, jujur berharap banyak, wahhh ini kayaknya film beneran serem.

Nonton Sambil Dengerin Pakai Headset, *Bisa Jadi* Serem

Ok, jadi yang bikin serem tuh kalau Mak perhatikan, ada di latar musiknya. Kadang kayak ada bisikan-bisikan di sela-sela musik yang mengalun. Terus ada senandung-senandung perempuan, yang kalau Mak lihat detail lagi, itu juga berasal dari Oralee, kakak Nathan yang sesekali bersenandung untuk menenangkan adiknya.

Kemunculan Simbol-Simbol Satanik

Nah, di film Antrum ini, ada simbol-simbol seperti pentagram, terus ada juga patung dewa kepala kambing, yang mana kemunculannya cukup sering dari awal hingga akhir. Kalau misal ini yang dibilang serem oleh sebagian orang, kenapa buat Mak biasa aja ya? 😑

Apalagi coba deh, di beberapa part, matiin aja suaranya, terus nonton beberapa menit, gak kerasa blassss itu seremnya. Serem enggak, tapi mengganggu iya!



Hal yang Mengganggu & Mengganjal di Film Antrum


Ini nih, 5 list hal apa aja yang menurut Mak mengganggu dan mengganggu di film Antrum:


Ini Film 1979 yang diremake?

Film Antrum yang dipercaya asli, muncul di tahun 1979, tapi karena menimbulkan banyak kematian, akhirnya sengaja dilenyapkan. Nah, lalu di tahun 2018 ini, entah dibuat lagi, atau seperti remake tapi dengan acuan film yang lama.

Kalau kita gak jeli, kita bisa aja anggep kalau film Antrum memang bener-bener film jadul. Film ini memang dibikin seolah-olah film lama, dengan tampilan gambar vintage yang kental. Intinya mah, kita kayak nonton film jaman dulu.

Tapi kalau kita telusuri lebih jauh, dan perhatikan siapa pemerannya, maka kita bisa tau, ini film termasuk baru kok. Wong, pemainnya aja umurannya gak jauh beda dengan yang ada di film. Sebut Nicole Tompkins si pemeran Oralee dan Rowan Smyth pemeran Nathan, paling cuma beda beberapa tahun doang dari ketika mereka memerankan film Antrum.

Kalau memang bener-bener film Antrum ini dibikin tahun 1979, kan ya harusnya pemainnya udah pada tuwir?

Bukan Serem, Tapi Iyuhhhh!

Sumpah ya, menurut Mak, ini film gak ada serem-seremnya. Justu ada beberapa part yang bikin iyuhhhh.  Eh ini bukan iyuh, berdarah-darah kayak film thriller gitu sih, tapi lebih ke hal-hal abnormal yang ada di film ini. Seperti ada salah satu scene seseorang yang bersenggama dengan binatang yang udah mati, meski ini cuma sekian detik, tapi tetep aja buat Mak ini iyuhhhh. Gak banget lah, kalau film yang menyematkan horor, tapi masih ada adegan gituan gak penting!

Musiknya ituuuu???

Mmm musiknya ini loh, kenapa sering banget muncul dan terlalu over sih. Jadi kadang gak pas gitu penempatan musik dengan scene yang tampil.

Tupai Oh Tupai

Ada nih, salah satu bagian dimana ketika Oralee dan Nathan sedang sibuk menggali lubang menuju neraka, muncullah tupai yang dipercaya sebagai jelmaan iblis yang mengganggu. Tapi plis deh, kalau memang mau ada adegan tupai tersebut, kenapa tupainya harus boneka sih? Boneka yang digerakkin seperti stop motion gitu. Sumpah ini aneh banget

Simbol Satanik Lebay

Beberapa scene menampilkan gambar menyerupai manusia yang ada tanduknya, which is itu sering kita jumpai di film-film lainnya, dan dianggap sebagai iblis. Itu bisa loh video si iblis meringis ituuu doang selama kurang lebih 30an detik. Hadeh, buat Mak malah ini aneh. Lebay, overdose! Gak cuma sekali loh scene seperti ini.

Orang-orang terluka?

Nah ini yang Mak juga bingung, di beberapa bagian itu kadang suka diliatin pasangan laki dan perempuan, tanpa busana, berpelukan tapi menangis, semacam mereka ini disiksa, terus akhirnya mereka meninggal dunia. Bingung dah, ini koneksi ke ceritanya gimana sih? Apa cuman buat bikin nakut-nakutin doang?


Kesimpulan Review Film Antrum


Intinya mah ya, ada 2 hal penting tentang film Antrum ini,


Pertama, bukan untuk anak-anak

Karena kalau kalian baca detail lagi postingan ini, ada bagian-bagian yang memang dewasa banget. Meski ada pemain anak-anaknya di film Antrum ini, bukan berarti ini juga aman untuk anak-anak ye!


Kedua, Ngebosenin!

Hwaaaa, jujur kalau bukan karena penasaran dan pengen review film Antrum ini, Mak udah berhenti nonton di 20 menit pertama. Lambatttttt banget alurnya. Sampai ada komen kalau film ini mematikan para penonton karena saking ngeboseninnya.

Udah ya gengs, cukup sekian review film yang baru viral ini, daripada Mak makin nyinyir 😌

Sampai ketemu di review film berikutnya, atau ada yang punya ide Mak nonton film apa yang buat direview?

Review Film Bebas, 90an Banget

Yes, akhirnya nonton juga Film Bebas, karya Riri Riza & Mira Lesmana ini. Gak sengaja nemu di catchplay pas suami lagi nyari-nyari film tembak-tembakan kesukaannya, yang bikin Mak suka muel kalo ikut fokus nontonnya 😑

Film Bebas ini, udah sering Mak lihat trailernya di aneka sosial media. Apalagi sayup-sayup kedengeran lirik lagu Bebas milik Iwan Fals,

Bebas.. Lepas
Kutinggalkan saja semua beban dihatiku
Melayang kumelayang jauh
Melayang dan melayang

Nah kan, ada yang sambil baca terus ikutan nyanyi juga? Weeii itu berarti kita satu angkatan 😚

Film Bebas, Adaptasi Film Sunny 2011


Yang awalnya bikin Mak belum tertarik nonton Film Bebas ini adalah, karena ini film korea. Semacam anti gitu. Eh tapi setelah nikmatin banget nonton drama korea Go Back Couple, kok Mak jadi penasaran sama Film Bebas ya, secara ini film kan adaptasi dari Film Korea berjudul Sunny yang tayang di tahun 2011.



Setelah Mak cari tau, ternyata Film Sunny ini gak sembarang film. Menang pula di aneka penghargaan, salah satunya Grand Prize for Film dalam "Korean Culture and Entertainment Awards" ke-19 serta Content of the Year Style "Icon Awards" ke-4.

Saking fenomenalnya film Sunny ini, sampai di-remake dalam versi berbagai negara. Seperti versi Jepang (Sunny: Strong Mind Strong Love - 2018) dan Vietnam (Go Go Sisters - 2018). Bahkan Hollywood juga katanya bakal ikutan adaptasi juga film Sunny ini, tapi sampai Mak nulis sekarang ini, belum ada info lebih lanjut sih tentang apakah film itu bakal tayang kapan.

Sinopsis Film Bebas


Film ini menceritakan tentang seorang anak baru bernama Vina Panduwinata, eh apaaaa? Vina penyanyi itu? Mungkin karena orang tua Vina ngefans banget sama si pelantun Burung Camar itu, maka jadilah nama tersebut disematkan persis ke anak perempuannya. Di filmnya sendiri, Mak gak nemuin sih asal muasal kenapa nama tersebut akhirnya dipilih jadi nama panjang Vina.

Tapi intinya, di film Bebas ini, kita bakal lebih fokus dengan sajian tentang persahabatan Vina dengan teman-teman 1 gengnya, yang bernama Geng Bebas.

Sebenarnya Vina adalah anak Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, disinilah dia bertemu teman-teman barunya, seperti Jojo, Jessica, Gina, Suci, dan Kris. Jangan bilang, kalau nama panjang Kris adalah Kris Dayanti? Yes, ternyata begitulah. Mungkin nama-nama itu diambil, karena memang hits banget di masanya.

Bersama Geng Bebasnya inilah, Vina bersama teman-temannya, mengarungi aneka persoalan, baik di dalam geng mereka sendiri maupun masalah dengan geng lain. Sampai pada titik, mereka harus berpisah karena sebuah masalah besar.

25 tahun kemudian, barulah Vina bertemu kembali dengan Kris. Lalu drama sesungguhnya mulai terjadi. Hingga Vina bisa menemukan semua teman-teman masa SMAnya itu.

Bumbu-bumbu jatuh cinta Vina pada pandangan pertama dengan seseorang, juga hadir di film ini. Ya, kalau istilah anak muda jaman now, disebut sebagai gebetan gitu lah. Apakah Vina nantinya akan jadian sama gebetannya ini?

