Akhir Kisah Cinta Si Doel, Bikin Emosi Jiwa?

"Anak betawiiiiiii.... Ketinggalan Zaman... Katenyeeeee"

Ahhh lagu ini, masih saja terngiang-ngiang, soundtrack salah satu serial terkenal di era 90an, Si Doel Anak Sekolahan yang tayang di televisi. Saya termasuk salah satu fans beratnya, selalu berusaha nonton serial fenomenal ini di stasiun TV swasta RCTI. Yes, zaman segitu seinget saya cuma ada RCTI lalu berlanjut SCTV. Zaman dimana sinetron atau film serial karya anak negeri masih sangat bermutu. Beda sama sekarang yang berisi intrik horor, drama percintaan yang berlebihan, serta konten alay lebay yang buat umuran saya, malah bikin pusing kepala 😏

Si Doel Anak Sekolahan menggandeng Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Mandra, bahkan nama-nama bintang kenamaan seperti Benyamin Sueb, Aminah Cendrakasih, Suti Karno dan Basuki, serta tentunya Rano Karno sebagai pemeran utama, pusat dari seluruh rangkaian cerita.

Ya, Si Doel yang anak betawi asli, hidup dengan kesederhanan, kuliah dengan segala keterbatasan dana dan fasilitas, sampai kemudian berhasil jadi tukang insyinyur, istilah yang sering digaungkan Babenya Dul ketika Doel mulai luntur semangatnya.

Cinta segitiga antara Doel, Sarah dan Zaenab juga jadi bumbu manis kala cerita ini bergulir dalam versi serial televisi, tapi apakah versi filmnya sama menariknya?

Si Doel Versi Serial vs Versi Film, Bagus Mana?

Sebagai pecinta Si Doel yang cukup ngikutin hampir 10 tahun masa tayangnya, jujur saya gak bisa nemuin feel excited seperti saat nonton filmnya, beda ketika nonton serialnya, yang suguhannya apik, naskahnya menarik, dan banyak plot twist yang bikin makin penasaran pengen nunggu episode berikutnya.

Barangkali karena tim produksi yang sebagian berbeda, membuat versi serial di tahun 90an hingga 2000an awal, dibanding dengan versi film yang tayang sejak 2018 ini, jadi kurang begitu greget.

Meski versi Si Doel The Movie menggandeng deretan pemain yang sama, tapi ternyata kekuatan ceritanya kurang begitu berkembang, bahkan saat nonton filmnya saya sering merasa bosan, berasa flat. Semacam filmnya ini dibikin hanya untuk nostalgia para penikmat serial Si Doel Anak Sekolahan jaman dullu. Beberapa scene juga seperti dipanjang-panjangkan, hanya untuk menambah durasi film.

Kalau boleh kasih rate, secara keseluruhan, Si Doel versi serial yang tayang RCTI masih lebih bagus secara konsep cerita dan pengambilan gambar dibanding versi filmnya. Padahal kalau dipikir-pikir, kualitas kamera zaman sekarang pastinya lebih bagus kan? Tapi ternyata, alat memang hanya menunjang sekian persennya saja, kekuatan terbesar memang ada pada naskah dan konten ceritanya itu sendiri.


Si Doel The Movie, 1-2-3, Which One The Best?


Lalu, kalau membandingkan antara Si Doel The Movie part 1-2-3, mana yang lebih baik?

Si Doel The Movie part 1, ada sebagian yang bilang ini bagus, kalau saya iya mengiyakan ini bagus. Dalam artian bagus secara ide, dimana setelah sekian tahun para pecinta serial Si Doel Anak Sekolahan, kembali ke suasana saat serial itu tayang di televisi. Ide yang brilian, yang membuat orang-orang makin penasaran, seperti apa kehidupan Doel berikutnya, siapakah yang dipilih Doel sebagai istri, dst. Dalam Si Doel The Movie 1, memang tergambar dengan jelas, bahwa Si Doel memilih Sarah, tapi kemudian Sarah meninggalkan Doel karena rasa cemburu. Secara sekian tahun Sarah menghilang, Doel yang gak punya cukup uang untuk mencari, akhirnya menikah dengan Zaenab.

Si Doel The Movie part 2, nyatanya gak jauh beda. Sama seperti yang pertama, saat bertemu anaknya dan mulai membangun chemistry antara anak dan bapak, yang terlihat canggung karena saking lamanya tidak pernah bertemu sejak si anak lahir.

Si Doel The Movie part 3, saat mulai muncul trailernya ke jagad perfilman, saya jadi berpikir, "Emang perlu ya? Nambah 1 part lagi?". Toh juga cerita di part 1 dan 2, sami mawon. Gak ada ledakan-ledakan cerita yang bikin antusias. Cuma satu yang bikin penasaran buat saya, dan sebagian orang yang menunggu-nunggu, yaitu gimana ini akhir kisah cinta si Doel? 😅


Akhir Kisah Cinta Si Doel, Apa Saja Yang Bikin Emosi Jiwa?

Di sosial media, mendekati akhir bulan Januari ini, heboh dengan komentar-komentar penonton yang sudah menonton Film Akhir Kisah Cinta Si Doel. Sebagian besar yang saya jumpai, gemes dengan film yang disebut-sebut sebagai film terakhir dari trilogi Si Doel The Movie.

Lantas, apa saja yang bikin saya emosi jiwa dengan sekuel terakhir Si Doel The Movie, Akhir Kisah Cinta Si Doel ini? Berikut listnya, yang mau ikutan emosi, juga bolehhhhh


1. Si Doel masih aja mencla-mencle

Hadeh, udahlah tua ye, masih galauuuu aja, mau milih yang mana, Sarah atau Zaenab. Masih plin-plan ketika dihadapkan pada 2 sosok perempuan yang dekat dengan Doel sejak muda. Logikanya nih kalo kejadian di dunia nyata, kan Si Doel ini sosok religius, misal rutin Istikharah, bisa toh nemu siapa yang paling sreg untuk mendampingi sepanjang hidupnya? Apa karena rasa cintanya yang seimbang buat kedua perempuan tersebut? Apa Doel mau dua-duanya? #eeeeaaa

2. Ending yang Njelehi

Baik #timsarah maupun #timzaenab, pasti punya argumen masing-masing, dengan siapa sebaiknya Doel berlabuh dan menghabiskan masa tuanya. Kalau saya sihhhh, milih siapa ya? Pastinya dengan hasil akhir film Si Doel jilid 3 ini, bikin saya gemessss, geregetannnn! Kok gituuu sihh! Hiyahahahhaa, maapkan daku pemirsa, esmosi jiwa 😂

Bukan perkara siapa yang akhirnya jadi kisah cinta terakhir Si Doel sih sebenernya, lebih ke pattern cerita yang datarrrrr dan berkesan lambat. Entahlah, karena mungkin bosan dengan konflik yang sama, jadi semacam ketebak aja gitu, habis ini mesti itu, habis adegan ini mesti begitu.

3. Akting Dul Muda Yang So Standard

Dari kemunculan Dul muda, alias anak Doel & Sarah, saya kurang sreg sebenernya. Ganteng sih, cakep. Wajah-wajah era kekinian, yang bisa bikin barisan anak-anak cewek usia belasan taun bakal kesengsem. Tapi secara acting? Mmm, no no no. Not acceptable sih menurut saya. Sekelas Si Doel dari zaman masih serial di tivi dengan deretan aktor dan aktris papan atas, harusnya bisa lah ya cari pemain yang lebih baik lagi. At least misal aktingnya belum matang, bisa digojlok dulu pendalaman materi & karakternya.