Nah, terus apa masalah besar yang sampai memisahkan Geng Bebas selama puluhan tahun? Atas dasar apa Vina menemukan teman-temannya kembali?

Wah wah wah, kalau detail dan lengkapnya, mending nonton aja ya gengs. Mak disini, lebih pengen ngereview, ke apa yang Mak suka dan kurang suka dari film Bebas, sebuah karya sutradara Riri Riza & penulis skenario Mira Lesmana, yang digadang-gadang bisa tembus 1 juta penonton.

Review Film Bebas ala Emak Eksis

Dalam sebuah review youtuber tentang film Bebas ini, disebutin kalau film ini cocok buat para angkatan 90-an. Bisa jadi benar. Dari mulai ngakak, gemes, terharu, sampai ngakak lagi, Mak bener-bener terhibur dan nikmati banget nonton film Bebas.

Mak kasih score 8.5 deh buat Film Bebas. Artinya Mak memang suka ini film. Bagian apa aja yang bikin Mak kesengsem dengan remake Film Sunny versi Indonesia ini?

1. Setting 90-an yang kental!

Dengerin radio dan sekaligus request lagu ke radio, dengerin musik pakai walkman, ngunyah permen karet, pakai bandana sebagai aksesoris atau iketin slayer ke leher, gaya-gaya 90-an ini yang Riri Riza berhasil hadirkan di Film Bebas.

Rasa 90-annya otentik banget, kental!

Bahkan ada bahasa G yang konon ngetrend banget di kalangan anak muda Jakarta. Duh ya, Mak dulu tinggal di desa yang jauh dari hingar bingar ibukota, mana ngerti bahasa G yang juga ada di Film Bebas.

Secara setting sendiri, sebenarnya Film Bebas agak berbeda dengan Film Sunny yang mengambil era sebelum 1990, tepatnya saat kerusuhan di Korea. Nah, Film Bebas lebih memilih ke era sebelum gejolak ekonomi terjadi di 1997-1998, jadi sudah ada tuh selentingan tentang pergerakan para mahasiswa, tapi belum sampai ke terjadinya demo besar-besaran yang meminta penguasa waktu itu turun dari pemerintahan.

Setting 90-an juga tampak dari bahasa panggilan akrab, seperti "Nyet, sini loe Monyet", yang bagi anak 90-an di kota-kota besar ini jadi hal yang lumrah aja. Deh, coba kalo sekarang, panggil nama temen pakai Monyet, bisa perang saudara 😅


2. Lagu-lagu yang Asik!

Sumpah, sebagai salah satu manusia yang besar di era 90-an, lagu-lagu di film Bebas ini, memang keren-keren banget! Terutama lagu soundtrack utamanya, yaitu Bebas, karya Iwa K, yang diremix sedemikian rupa, dan tetepppp keren. Di endingnya kan ada tuh ya semua cast nyanyi dan nariin lagu Bebas ini, duhhh ini keren banget! You must never skip the ending!

3. Akting yang Mumpuni


Satu yang saya yakin, Riri Riza & Mira Lesmana tiap bikin film, gak bakal asal milih pemeran di film mereka, ini juga yang terlihat jelas di film Bebas. Ada beberapa karakter yang benar-bener mencuri perhatian. Mak list dari nomor 1, artinya ini yang paling bikin Mak terpesona sama aktingnya yes!

a. Sheryl Sheinafia 

Perannya sebagai Kris muda, really great! Tomboy sekaligus kharismatik, cakep banget, totalitas! Sosok leadershipnya bisa muncul banget gitu di diri Sheryl.

Penyanyi lagu Sweet Talk ini berhasil banget membawakan karakter Kris yang memang hadir sebagai pelindung teman-teman 1 gengnya. Saya berharap ada produser atau sutradara film yang melirik Sheryl jadi pemeran utama gitu suatu hari. Good luck for you, Sheryl!

b. Reza Rahadian

Bagi yang pengen bully silahkan, secara pasti banyak yang eneg ya dengan penampilan Reza hampir di setiap film Indonesia.

Tapi sumpah, disini Mak cukup apresiasi banget kemunculan Reza. Meski gak terlalu banyak scenenya, persis cuma seuplik doang dia munculnya, pas di scene-scene terakhir, tapiiii aktingnya josssss! Ini bukan Reza yang ala-ala perayu ulung nan romantis seperti beberapa filmnya ya, tapi menyuguhkan Reza dalam bentuk akting lain yang layak tonton.

Apa mungkin, baiknya Reza muncul di tiap film tuh dikit-dikit gini aja, biar gak pada eneg? 😜

c. Baskara Mahendra

Dari beberapa nominasi yang didapatkan film Bebas, baru si pemeran Jojo muda, yaitu Baskara Mahendra ini nih yang mendapatkan penghargaan, yaitu sebagai Aktor Pendukung Pilihan Tempo 2019.

Ya, aktingnya memang keren sih, gokil! Gaya-gaya Jojo yang sering disebut *banci* oleh teman-teman sekolahnya karena ia lebih sering hangout bareng gengnya yang berisi perempuan semua, bisa dibawakan Baskara Mahendra dengan sangat baik.

Saya juga berharap, someday Baskara bisa dapet film keren yang ngasah aktingnya lebih dalem lagi, plus jadi pemeran utama.

d. Maizura

Sebagai pendatang baru, dan jebolan ajang The Voice, Maizura memikat saya di adegan kesurupan dengan bahasa Sunda. Bagi sebagian orang Sunda yang saya kenal, mereka juga kagum dengan Maizura yang bisa cukup baik membawakan dialek tersebut. meski bukan asli Sunda.

Akting Maizura sebagai Vina, juga cukup apik ketika ia berlaku sebagai remaja yang malu-malu dan kagok ketika ketemu gebetannya, tapi mungkin masih perlu mengolah emosi sedih dan marahnya, yang masih kurang dapet di beberapa scene yang menuntut emosi meledak-ledak.

Ayo Maizura, kamu bisa! Kesurupan aja bisa kerennnn kok, pasti akting lainnya pun kamu bisa pelajari lebih!

e. Indy Barends

Petjahhhhhh! Ini yang bisa saya bilang dari akting Teh Indi di film Bebas ini. Gak salah deh pokoknya Indy Barends terpilih memerankan Jessica. Pas banget gitu karakternya, ceriwis, bawel, sok cantik, suka dandan melulu. Top!!!

Mak gak ngebayangin kalau karakter Jessica dikasih ke pemeran lain, belum tentu bisa seasik ketika Indy Barends ngebawain karakter tersebut.


Selain itu ada Darius Sinathrya, si papa cakep, yang disini pun jadi sosok papa gitu, sayangnya cuma bentarrr doang, kan sayang, cakep-cakep cuma tampil bentar? 😘

Pemeran lainnya juga ada Irgi Lupus, Sarah Sechan, Daan & Tika P Project, Oka Antara, Brandon Salim, Widi Mulia, Jefri Nichol dan tentunya Marsha Timothy yang berperan sebagai Vina dewasa.

Mmm tapi maaf nih Jeng Marsha, kok aktingnya di Film Bebas ini, B ajaaaa ya, kurang greget gitu, emosinya kurang dapet. Atau memang karena disini karakter Vina memang lempeng gitu ya? Ah entahlah, tapi Mak berharap lebih sebenernya.

Film Bebas Gak Tembus 1 Juta Penonton, Tapi.....


Jadi apakah film Bebas ini, bisa tembus 1 juta penonton?

Apalagi dengan mengusung nama besar, dan malah skenarionya pun bukan hanya Mira Lesmana yang kerjakan, tapi juga Gina S Noer, sosok penting di balik meledaknya Film Ayat-Ayat Cinta & Dua Garis Biru.

Mmm, sayangnya enggak. Paling gak itu yang Mak baca-baca dari beragam artikel di media. Meski film ini termasuk viral, maksudnya yaaa cukup banyak lah yang ngomongin, tapi ternyata gak bisa tembus 1 juta penonton.

Jujur Mak pun kaget, masa sih film sekelas Riri Riza & Mira Lesmana gak bisa tembus 1 juta penonton di bioskop? Apa yang kurang? Promo juga terbilang jor-joran di media apapun, bintang-bintang yang main pun orang-orang ternama.

Meskipun muncul komentar seputar kurang rapihnya dari sisi teknis seperti cut to cut atau proses editing yang kurang pas, menurut Mak, Film Bebas ini sudah berhasil membawa suasana asik saat nonton sih. Gak ngebosenin. Bener-bener bikin penasaran dari awal sampai akhir. Mak sendiri, gak terlalu terganggu dengan konsep pengambilan gambar ataupun editing.

Bagi Mak, kunci film itu keren atau enggak, ada di alur cerita (naskah) dan juga musiknya, dan tentu akting para pemerannya, ada yang menonjol gak, ada yang menarik perhatian gak? Ini udah cukup sih, meski ada juga nih beberapa yang agak bikin ngeganggu, yaitu di sisi beberapa dialognya.