Biasanya saya kalo kagum dengan akting pemain film, baik dalam maupun luar negeri, langsung tuh saya googling, cari tau ini orang siapa, pernah main dimana aja, sampai kadang penasaran ke kehidupan pribadinya, stalking mode on 😄

Tapi maap, untuk pemain Dul anak Doel ini, saya gak ada minat buat nyari nama aselinya punnn, hahahaha maapkan anak muda, tapi kamu gantengg kok, sumpah benerannnn 😁

Mari mari perhatikan akting Si Dul anak Sarah & Doel di part 1-2-3. ini bocah lempengg ajaaa. Ya meski pernah terkesan marah dan ngambek di Si Doel The Movie 1, tapi masih kurang greget. Lah kalo kehidupan nyata, ada kasus begini, dan ini menimpa anak usia belasan tahun yang baru kritis-kritisnya, woooo bisa ngamuk ituuuu, ini mah semacam datar dan ya udahlah, macam ini bocah wiseeee banget 😣

Begitu pula saat di part 3, Dul tinggal di rumah Si Doel Bapaknya, yang biasa hidup dengan gaya tajir melintir, terus mendadak berubah dengan segala kesederhanaannya, yaaa biasa aja gitu, cuma penasaran aja, tapi secara feeling kurang diexplore lebih lanjut. Saya yang mantan anak teater ini, jadi gemesssss, pengen rasanya, "Sini Nak, tante latih dulu aktingnya, biarrrrr cetarrr".

Nah, siapa dong yang pantes meranin Dul anak Si Doel? Iqbal Dilan? Kayaknya Iqbal juga tipe pemilih film juga deh, pasti doi nyari yang scriptnya bener-bener mateng. Tapi ya gak Reza Rahadian juga, ketuaan, wkwkwk.

Ada yang punya ide mungkin Mak, siapa yang lebih cocok meranin anak Si Doel? Atau ada yang masih berharap ada part lanjutannya dengan plot twist yang beda dari part 3, Akhir Kisah Cinta Si Doel ini?


Fenomena Pasha Ungu Larang Istri Masak, Takut Kecipratan Minyak, Apa Hikmah Yang Bisa Kita Petik?

Kurang lebih seminggu terakhir ini, heboh berita fenomena "Pasha 'Ungu' Larang Istri Masak, Takut Kecipratan Minyak". Beramai-ramai para perempuan yang sebagian besar sudah menikah, lalu membuat statement-statement baik itu serius maupun kocak seputar hal tersebut.


Ketika Suami Memanjakan Istri

Kalau Pasha Ungu melarang istrinya masak karena takut kecipratan minyak, bisa jadi ini memang wujud saking sayangnya seorang suami ke istrinya. Saya jadi teringat almarhum kakak sulung saya, semasa hidupnya sangat memanjakan baik itu istri dan anak-anaknya. Sampai suatu saat, ketika istrinya memilih baju di sebuah toko pun, istri kakak saya ini cukup berdiam di dalam ruang ganti, sementara kakak saya keliling mencari baju yang paling pas buat istrinya.

Kisah menarik juga datang dari seorang teman, yang setelah menikah cukup lama, belum dikaruniai anak. Begitu istri teman saya ini ketauan positif hamil, maka langsung memborong aneka tas dan baju branded buat istrinya. Buat sebagian orang ini, "Apaan deh? Lebay banget?". Sementara buat sebagian orang lainnya menganggap ini wajar, karena ini semacam euphoria betapa bahagianya seorang suami.

Sekilas memang kita melihat, wah beruntung banget ya para istri-istri yang mendapat perlakuan seperti ini? Hayo-hayooo, jadi pada mupeng gak Mak? 😋


Menikah Hampir 14 Tahun, No Manja-Manja!

Saya menikah selama hampir 14 tahun dengan suami saya, dan selama itu pula, gak ada dalam kamus suami yang namanya manjain istri. Sesekali kasih surprise, misal kirim bunga saat saya ulang tahun, ini udah tingkat paling tinggi. Tapi kalau namanya memanjakan istri? It's big no no!

Seperti saat selesai nonton film di bioskop, Kulari ke Pantai, saya cerita ke suami yang kebetulan tidak ikut nonton, "Yah, keren banget deh itu yang di film, nyetir dari Jakarta ke Jawa Timur, cewek ibuk-ibuk pula". Terus suami saya bilang, "Bunda juga dong". Nah ini juga kali ya, yang akhirnya menginspirasi saya nyetir Jakarta-Jogja, yaaa meski belum sampai kota di Jawa Timur, lumayan lah sampai setengahnya. Maybe next trip 😆

Atau misal saat waktunya ke bengkel, cuci mobil, suami tidak segan untuk meminta saya melakukan hal tersebut. Begitu pula, untuk urusan rumah. Mau gak mau, suka gak suka, ya saya harus jabanin sendiri. Ada tikus, kecoa, dan hewan-hewan lainnya yang sebelumnya saya geli-geli akut, sekarang harus berani hadapin. Lah, kalau pas suami di site, belum jatah pulang, masa ya saya nunggu itu hewan-hewan asyik di dalam rumah. Keburu beranak pinak nantinya.