Dialog Film Bebas Terlalu Mirip Dengan Sunny, Film Aselinya? 

Satu-satunya kritikan Mak untuk film ini adalah di unsur dialognya, yang terlalu banyak yang mirip dengan film aselinya. Ya, ini sih yang mami amati dan rasakan ketika nonton kedua film ini. Dialognya yang hampir sama persis, begitupun dengan alur cerita dan peristiwa yang melingkupi karakter-karakternya pun juga teramat mirip.

Sebenarnya, mami berharap, untuk dialog mungkin bisa benar-benar berbeda. Cukup adaptasi dari persahabatannya saja. Ternyata, sampai dari sisi dialog, hampir benar-benar mirip. Seperti misalnya, ketika Vina menjenguk ibunya di rumah sakit, ibunya menunjukkan ke sesama pasien yang satu kamar dengannya, hadiah mahal yang diberikan menantunya, yaitu suami Vina. Beda dengan Sunny, adalah di sisi merknya. Lalu ketik Vina menjenguk Kris, ada kalimat sama yang diucapkan, seperti sisa umur Kris yang tinggal 2 bulan. Dan masih banyak lagi sebenarnya, untaian kalimat di Film Bebas, yang mirip banget dengan film aselinya.

Meski Ada Kritikan, Film Bebas Bisa Dikatakan Berhasil!


Yang membuat film Bebas ini bisa dikatakan berhasil, sekalipun gak tembus 1 juta penonton, adalah dengan ragam nominasi yang didapatkannya,

  • 4 nominasi Indonesia Movie Actors Awards 2020 
  • 9 nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2019 
  • 11 nominasi Piala Maya 2019 
  • 3 nominasi Film Pilihan Tempo 2019 & Baskara Mahendra (pemeran Jojo) berhasil meraih Aktor Pendukung Pilihan Tempo 2019 


Selain itu, Film Bebas juga berhasil masuk sebagai salah satu film yang diputar di luar negeri, tepatnya di Hiroshima International Film Festival, sebuah festival film tertua di Hiroshima, Jepang. Bahkan sutradara Film Bebas, Riri Riza yang ikut hadir saat pemutaran film, juga mendapatkan kehormatan sebagai salah satu juri International Short Film Competition dalam Hiroshima International Film Festival 2019.

Lagipula nih ya, sebuah karya film dikatakan sukses, apa harus selalu tergantung dari sisi penontonnya yang tembus 1 juta penonton doang? Macam Si Doel The Movie part terakhir yang bikin Mak emosi saat ngereviewnya? #eh

Wokey gengs, sekian review film ala Emak Eksis kali ini, Mak mau lanjuttt nonton eh masak dulu buat siapin buka puasa hari ini dulu yee. See you next time!







Review Film Horor MAKMUM, A Good Start But...

Akhirnya, berani juga dong saya Mak, nonton film horor berjudul Makmum ini. Entah sudah berapa lama saya lihat film Makmum ini sliwar-sliwer di beragam sosial media. Secara saya suka film horor, jadi yang muncul di timeline saya, seringnya ya film-film mencekam begini. Tapi ya ya ya, nyali untuk nonton film Makmum kok ya gimanaaa gitu.

Film Makmum, Berangkat dari Film Pendek Yang Sukses


Sempat bingung juga awalnya, kenapa di youtube juga banyak judul yang serupa ya? Setelah saya telusuri, ternyata Film Makmum ini berasal dari film pendek, besutan cineas muda bernama Riza Pahlevi, alumni Sekolah Tinggi Multimedia MMTC jogjakarta.



Melalui versi film pendeknya, Makmum memenangkan berbagai penghargaan dari ajang festival film bergengsi, seperti Best Horror di HelloFest 2016, Direction Special Mention di The Crappy International Movies in Sueca (CIM-Sueca) di Spanyol 2016, dan Best Ideas Film and Audience's Favorit di Salatiga Film Festival 2017 (akurat.co).

Dari beberapa wawacara, Riza menuturkan sempat ragu ketika karyanya ini akan diangkat ke layar lebar, hingga akhirnya di tahun 2019, Makmum versi layar lebar hadir ke para pecinta film horor.


Film Makmum Versi Layar Lebar, Mendapat Penghargaan MURI


Menyusul kesuksesan film pendeknya. film horor Makmum ini menyabet penghargaan MURI, karena berhasil menembus box office Malaysia, dengan range pendapatan Rp 19.5 M.

Sewaktu belum nonton film Makmum ini, saya sempat sekilas melihat aneka berita bahwa film tersebut berhasil masuk ke ajang penghargaan, inilah yang bikin saya sudah pengen banget nonton sejak lama, tapi nunggu momen saja. Momen apa? Momen penuh keberanian, wkwkwkk.

Sampai kemudian, pindah ke Jakarta ini, dan mulai pasang indihome di rumah. Sewaktu suami cari-cari film yang mau ditonton, dari dapur saya ngintip-ngintip tuh. Eh ternyata ada film Makmum, langsunglah saya pikir segera nonton aja deh daripada penasaran. Mumpung pas suami di rumah juga kan, gak pas kerja di site luar pulau. Hitung-hitung ada yang nemenin nonton gitu 😆

Sinopsis & Review Film Layar Lebar Makmum

Gak jauh beda dengan film pendeknya, Makmum mengangkat cerita tentang adanya sosok ghaib yang suka menganggu ketika kita sedang sholat, yaitu dengan menjadi makmum. Hanya saja, ketika film pendek diterjemahkan ke layar lebar, tentu butuh banyak penyesuaian.

Berkisah tentang 3 anak yang harus stay di asrama selama musim liburan, karena beberapa alasan. Ada yang karena nilainya jelek, ada yang memang memilih untuk menghabiskan liburan dengan menetap di asrama saja.

Di asrama tersebut, memang sering ada gangguan, yaitu hantu Makmum, yang suka jadi makmum ketika para penghuni asrama sholat sendirian. Nah, ketika liburan, dengan kondisi asrama makin sepi penghuni, intensitas kemunculan sosok hantu tersebut makin menjadi-jadi.

Sampai kemudian datanglah Rini, si pemeran utama yang diperankan Titi Kamal. Rini adalah seorang karyawan yang bekerja di bagian forensik, jadilah perihal ghaib sering ia temui. Tapi kali ini, ketika Rini pindah ke asrama yang dulu pernah ditinggalinya, banyak peristiwa ganjil yang ia temui dan lebih ekstrim daripada yang ia pernah jumpai di tempat kerjanya.

Masa lalu, adalah kunci di film layar lebar Makmum ini. Ketika terkuak, membawa luka mendalam dan sekaligus pintu keluar untuk keluar dari masalah teror hantu Makmum tersebut.

Lalu, gimana kira-kira, apakah film ini layak tonton untuk para pecinta horor? Ok berikut review setelah saya nonton film Makmum beberapa hari lalu, dengan tanpa membaca review dari manapun juga sebelumnya. Pure ini adalah pendapat pribadi saya sebagai orang yang katanya penyuka film horor, tapi cemen kalo nontonnya sendirian 😅



Titi Kamal Berperan Apik!


Film Makmum versi layar lebar ini, adalah debut pertama Titi Kamal bermain horor. She nailed it! Saya bilang, Titi berhasil sih di film ini. Bayang-bayangnya sebagai salah satu karakter di AADC, ataupun cewek-cewek manis manja di beberapa karya yang ia bintangi, gak terasa di film ini.

Titi berhasil memainkan perannya dengan sangat baik di film Makmum ini, bisa mengimbangi aktris senior Jajang C Noer yang juga bermain di film tersebut.


Pemeran Pak Ustadznya, Gak Ada Yang Lain?


Sewaktu adegan Rini mencari ustadz, dalam pikiran saya, Pak Ustadznya ini orangnya lebih tua secara usia, ternyata yang muncul ustadz muda yang diperankan Ali Syakieb. Kalau dulu pernah nonton sinetron Pesantren Rock & Roll, pasti kenal dengan sosok ganteng yang satu ini.

Ketika di sinetron tersebut, bisa dibilang Ali berhasil membawakan perannya dengan baik, apakah ia berhasil juga ketika memerankan sosok ustadz di film Makmum?

Huhuhuhuuuuu, sedih saya, sayangnya enggak. Malah kayak gak match gitu. Bisa jadi karena mungkin yaaaa memang sengaja dipilih Ali Syakieb supaya penonton bisa fresh gituuuu, apalagi penonton para perempuan dan emak-emak.

Tapi ya, karakter Ali kurang keluar kharismatiknya sebagai ustadz, kalo charmingnya ya tentu sudah lah. Apalagi pas bagian menuju ending, ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, sayangnya gak fasih aja gitu. Saya jadi kepikiran, kenapa pas bagian itu gak didubbing aja. Paling gak, kayak ustadz-ustadz di film Suzanna, yang fasih-fasih melafadzkan ayat-ayat Al-Qurannya.


Kenapa Harus Ada Darah Berdarah Sih?


Nah ini dia yang jujur bikin saya langsung ilfill sama versi layar lebarnya. Ada adegan tusuk menusuk segala. Hadeh, padahal alur cerita dari awal dibangun dan dieksekusi dengan baik, tapi kok yaaa pake acara adegan serba darah berdarah gini ya.

Ih benci kali saya Mak, kalo horor disisipi thriller begini, jadi gak sedap lagi rasa horornya!


Awal yang Baik, Tumpul di Eksekusi Menuju Endingnya


Ketegangan sudah mulai disuguhkan dari awal film, rasa penasaran yang dibangun apik, tanpa jumpscare yang berlebihan, begitu pula musik yang bisa dibilang, yaa cukuplah, not bad tapi juga bukan terbaik banget. Sayang, ketika alur cerita sudah begitu bagusnya, menuju ending alurnya semacam terburu-buru, jadi kurang matang gitu di endingnya.

Tapi buat saya pribadi, apresiasi besar banget sih buat cineas muda, Riza Pahlevi, yang berhasil tembus ke kancah perfilman nasional. Melalui karya di film pendek, lalu dilirik untuk diangkat jadi film layar lebar. Semoga hal ini, bisa makin memicu para pembuat film pendek lainnya, bisa lebih berkreasi lebih baik dan bermutu ke depannya.

Harapannya juga, ketika diangkat ke layar lebar, ekspetasi penonton juga terpenuhi, baik dari sisi alur cerita, penokohan dan detail eksekusi karakter dari awal hingga akhir.

Nah Mak, ada yang sudah nonton film Makmum yang diperankan Titi Kamal ini juga? Suka nonton film horor seperti saya tapi aslinya gak berani-berani amat? 😌





Begini Caranya, Berbagi Tugas Domestik Dengan Suami

Sekarang jam 23.12 wib, pengennya udah tidur dari jam 10an tadi, tapi apa daya, klisak klisik sejam lebih kok ya malah gak bisa tidur-tidur.

Pengennya posting di blog ini dari pagi tadi, tapi baru keinget kalo hari ini jadwalnya setrika. Yes, setrikaan yang menggunung sekitar 3 mingguan ini, hwaaaa!

Secara anak-anak gak sekolah, suami gak ngantor, alamatlah jadi males banget tuh pegang setrikaan. Paling setrika yang penting-penting aja buat dipake harian, tapi baju-baju yang lain, gak terasa numpuk.

Tugas domestik memang kalo dirunut, gak kelar-kelar ya Mak. Selesai satu, eeeh ada satu lagi. Intinya mah sambung menyambung menjadi satu kesatuan. Disinilah kadang kita perlu nih, kolaborasi sama suami, kalo perlu sambil nyanyi lagunya KD yang Ku Tak Sangguupppp 😂


Saya & Suami Tidak Dididik Mandiri Sejak Kecil


Saya dan suami, sama-sama diperlakukan serupa di tempat kami tumbuh. Alhasil, ketika awal nikah, saya gak bisa masak, yaaa ada sih yang bisa, tapi yang 1-2 menu aja Mak. Suami pun begitu, gak menguasai hal-hal yang berkaitan dengan rumah, entah itu genteng bocor, benerin keran, dll. Di awal pernikahan kami, belum begitu terasa, wong kami masih LDRan dengan tinggal bareng orang tua kami masing-masing. Tapi begitu kami pernah merantau ke Kalimantan, nahhhh ini, barulah hidup sesungguhnya dimulai.

Meski di rumah mertua, alias Bapak Ibunya suami, perkara cuci piring ini adalah urusan masing-masing, selain pagi sampai siang hari karena masih ada ART pocokan. Namun begitu sore sampai malam, segala kegiatan cuci gelas dan piring, harus dikerjakan sendiri. Tapi selebihnya memang, gak terlalu banyak hal-hal mandiri yang diajarkan ke anak-anaknya, termasuk suami. Semua udah cemepak, alias tersedia.

Otomatis, ketika kami berada di 1 rumah, sama-sama kagok. Bingung ketika ada masalah-masalah tentang rumah yang muncul.

Atas dasar inilah, saya dan suami sekarang mendidik anak-anak kami supaya bisa lebih mandiri. Entah itu belajar bantu cuci dan jemur baju, bahkan untuk setrika baju-baju ukuran kecil. Cuci sepatu dan tas sekolah sendiri, bikin nasi, menyapu rumah, dan beberapa lifeskill yang berkaitan dengan kegiatan di rumah.



Saatnya Bagi Tugas!


Belajar mandiri selama betahun-tahun, membuat saya dan suami seperti anak sekolahan di bidang perumahtanggaan. Saya berkembang bisa masak aneka masakan, yaaa minimal seminggu itu saya usahakan beda-beda menunya. Begitupun suami, bisa benerin keran, bantuin benerin selang mesin cuci yang sempet bermasalah, dll.

Dannn beneran deh Mak, berbagai tugas domestik sama suami tuh penting banget. Seperti hari ini,
saya yang uplek dengan setrikaan segunung, suami yang siapin makan siang, masak martabak telor buat saya dan anak-anak, sekalian saya minta tolong bikin nasi juga.

Hal seperti ini pun bisa berlangsung, kalo suami pas di rumah. Kalo pas udah berangkat kerja di tempat kerjanya di lain pulau, ya mau gak mau saya harus kerjakan semua sendiri.

Kenapa gak setrikain di luar aja? Waktu sebelum corona merebak, masih tuh saya punya laundry langganan buat setrika. Tapi sekarang, duh masih parno, jadi mending saya kerjakan aja sendiri. Ya pastinya capek, mana ada setrika 1 keranjang besar penuhhh itu gak capek 😌

Lalu, kapan saatnya kita bagi tugas domestik sama suami?

Tentunya saat kita ngerasa gak sanggup, Mak. Bilang terus terang secara baik-baik, komunikasikan. Gak usah gengsi. Utarakan aja sejujurnya.

Kalo perlu, pake manja-manjain dikittt Mak. Gimanapun naluriah laki tuh ya, suka sama yang manja-manjaaa, meski kadang gengsi doi liatin ke kita terang-terangan 😉

Manfaat Berbagi Tugas Domestik Dengan Suami

Gini Mak, kita perempuan memang dibilang sosok manusia kuat luar biasa. Bisa ngebrojolin anak, bisa nyusuin, lantas dianggep sebagai manusia perkasa. 

Tapi ya tapi,

Tetep aja kita ini manusia biasa, butuh bantuan orang lain, termasuk suami kita sendiri. 

Sejak saya bisa mulai terbuka ke suami supaya ikut bantu tugas domestik, berikut beberapa manfaat yang saya dapatkan:

1. Lebih nyaman

Pasti ini ya, nyaman adalah puncak sehatnya mental seseorang. Dengan suami bersedia membantu pekerjaan rumah tangga, meski gak sebanyak yang bisa kita lakukan, ini bisa membuat kita jadi lebih nyaman, baik ke diri sendiri maupun ke suami, bahkan ke anak-anak.

2. Punya waktu memoles passion

Suami kalo pas jatahnya off dari pekerjaannya, gak canggung-canggung ambil sapu buat nyapu rumah, sementara saya masak buat nyiapin sarapan di pagi hari. Padahal di rumah orang tuanya sendiri, boro-borooo tuh suami pernah nyapu juga kapan? 😅

Nah, ketika suami juga membantu di beberapa hal lainnya, saya jadi bisa punya waktu lebih banyak buat menulis di blog, edit podcast ataupun video. 


3. Hubungan makin harmonis, makin saling menghargai

Dengan suami ikut terjun di urusan rumah, ia juga jadi belajar menghargai kalo ternyata istrinya ini, yang kelihatannya cuma IRT doang, ternyata capek juga ya. Kapan hari, suami membersihkan rumput yang mulai tinggi di halaman depan rumah. Keringetan maksimal dong. Keliatan banget capeknya.

Disini pun, saya juga belajar menghargai. Sesedikit atau sebanyak apapun bantuan suami untuk urusan rumah tangga, saya selalu ucapkan terimakasih. Iya Mak, gak usah gengsi bilang makasi ke suami. Terimakasih adalah sebuah proses suami istri untuk saling belajar menghargai satu sama lain.

Nah, gimana Mak, punya cerita jugakah seputar berbagi tugas domestik dengan suami?





Ketika Si Kakak Iri Dengan Si Adik

Kenali Anak, Ketika Berbeda dari Biasanya


"Kakak kenapa, kok beberapa minggu ini beda sikapnya ke Adik?". Pertanyaan pembuka saya ketika ngobrol dengan Ical, si sulung yang masuk 13 tahun bulan Maret kemarin.