Pasang gas, benerin kran, setting mesin cuci, dll, ya harus mandiri.

Mau kemana-mana, ya belajar berani selama di Jakarta ini, nyasar-nyasar atau sampai ketilang pun, ya hadapin. Pokoknya mah harus setrong!

Pasha Ungu Larang Istri Ke Dapur Karena Takut Kecipratan Minyak, Haruskah Kita Para Emak-Emak Iri?

Mmm, kalau saya pribadi malah enggak tuh. Justru saya bersyukur punya suami yang melatih istrinya jadi mandiri.

Andai suami saya Pasha Ungu, bisa jadi sekarang saya tidak bakalan bisa masak nasi goreng, ayam balado, daging teriyaki, macaroni schotel, dll. Ya, meski makanan sederhana, at least anak-anak doyan dan selalu minta lagi dan lagi.

Andai suami saya Pasha Ungu, bisa jadi sekarang saya tidak ngerti caranya nyuci dan nyikat baju yang bener tuh gimana, benerin kompor yang rusak tanpa manggil tukang tuh gimana, dan beragam kemandirian lainnya sebagai seorang IRT tanpa ART.

Halah, kok berandai-andai, lha wong Pasha Ungu ngelirik eike aja kagakkkkk 😛

Pastinya nih ya Mak, rumput tetangga itu memang bakal keliatan lebih hijauuuu dan seger-seger. Seperti saat kita lihat orang lain kok tampak harmonis, kok suaminya keliatan romantis ya, kok suaminya kayak perhatian terus ya, kok suaminya sering kasih surprise ya, kok suaminya sering WA atau telpon nanyain kabar ya, dan kok kok lainnya yang bikin kita terpana lihat rumah tangga orang lain.

Percayalah, di balik seorang suami yang sayang dan manjain istrinya, pasti ada alasan di baliknya, semoga bukan alasan buat nutupin kedoknya #eh. Di balik suami istri yang keliatannya selalu gandengan tangan dan romantis, pasti yo ada yang namanya cek cok, beda pendapat, asal gak usah pake cakar-cakaran 😂

Apa Yang Perlu Kita Syukuri?

Punya suami seperti suami saya ini, saya sangat bersyukur, mengerti kalau istrinya ini kerjaannya ada yang di rumah, ada juga yang kadang perlu keluar rumah, utamanya saat ngisi suara di studio. Nah dengan ini, suami juga kasih ijin, kasih keleluasaan, boleh sesekali beli makanan di luar, di saat istrinya ini sibuk di luar rumah. Yang penting jam antar-jemput anak di saat suami kerja, aman terkendali.

Meski ya, kadang suami seringnya terlihat cuek dan acuh, tapi ya memang bentukannya begini, mau saya gimanain lagi, wkwkwk

Berbahagia dengan apa yang kita punya detik ini, maka nikmat pun akan datang berlipat-lipat

Yang perlu kita inget banget nih Mak, untuk jadi bahagia, gak harus jadi istrinya Pasha Ungu ataupun siapapun yang kita pandang lebih sempurna. So Mak, apa yang Mak syukuri dengan keberadaan suami Mak dengan segala kelebihan dan kekurangannya?


Great Talk, Great Sex?

Dari awal mengenal, saya mulai menemukan bahwa karakter lelaki yang saya pilih sebagai pendamping hidup ini, adalah lelaki yang tidak banyak cakap. Atau memang nyatanya lelaki sejati demikian? Jarang bisa berkomunikasi terbuka meski dengan pasangannya sendiri.