Pertanyaan saya ini muncul, karena saya perhatikan, Ical jadi serba sewot dan uring-uringan ke Sasha, adiknya yang masih berusia 8 tahun. Begini ya punya anak usia remaja, ketika faktor hormonal makin berpengaruh ke sikap sehari-hari si anak.

Perubahan lainnya, saya amati Ical kelihatan gak tenang, beda gitu Mak seperti biasanya. Ini bocah biasanya yang paling tenang, paling cool di rumah. Jadi penasaran kan saya, ini kenapa ya? Apa bener, karena faktor hormonal ABG? Apa karena hal lain?

Ical memang cukup berbeda karakter dengan Sasha, adiknya. Meski keduanya sama-sama suka cerita apapun ke saya tanpa disuruh. Perbedaannya Sasha jauh lebih ekspresif dan lebih cepat berceritanya. Sementara Ical, seperti butuh waktu sesaat, berpikir dulu, baru dia akan bercerita.

Sebagai orang tua, kita perlu hapal dengan pola-pola anak ketika sedang berbeda. Mungkinkah ada masalah? Mungkinkah ada hal yang menganggu pikirannya?

Ketika Anak Tampak Berbeda, Ayo Komunikasikan


Inilah yang langsung saya lakukan, bicarakan langsung ke Ical, heart to heart, saat kami sedang berdua.

Saling berkomunikasi artinya berbicara 2 arah. Bukan kita yang menggurui, tapi memberikan ruang untuk si anak ikut berbicara, mengutarakan isi hati dan pikirannya.

Komunikasi seperti ini, sudah saya bangun sejak anak-anak balita. Saya sampai hapal dengan gerak mata dan gerak tubuh anak-anak, ketika mereka mau menyampaikan hal penting atau sekedar ingin sharing hal-hal lucu versi mereka.

Salah satu ciri kita berhasil membangun komunikasi ke anak adalah, anak-anak bersedia dengan sendirinya cerita ke kita, sharing pendapatnya maupun cerita aneka hal tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya.

Di era saat ini, menurut saya membangun komunikasi ke anak sedini mungkin, sangatlah penting. Kita bukan lagi tinggal di era jaman dulu, dimana ada sekat antara orang tua dengan anak.

Membangun komunikasi ke anak, artinya juga membangun jembatan kepercayaan. Ketika anak percaya ke kita sendiri sebagai orang tuanya, maka ia pun akan suka hati dan suka rela cerita apapun ke kita. Pernah terpikir Mak, kalau anak-anak gak cerita ke kita, terus ke siapa lagi? Ikhlas apa kita, kalau anak-anak lebih memilih galau marah-marah di sosial media karena ide dan pemikirannya gak ada yang bisa nampung? Lebih parahnya, ketika anak lebih percaya bercerita ke orang lain dibanding kita sebagai orang tuanya?

Ternyata, Ini Akar Masalahnya


Setelah perbincangan cukup mendalam dengan Ical, ternyata ada 1 titik temu permasalahan yang mengusik pikiran Ical. Sikapnya yang berbeda ke adiknya akhir-akhir ini, dipicu karena Sasha beberapa kali berhasil lolos casting pengisi suara serial animasi dan iklan.

"Aku belum bisa kayak Sasha Bun", ujarnya.

Masya Allah Nak, ternyata ini kerisauanmu beberapa waktu terakhir ini, tho.

"Kakak kan baru bangun channel youtubenya sendiri. Ini memang gak bisa cepet kak, tapi percaya deh, suatu hari juga bakal besar channel kakak", ujar saya menyambut keresahannya.

Perbincangan cukup alot sebenernya, tapi setidaknya saya bisa melihat ekspresi wajah Ical yang semula tegang, menjadi kendur dan lebih rileks dari sebelumnya. Ya, ini semua karena ia bisa bercerita.

Saya meyakini, ketika anak bisa belajar mengungkapkan apa yang berkecamuk di dirinya, ini sehat untuk batinnya. Saya sendiri mengalami tumbuh jadi remaja yang gak bisa menuangkan isi hati dan pikirannya, apa-apa dipendam sendiri, dan di satu masa, meledaklah. Detail boleh silahkan kunjungi podcast di link berikut ini ya untuk cerita selengkapnya >>> Podcast Emak Eksis Episode RUMAH.

Melatih Anak Mengelola *Cemburu* ke Saudara Kandungnya


Cemburu  atau rasa iri yang Ical alami, tentunya pernah dialami anak-anak lain seusianya. Cemburu dalam konteks iri karena saudaranya bisa jadi ia anggap lebih sukses dalam suatu hal, atau mungkin merasa adik/ kakaknya tampak mendapat perlakuan lebih dari orang tuanya.

Cemburu atau Iri Boleh Saja, Asal Sehat

Mmm, sehat gimana?

Cemburu karena seseorang lebih sukses dari kita, ini sebenarnya hal yang bagus, artinya kita punya kemauan untuk berkembang. Begitu pula dengan anak-anak, ketika mengalami hal ini, baik tertuju ke saudara sendiri ataupun teman-temannya di sekolah.

Tapi tentu saja, ada koridornya. Ketika gak kita kelola dengan baik, maka jatuhnya bikin uring-uringan, malah hanya melihat seseorang tersebut dari sisi negatifnya saja. Sementara ketika kita kelola dengan baik, maka ini semacam stimulasi untuk makin meningkatkan potensi diri lebih baik lagi.

Apalagi usia Ical, usia remaja, dimana masa *keakuannya* sedang merambat naik. Kebutuhan akan pengakuan apa yang dikerjakan, sangat dibutuhkan. Jadi wajar, jika Ical sempat merasa gak nyaman dengan dirinya sendiri ketika belum berhasil mengelola cemburunya ke adiknya.


Tiap Anak Berbeda, Latih Potensinya


Ketika anak-anak merasa cemburu dengan kemampuan lebih dari saudara kandungnya yang gak dimilikinya, inilah saatnya kita bicarakan dan ulang-ulang. Kadang gak bisa sekali untuk meyakinkan anak tentang sesuatu. Butuh berkali-kali, dan biasanya lebih mengena ketika kita hanya bicara berdua dan di suasana si anak sedang rileks.

Di saat seperti ini, barulah kita bisa sampaikan, bahwa tiap anak punya kemampuan berbeda. Ical tau benar tentang hal ini, karena kami sudah sering bahas, tapi ternyata ia terpicu juga karena melihat Sasha berhasil dapet job ini itu.



Ical dan Sasha itu ibarat sebuah film layar lebar. Sasha berada di depan layar, dan Ical berada di belakangnya. Begini saya mengistilahkan ke Ical. Betapa dirinya juga punya potensi sama besar seperti Sasha. Terutama setelah bertahun-tahun melihat kecenderungan kedua anak ini, saya makin paham tentang minat mereka berdua, yang *tampak sama* tapi tetap ada benang merah yang sangat berbeda.


Apa Pentingnya Mengelola Rasa Iri Anak ke Saudara Kandungnya?


Sangat penting pastinya ya. Kalau gak dikelola, maka ini akan mengganggu hubungan mereka sebagai kakak adik di masa depan. Salah satu pesan Bapak almarhum, namanya saudara itu rukun, kompak, hindari permusuhan apalagi perpecahan.

Hal tersebutlah yang mendasari saya, membangun koneksi kedekatan itu bukan melulu dari orang tua ke anak ataupun sebaliknya, tapi antar anak dengan saudara kandungnya pun juga penting.

Dengan mengelola rasa iri dan cemburu ke saudara kandung sendiri, ini juga sekaligus melatih toleransi diantara anak serta membantunya belajar mengenali kemampuan saudaranya berikut dengan kemampuannya sendiri yang berbeda, yang gak bisa disama-samain.

Dengan saling menghargai kemampuan masing-masing, Insya Allah ini juga jadi modal anak-anak kita, lebih memahami saudara kandungnya dan mengeratkan tali persaudaraan diantaranya.

Yang perlu kita ingat, kita sebagai orang tua, gak mungkin bisa mendampingi anak-anak kita 24 jam, seumur hidup kita. Modal mengelola rasa iri dan cemburunya terhadap keberhasilan orang lain, adalah bekal metal anak-anak kita di hari ini dan utamanya masa depan. Mak gimana, pernah ngalamin anak-anak jealous ke saudara kandungnya atau teman-temannya mungkin? Boleh share di kolom komentar yuk



Review Film Serial Go Back Couple, Drakor Pertama Yang Bikin Emak Eksis Jatuh Cinta!

Drama Korea itu Bukan Pilihan? 🙊


Selama bertahun-tahun, saya kekeh gak pengen melirik drama korea, meski banyak teman facebook maupun ponakan-ponakan yang sudah heboh duluan tentang aneka review drakor. Saya tetep anteng, gak tergerak pengen cari tau. Sampai suatu hari saya melihat cuplikan salah satu drakor berjudul Go Back Couple yang tayang di sosial media.


Eh lah, kok tumben langsung tertarik ya. Padahal sebelumnya udah lumayan sering nonton potongan drama korea lainnya, tapi gak ada tergerak buat nonton juga.