Lelaki sejati? Memang kalau yang tidak sejati beda gitu ya? Mmm, ini cuma analisa pribadi saja sih. Kebetulan saya pernah bekerja di ranah broacasting radio, dan sebagian rekan-rekan saya yang berjenis kelamin laki-laki, yang mereka ini tampak asyik diajak ngobrol, renyah dalam tiap pembicaraannya, beberapa diantaranya ternyata punya kecenderungan suka dengan sesama laki-laki. Eh tapi ini hanya beberapa loh ya, bukan berarti lelaki yang gampang berkomunikasi, lancar dalam berkata-kata itu semuanya punya kecenderungan seksual yang sama. Buktinya saya juga punya teman penyiar yang juga MC, tapi dia dalam koridor tetap suka dengan perempuan.

Ok ok, balik lagi ke pertanyaan saya di paragraf pertama. Apakah laki-laki memang pada dasarnya lebih pendiam, introvert, tidak bisa mengungkapkan perasaannya? Bisa jadi iya, ini yang saya alami selama 14 tahun pernikahan. Pas di awal, jangan ditanya, duhhh saya bisa entah berapa kali ngambek, karena merasa suami ini kok gak mudeng-mudeng ya dengan maksud saya.

To The Point

Ya, tipe suami saya, memang orang yang to the point. Gak bisa tuh, dikasih kode-kode doang, sinyal-sinyal aja, harus aja action langsung, baru noh paham! wkkwkwk. Jadi ya Mak, kalau ngerasa kok suami gak paham sih, suami gak ngerti-ngerti juga sih, pertanyaannya udah langsung bicara belum tentang maksud kita seperti apa? Bicara ya Mak, bukan sewot dan marah-marah.

Gimanapun manusia, punya ego, suami yang bilang sayang dan cinta sama kita  pun, bisa kepancing emosinya kalau kita tidak membuka percakapan dengan positif.

Misal nih saya dulu, mau minta tolong sesuatu hal, itu bukannya minta tolong langsung, tapi cuma ngasih kode-kode. Ya gak pernah nyampe lah ke pikiran suami. Wong cuma kode-kode, mana jelas? Yang ada, sayanya uring-uringan, terus suami bingung ini istrinya kenapa coba? wkwkwk

Kalau sekarang, tiap saya butuh bantuan, ya saya bilang langsung, ngomong terus terang. Misal pas suami off dari site kerjanya, otomatis 2 minggu di rumah full kan, setelah 10 minggu berada di luar pulau. Di saat inilah, saya minta tolong suami untuk antar-jemput anak, belanja ke indomaret atau hal-hal lainnya, yang biasanya saya bisa kerjakan sendiri, tapi begitu suami di rumah, boleh dong bagi-bagi tugas. Mumpunglah 😄

Komunikasi Lancar = Seks Lancar?

Halah, ini maksudnya seks lancar apa sih? Hahaha. Maksudnya tuh begini para emak sekalian. Setelah saya pelajari bertahun-tahunnnn, ternyata yang namanya membangun komunikasi dengan suami, itu memang butuh proses. Kita gak akan pernah bisa merubah karakter aslinya kok.

Suami saya yang tipe pendiam, apa-apa dipendam sendiri, ini juga akan selalu begini. Hanya saja, dengan rutin saya cerita tentang anak-anak, kondisi di rumah, apa keluhan saya, apa yang bikin saya semangat, tanpa saya sadari kok ini bikin suami juga bertahap bisa dengan sendirinya cerita tentang dunia kerjanya, apa kegalauannya, dan lain sebagainya.

Tanpa saya sadar juga, ternyata ini membawa pola hubungan kami sebagai suami istri. Istilah jaman now, skidipapap. Haduhh, ini gak ngerti kenapa bisa gitu ya, hubungan suami istri, atau hubungan seks suami istri, bisa jadi ada istilah skidipapap. Hahaha, ada-ada ajaa bahasa gaul sekarang ini.

Jadi-jadi gimana tadi?

Gini-gini, pola komunikasi 2 arah yang saya dan suami bangun, atau lebih tepatnya jatuh bangun kami bentuk selama ini, ada pengaruhnya juga buat hubungan yang skidipapap itu. Masing-masing jadi bisa jujur dengan apa yang kami suka dan tidak suka.