Malah sempet ngobrol sama suami, betapa herannya saya kenapa sih para emak-emak itu suka banget nonton drakor? Memang apanya yang bagus? 

Nah ini nih, yang namanya benci jadi rindu.

Kuwalat kan sekarang, gara-gara cuplikan Go Back Couple, terus jadi penasaran dan pengen nonton seluruh episodenya 😜


Go Back Couple, Bikin Penasaran!

Sebelum nonton, saya gak mencari tau dulu sebenernya resensinya seperti apa. Dari potongan tayangan di facebook itu saya pikir sudah cukup. Langsung lah search google, gimana sih ini cara nonton drakor? Wkwkkwwk maapkan kalo katrok. Sumpah, beneran gak ngerti cara akses nonton perdrakoran ini gimana.

Tapi karena saya juga sering nonton film dengan genre lainnya, maka saya yakin ini harus download aplikasi sepertinya, karena saya gak terlalu suka nonton di website gratisan penyedia aneka film, kadang suka berhenti-berhenti sendiri, dan kalau suruh download, duh saya gak suka, selain menuh-menuhin memori, saya males harus milihin mana yang harus dihapus dan mana yang enggak 😑

Akhirnya, saya download dong aplikasi VIU, yang saya baru ngeh, sekilas pernah liat waktu ponakan pakai aplikasi ini juga buat nonton drakor selama beberapa tahun. Deh, bela-belain banget sih. Ya gimana Mak, penasaran eui! Sumpah belum pernah saya sepenasaran ini dengan drama korea sebelum nonton potongan scene Go Back Couple.


Go Back Couple, Bukan Sekedar Drama Romantis

Adegan yang bikin saya langsung memutuskan nonton drama korea Go Back Couple ini bukan karena kisah romantisnya atau intrik-intrik drama yang cukup kental, tapi justru adegan ketika Choi Ma Jin Joo yang diperankan Jang Na Ra berantem dengan kakaknya di depan Bapak Ibu mereka. Ekspresi dan dialog yang disajikan dapet banget sih! Gak garing, gak lebay.

Belum lagi ketika Choi Ban Do (So Ho Jun) dan Ma Jin Joo (Jang Na Ra) bertemu lagi di kampus, ini kenapa saya melihatnya justru kocak ya. Sama-sama belagu, sama-sama gak pengen kenalnya ini loh yang gemesin banget.

Ditambah banyak scene lainnya, yang kalau diikuti bikin makin penasaran buat nonton episode berikutnya. Pantas aja, kalau Go Back Couple ini termasuk salah satu yang hits diantara para pecinta drakor sejak tayang perdananya di tahun 2017.


Go Back Couple, 12 Episode Saja

Nah ini yang saya suka, drakor Go Back Couple, cukup 12 episode saja. Setelah saya telusuri, memang ternyata tipikal drakor ini rata-rata hanya belasan sampai puluhan episode, meski tetap ada yang punya ratusan episode.

Buat saya yang bukan pecinta sinetron dan amat sangat pemilih saat nonton film, Go Back Couple ini terbilang pas secara takaran cerita dan durasinya. Saya paling males, kalau harus nonton serial yang berkepanjangan.

Jadi setelah saya download aplikasi buat nonton, saya langsung cek tuh ada berapa episode ya? Setelah tau cuman 12, ya wes saya siap nonton kalo begini. Ya meski keskip ngerjain ini itu dulu, akhirnya selesai juga nonton ke-12 episodenya.

Go Back Couple, Begini Sinopsisnya!

Namanya juga sinopsis, saya usahakan sesingkat mungkin saja ya, karena sudah banyak juga kok yang menulis lengkap bahkan detailllll banget! Nah, saya lebih suka menulis review dan pendapat saya tentang apa yang ditonton, bukan tentang apa yang isi keseluruhan dari cerita. Kalau pengen tau jalan cerita seluruhnya, monggo silahkan nonton.

Ok, jadi cerita dalam drama korea Go Back Couple ini menampilkan konflik pasangan muda yang berjuang untuk mempertahankan pernikahan mereka, sampai kemudian memutuskan ingin bercerai. 

Hanya saja, sebuah kesempatan kedua hadir dalam hidup mereka, atau bisa dibilang kesempatan ini adalah kesempatan untuk memilih lagi di masa lalunya. Apakah akan memilih pasangan yang sama ataukah berbeda? Apakah nantinya ketika memilih pasangan yang berbeda, maka hidup akan lebih baik? Ataukah lebih baik kembali ke pasangan yang sudah dipilih?

Mmm, segitu saja lah ya sinopsisnya, tuh kan bener-bener pendek 😋


Drama Korea Go Back Couple, Apa Moral Storynya?

Drama korea memang selama ini berhasil menyentuh hati para pecintanya terutama kaum hawa dari berbagai usia. Alasannya sederhana, menampilkan hal-hal yang real life dan dekat dengan konflik relationship yang menarik untuk kita ikuti.

Sebagai perempuan yang sudah menikah 14 tahun, setelah menonton full episode Go Back Couple ini, saya menemukan beberapa moral story atau hal yang bisa dipetik hikmahnya. Apa saja?

1. Komunikasi Antar Pasangan Suami Istri

Salah satu alasan tokoh utama dalam drakor ini memutuskan untuk bercerai, karena ada kesalahpahaman. Kenapa bisa terjadi? Suami terlalu sibuk bekerja, istri yang IRT juga sibuk dengan segala kegiatan di rumah, tanpa ART, punya bayi yang baru aktif-aktifnya. Bagi para emak-emak, pasti tau benar, ini melelahkan, dan gak mudah. Apalagi ketika suami, gak mau terlalu aktif membantu ketika istri sedang dalam tahap capek-capeknya.

Disinilah konflik mulai muncul dan terbangun. Ibarat kata, emosi makin menumpuk, rasa kepercayaan makin memudar antar pasangan, hingga berpisah adalah jalan keluar paling mudah yang terpikir saat itu juga.

Yang bisa kita pelajari, menjadi lebih terbuka ke suami, itu gak papa kok. Dari awal pernikahan, makin kita bisa membangun komunikasi baik, maka makin mudah menyampaikan segala unek-unek ke suami. Begitu pula sebaliknya, suami juga akan sharing seputar pekerjaan kantornya atau hal apapun ke kita.

Membangun komunikasi antara suami istri ini memang gak gampang, gak butuh setahun dua tahun. Saya pun butuh bertahun-tahun untuk akhirnya bisa benar-benar saling bicara heart to heart. Bagi para emaks yang mungkin masih berusaha menjalin komunikasi ke suami, semangat ya Mak!

2. Waktu Terus Berjalan

Jika di dalam cerita drakor Go Back Couple, pasangan suami istri punya kesempatan kedua untuk memilih karena bisa kembali ke masa lalu (time travel), sayangnya kita hidup di dunia nyata ya Mak. Apa yang sudah kita putuskan, ya itulah yang wajib kita jalani.

Dalam rumah tangga, ada saja masalah yang datang silih berganti. Entah itu kecemburuan, ketidakpedulian satu sama lain, sampai ke tahap ilfil dengan pasangan sendiri. Belum lagi masalah dari lingkaran keluarga besar, gak cocok dengan mertua atau konflik dengan ipar yang bisa memanas kapan saja.

Menikah adalah bagian hidup, pasti ada ajaaa yang bakal kita hadapi. 

Saya pun gak mudah, dan saya yakin, banyak yang merasakan hal yang sama. Penuh perjuangan banget membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah.

Menikah adalah konsekuensi, dengan mengingat bahwa waktu gak bisa diputar lagi. Semacam kita masuk jalan tol, sudah bayar, ya jalan terus sampai ke tujuan. Jika pun kita memilih berhenti sebentar di rest area, atau bahkan keluar bentar dari jalur tol untuk memilih jalur biasa, anggap lah ini ketika hubungan kita dengan pasangan memang gak sedang baik-baik saja.

Artinya baik suami ataupun istri, butuh saling analisa, evaluasi dan memperbaiki bersama-sama.

Dannn lagi-lagi, ini butuh faktor komunikasi baik yang dibangun setelah menikah.

Melalui drakor Go Back Couple ini, kita juga bisa belajar banyak hal tentang bagaimana menghargai waktu yang berasa berlalu begitu cepat dan hilang begitu saja, serta mengingat kembali, apa yang membuat kita jatuh hati ke pasangan kita ketika akhirnya kita putuskan untuk menikah dengan orang tersebut? Hal-hal apa yang membuat kita tertarik padanya? Apa yang membuat kita makin semangat dengan pasangan kita?

Dari serial ini, saya juga belajar bahwa,

Menikah bukan tentang kesempurnaan, menikah adalah tentang belajar saling menyempurnakan. 










Selamat Jalan Glenn Fredly, Terimakasih Untuk Karya Penuh Rasa & Pesona

Mengenang Glenn Fredly, artinya mengenang segala karyanya yang luar biasa

pic: RRI


Generasi era 90-an, pasti kenal banget dengan lagu-lagu seperti Terpesona dan Di Pantai Cinta. Pertama kali kedua lagu tersebut muncul, saya langsung penasaran, menunggu kapan datangnya majalah remaja langganan, supaya segera tau informasi tentang siapa yang menyanyikan lagu tersebut.

Adalah Funk Section, yang saya kenal dimasa itu, membawakan lagu-lagu indah tersebut. Baru kemudian setelah mendengarkan radio dan membaca beberapa artikel musik, barulah saya tau, ada suara indah dibaliknya, yaitu Glenn Fredly.

Sejak mulai berkarir bersama Funk Section, sepertinya karir Glenn Fredly, melaju tanpa henti. Hampir semua lagu-lagu pilihan di dalam albumnya, senantiasa menjadi hits. Bahkan derasnya lagu-lagu Kpop yang masuk ke Indonesia beberapa tahun terakhir ini, gak menggoyahkan Glenn Fredly tetap berkarya di jalurnya, dengan berkarya bersama Yovie Widianto & Tulus, dengan lagu apik bertajuk "Adu Rayu".


Jalur pop-jazz-r&b romantis, beginilah cara saya mengenal musiknya. Sentuhan pop ditambah alunan r&b, dan sesekali muncul nuansa jazz yang menghentak meski kadang terasa tipis, tapi tetap memikat hati pendengar lagu-lagunya.

Glenn Fredly, Menyanyi Dengan Rasa 


Dalam sebuah kelas dubbing beberapa waktu lalu, seorang sutradara yang menjadi pemateri, menyebutkan pentingnya kekuatan rasa dalam sebuah karya. Menyontohkan, beberapa penyanyi atau artis, yang terlihat cantik atau ganteng, bahkan punya teknik vokal yang bagus, tapi ketika semua ditunjukkan tanpa rasa, maka semua menjadi NOL BESAR!

Glenn Fredly, adalah salah satu musisi yang berhasil mencuri perhatian banyak orang, karena ia menyanyi dengan rasa. Rasa yang ia sampaikan tepat sesuai dengan rasa para penikmat karya-karyanya.

Meski mungkin, bagi sebagian orang, mendengarkan lagu Glenn dibilang cengeng atau baperan. Yah, maybe they are right. Tapi bukankah begitu, ketika orang sedang jatuh cinta?

Masih ingat jaman remaja, hormonal yang bergejolak, rasa deg-degan, naksir-naksiran yang meski hanya berani di simpan di dalam hati atau di dalam buku yang bernama diary, disinilah lagu-lagu yang Glenn Fredly bawakan, masuk ke relung-relung rasa pemuda pemudi era 90-an dengan sangat mulus.

Buat saya, karya Glenn Fredly ini penyeimbang rasa. Karena manusia lahir dengan bekal akal dan rasa. Cinta memang gak bisa diterjemahkan dengan logika. Misal gimana saya yang serba suka musik begini, kenapa berjodoh dengan lelaki yang ketukan nada pun gak paham. 

Itulah cinta, gak pernah bisa dilogika, karena berada dalam lini rasa.


Glenn Fredly, Karya Penuh Pesona


Begitu pula dengan lagu-lagu Glen Fredly, memikat dan mempesona banyak kalangan, mau orang kantoran yang hampir selalu mampir ke tempat nongkrong menikmati malam harinya bersama teman-temannya, atau dinikmati pengamen pinggir jalan yang mengais rejeki dengan menyanyikan lagu-lagu seperti Kasih Putih, Akhir Cerita Cinta, Januari ataupun lagu-lagu Glenn Fredly lainnya yang selalu penuh makna dan pesona.

Selama masih siaran dulu, dari awal siaran di masa kuliah sampai terakhir siaran ketika sudah beranak 2, lagu Glenn Fredly era tahun berapapun, selalu jadi incaran request para pendengar radio. 

Selain karena easy listening, lagu-lagu Glenn Fredly memang selalu penuh pesona. 

Perhatikan aja deh, caranya membawakan tiap lagu, selalu berhasil bikin gemuruh dan decakan kagum pendengarnya ataupun penonton yang melihatnya di dalam pertunjukan langsungnya, tentunya dengan segala talenta dan pesona yang dimilikinya.

5 Lagu Glenn Fredly Terfavorit Sepanjang Masa Versi Emak Eksis

Sumpah ya, kalo suruh bikin list, lagu Glenn Fredly apa yang paling saya suka, kok susah bener ya. Hampir semuanya enak-enak, dan termasuk lagu yang sing along, alias tanpa sadar kita suka bersenandung lagu tersebut.

Tapi demi generasi jaman now yang gak paham-paham nih, kalau ternyata Indonesia punya penyanyi super keren dengan penghayatan menyanyi yang luar biasa, gak perlu pake nari-nari heboh, gak perlu pake outfit super kece badai, gak perlu pake lirik lagu serba menghujat. Cukup 3 hal saja, yaitu rasa, talenta dan pesona. Glenn Fredly punya ketiganya!

Nah, berikut ini lagu-lagu Glenn Fredly terfavorit sepanjang masa versi Emak Eksis:

1. Adu Rayu


Ya, ini merupakan salah satu lagu terbaru yang Glenn nyanyikan secara kolaborasi, tapi buat saya, lagu ini passs banget musiknya dengan era kekinian, dengan tetap mengusung ciri khas romantisnya.

2. Gelora Cinta

Karya Glenn Fredly, bersama dengan Tompi dan Sandi Sandoro dalam TRIO LESTARI ini, saya bilang sebagai lagu yang asyik banget, baik lirik maupun komposisi musiknya. Meski bisa dikatakan sebagai sebuah proyek idealis, tapi lagu ini tetap mampu mencuri perhatian.

3. Malaikat Juga Tahu


Duh lagu ini, gak pernah bosen dengernya. Menurut saya, meski dibawakan dalam beberapa versi penyanyi, punya Glenn Fredly ini tetap paling juara. Sekali lagi, Glenn berhasil membawakannya dengan rasa, talenta dan pesona!

4. Kisah Romantis


Sering banget, jaman siaran dulu, saya pakai lagu Kisah Romantisnya Glenn Fredly ini sebagai salah satu deretan dalam lagu opening, karena termasuk ngebeat dan mampu ngedongkrak mood penyiar di awal siaran. Ada yang suka lagu ini juga?


5. Di Pantai Cinta

Ini adalah lagu yang bikin saya langsung ngefans dengan suara Glenn Fredly. Meski sayang nih, saya belum bisa menemukan video klip original masa itu. Sementara saya belum share dulu ya, saya hanya share video dari sumber aslinya aja ya, karena saya tau benar gimana perjuangan bikin konten, jadi saya gak yang upload ulang atau hanya menampilkan suara Glenn tanpa video klip.

Nah, adakah diantara list diatas adalah lagu favoritmu juga? Atau boleh yuk sebutkan lagu Glen Fredly yang mana yang paling kamu suka?

Selamat Jalan Glenn Fredly



Hari ini, 8 april 2020, hari dimana seorang sosok musisi besar bernama Glenn Fredly menghembuskan nafas terakhir.

Last but not least,

Selamat Jalan Bung
Terimakasih untuk segala karya indah
Penuh talenta
Rasa dan Pesona
Rest in Peace 

Raport Blog April 2020

Sejak mulai install Moz Bar di chrome, jadilah ketika ada update DA PA maupun spam score, langsung terdeteksi. Kenapa akhirnya pasang Moz Bar? Mmm, karena mulai peduli.

Lah selama ini gimana e? Ya, selama ini, bodooo amat! Ngeblog, ngeblog aja, gak mau pusing tentang kualitas blog itu sendiri.



Lah kok sekarang jadi lebih peduli kenapa? Kalo jawabannya, karena pengen aja, bakal ditimpukin massa gak?

Pengen mulai peduli dengan kesehatan blog. Ya inilah faktor terbesarnya kenapa saya memilih pasang Moz Bar di browser laptop saya.

Dulu *Pernah* Jagoan SEO Gitu Deh! 😝

Ditarik ke belakang sekitar tahun 2009, ketika awal saya tergila-gila ngeblog dan sering nongkrong online bareng para suhu SEO jaman itu, membuat saya sangat tertarik belajar SEO. Sampai kurang lebih 2 tahunan, saya benar-bener fokus ngeblog, sebelum kemudian pindah jalur berbisnis, yang membuat blog terbengkalai, karena butuh benar-benar fokus membangun bisnis tersebut.

Waktu itu, patokan buat bisa dapetin aneka kerjaan blog adalah Page Rank dan Alexa. Page Rank bisa tembus 3 bahkan menyentuh angka 4, bisa dibilang pencapaian tersendiri saat itu. Kalau sekarang, semacam DA 15-20 ini terbilang mantap dah di kalangan perbloggeran! Apalagi bisa diatas 20.

Alexa blog dulu pun, ramping bukan main, padahal saya ada kelola blog pakai bahasa inggris segala. Traffic untuk blog tersebut, bisa mencapai ratusan visitor perhari. Belum lagi yang blog bahasa Indonesia, pernah menyentuh 1000-2000 visitor sehari, sampai harus nambah bandwith hosting, saking overload trafficnya. Jangan ditanya, kemana itu blog, karena gak saya perpanjang cuiiii domainnya!

Itu tuh kelemahan saya, ketika udah fokus di 1 hal, terus hal sebelumnya dianggurin. Ujung-ujungnya nyesel kan?

Saatnya Peduli Dengan Kualitas Blog


Ketika berusaha fokus ngeblog lagi di kisaran 2018, awal saya gak pengen *terbebani* dengan aneka tetek bengek SEO. Udahlah, ngeblog ya ngeblog aja. Nulis ya nulis aja. Perkara DA atau Alexa mau segimana, itu urusan nanti.

Tapi beberapa bulan terakhir ini, saya mulai *teracuni* lagi, buat ngurus blog sebaik mungkin, dengan catatan penting sebagai berikut:

Ok, saya fokus dengan kualitas blog, tapi gak mau lagi punya peternakan blog seperti ketika konsen ngeblog di 2009-2011.

Lah, sekarang bukannya ngurus 3 blog? Ya, ini nih susahnya mantan peternak blog, pengennya 1, eee beranak jadi 3, wkwkwk. But, this is enough! Karena ketiganya udah mewakili kebutuhan ngeblog saya saat ini.

Sekarang fokusnya adalah peduli dan memperbaiki kualitas ketiga blog tersebut, atau minimal blog ini dan blog innaistantina.com yang udah lahir duluan.

Raport Blog April 2020

Semingguan ini, ramai tentang info update DA blog, saya yang udah pasang Moz Bar selama sekitar sebulanan ini, tentunya otomatis tau dengan sendirinya. Hasilnya saya share disini ya, biar jadi pengingat saya juga, serta langkah apa yang saya lakukan, jadi ketika beberapa bulan ke depan ada muncul raport lagi, bisa dievaluasi

1. innaistantina.com



Sebelum ada badai algoritma google, sekitar 2 tahunan lalu, blog ini punya DA hampir menyentuh angka 20. Ketika ada perubahan, mendadak drop hampir separohnya. Pas momen ini terjadi, saya termasuk masih yang bodo amat, ya udah lah, mau gimana lagi.

Ketika mulai peduli dengan kualitas blog, innaistantina punya DA 11, dan spam score 6%. Maaf kalau PA jarang merhatiin 😌

Salah satu bentuk kepedulian itu dengan mulai aktif ikut blogwalking komunitas, dengan harapan DA membaik. Memasang Moz Bar, karena pengen lebih hati-hati lagi komen di blog-blog dengan spam score tinggi. Eee lah ternyata, kehati-hatian aja gak cukup ya, raport per April 2020 ini, malah DA turun 2 poin, dan spam score naik jadi 7%.

Alih-alih mood down, saya malah jadi penasaran, gimana caranya balikin lagi DA minimal ke semula, atau malah bisa lebih naik.

Setelah mencari informasi ke beberapa blog yang mengalami hal sama dan berhasil recovery dan memperbaiki kualitas blognya, saya memutuskan melakukan "Disavow Links". Apa ini? Mmm, boleh googling aja ya, sementara belum sanggup bikin tutorialnya, nanti aja setelah saya tau persis efeknya seperti apa ke blog yang saya kelola.

Meski ada resiko dari proses tersebut, saya siap aja kok, namanya juga belajar. Butuh jatuh bangun dulu ye kan?

Akan seperti apa hasil dari disavow links untuk blog innaistantina, dengan tetap berusaha update di tengah aneka project lainnya seperti blog ini dan blog satunya lagi, dan ada podcast serta youtube? Hahahaha, we'll see. Intinya mah, saya suka banget belajar beraneka hal. Meski suka keteteran sendiri, but I love it!

2. saddhastory.com



Blog saddhastory.com adalah perpanjangan dari youtube dengan nama yang sama, Saddha Story. Jadi ketika di youtube lebih berupa vlog audio visual, maka di blognya berisi kurang lebih hal yang sama dengan vlog, hanya dalam bentuk tulisan. Blog saddhastory.com nichenya lebih ke Food & Travel, sementara blog innaistantina.com karena isinya gado-gado, jadi semacam lifestyle blog gitu ya?

Ajaibnya, dan bikin saya terkaget-kaget, ketika update terjadi, spam score di blog tersebut, menyentuh angka 34% dong! Dari manaaaa ini angka bisa setinggi ini.

Setelah saya ingat-ingat lagi, blog saddhastory tersebut memang banyak terkoneksi saat saya ikut aktif nulis 30 hari di sebuah komunitas. Beda dengan komunitas blogger lainnya, komunitas tersebut lebih ke komunitas penulis. Jadi memang kurang memperhatikan sisi kualitas blog itu sendiri. Malah masih banyak yang hanya menggunakan domain gratisan.

Mungkin yaa, mungkin, ini juga analisa sementara saya, spam score menjadi tinggi sedemikian rupa, karena saya sering interaksi dan meninggalkan link di blog dengan kualitas kurang baik, plus dengan spam score yang tinggi pula. Semacam virus gitu lah, jadi ketularan tinggi spam scorenya!

Uniknya, kapan tuh sebelum proses update, DA sempat turun ke-3 beberapa hari, eeee terus naik lagi ke-5 dan spam score yang aduhai!

Hal yang saya lakukan, sama seperti di blog innaistantina.com, yaitu proses disavow links, jadi yaaaa tunggu aja, nanti bakalan seperti apa efeknya beberapa bulan ke depan setelah ada update terbaru.

So far, dari yang saya baca, disavow links ini ada yang sebentar, ada yang berminggu-minggu, ada yang berbulan-bulan. Kalo saya, daripada puyeng liat mulu spam score itu, mending berkarya aja terus, sambil nunggu hasil dan siap-siap evaluasi.

3. emakeksis.com




Lahirnya blog ini, bisa dibaca di cerita dibalik lahirnya emak eksis, postingan persis sebelum postingan tentang raport blog april 2020 ini.

Domain yang saya beli di bulan juli 2019 ini, dannn baru saya isi mulai januari 2020 ini, sebelum update google terbaru, berada di DA 3, dan ketika update berlaku, menjadi 6 dan spam score ZERO, alias terbilang amat sangat aman.

Awal ketika beli domain karena memang alasan personal kebangkitan saya secara psikologis, tapi kemudian bingung, ini blog mau diisi apa ya, apa beda dengan innaistantina.com?

Sekarang, lebih ke proses untuk mengamati dan belajar sih, emakeksis.com sebagai domain baru dan saya maintain dengan cara yang lebih hati-hati beberapa bulan terakhir ini, meski kadang masih lupa juga dengan aturan jangan pakai link domain kalo komen di blog dengan spamscore tinggi 😅

Sementara innaistantina.com jadi tantangan tersendiri, untuk bisa menaikkan kembali DA dan menurunkan spam score. Sedikit curhatan, sebenernya agak kesel dengan hosting blog innaistantina yang servernya sering down beberapa bulan belakangan ini, eh atau malah setaunan lebih ini ya. Mana sekarang CS suka lelet jawab email, WA CS yang dulu aktif entah kenapa sekarang enggak, atau ganti nomor? Ahhhh saya agak ilfil, dan pengen pindah hosting sebenernya. Tapi tunggu dulu deh, abis bayar juga awal tahun ini 😂

Ilmu Blog Selalu Bertumbuh!

Yang paling penting dari semua hal tentang blog adalah, ilmunya selalu bertumbuh, gak ada matinya. Mengikuti jaman dan kebutuhan. Jadilah para pelakunya seperti saya begini, selayaknya terus belajar dan belajar. Dulu ngetrend Page Rank, sekarang DA dan spam score, entah nanti berapa tahun lagi tentulah ada hal baru.

Bahkan dulu, masih peduli tuh dengan ranking di yahoo.com, sekarang apa kabar tuh ya? Semua yang demen SEO, fokus gimana caranya masuk 10 besar google.

Kalo ilmunya saja terus bertumbuh, yang mengaku sebagai blogger, iya juga kan?

Demikian raport blog yang saya kelola, per April 2020 ini, gak sabar eui gimana progressnya beberapa bulan ke depan, tentu dengan usaha yang lebih gigihhh ya Na Naaaa!

-------


Update 7 April 2020, innaistantina.com balik lagi DA ke 11, spam score tetep, sementara saddhastory.com DA turun ke 4 dengan spam score tetep. Mmmm keknya disavow belum ngaruh ya? Atau udah? Atau ini baru proses 'nilai-penilaian' lagi? ☺️