Pose apa yang kami nyaman, dan tidak nyaman. Sentuhan bagian mana yang bikin pengen lagi, dan gak pengen disitu lagi. Yaaaaa intinya, serangkaian skidipapap itu udah pada apal kan ya Mak Emak sekalian? 😆

Tell Me, What You Want!

Yes, ketika komunikasi positif berhasil kita bangun dengan suami, otomatis hubungan ke ranjang pun juga mengikuti. Gak perlu sungkan Mak, untuk bilang, apa yang kita suka dan enggak. Suami mah kadang gitu, kita harus to the point aja, sampaikan apa adanya. Barulah doi paham.

Suami itu udah lelah kerja di kantor, dan otak laki-laki itu memang bisanya fokus 1 hal. Butuh lama gitu untuk menswitch arah fokusnya. Jadi kalau pulang kantor, masih diem aja, biarkan aja bentar, karena pekerjaan kantornya masih ada di dalam pikirannya tuh Mak.

pic: pexels.com

Setelah suami mandi, makan, barulah kita bisa buka percakapan. Kalau saya, biasanya dengan menceritakan anak-anak dulu. Hal yang membuat suami antusias, barulah cerita-cerita hal lainnya. Dengan begini, maka pas misal cerita-cerita ini nanti berlanjut ke tempat tidur, dijamin deh Mak, skidipapapnya bisa makin maksimallll

Namanya membangun mahligai pernikahan, memang gak pernah selamanya mulus, ibarat kita menggambar nih Mak, kadang perlu dihapus, perlu diperbaiki gambarnya, diwarna-warna biar makin cakep. Gak ada yang sempurna, yang ada suami istri bekerjasama untuk saling menyempurnakan 😍




Malam Pertama? Apa Yang Perlu Disiapkan?

Siap, bersedia, yakkkkkk

Oke oke, konten kali ini, khusus buat persiapan para calon penganten yes, alias pasangan halal, alias yang mau jadi suami istri. Yang belum suami istri, dan nyasar kemari, anggaplah informasi seputar persiapan menuju malam pertama bagi pengantin baru ini sebagai knowledge yang bisa digunakan dengan semestinya.

pic: pexels.com


Buat yang sudah menikah, dan juga mampir ke postingan ini, sedikit flashback yuk, tentang masa-masa malam pertama dahulu kala. Apapun itu bentuknya, biasanya jadi kenangan tersendiri. Entah itu lucu, romantis, dan beragam rasa di dalamnya.


Malam pertama bagi pengantin itu adalah sesuatu yang sakral & spesial. Kalau kita persiapkan dengan baik, maka ini bisa menjadi salah satu kenangan terindah yang kita ingat sepanjang hidup kita.

Alat Kontrasepsi Terbaik Buat Emak-Emak Usia 40 Tahunan

Mengenal alat kontrasepsi, bahkan bisa dibilang pegang langsung alat kontrasepsi itu setelah menikah, tepatnya setelah punya anak. Ketika proses menyusui selesai di anak pertama, ternyata saya belum kunjung menstruasi beberapa bulan kemudian. Sempat berpikir, jangan-jangan hamil lagi? Cek pakai test pack beberapa kali, dan menstruasi belum datang juga, akhirnya membawa saya cek ke dokter. Hasilnya sama, saya tidak hamil dan diminta sabar saja, nanti mens juga pasti datang :D

Selama kurang lebih 2 tahunan berikutnya, kondom adalah alat kontrasepsi yang saya dan suami pilih. Karena kami masih planning untuk punya anak kedua 2-3 tahun setelah Ical lahir. Tapi ternyata, setelah lepas tanpa kondom sama sekali pun, saya belum kunjung hamil anak kedua.

Baru ketika Ical mendekati usia 5 tahun, saya hamil lagi. Alhamdulillah, kehamilan kedua juga berjalan lancar, berikut dengan proses menyusuinya yang lebih lancar dibanding saat anak pertama. Menyusui adalah alat KB alami, disinilah saya cukup tenang, jadi tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun.

Sampai kemudian lepas masa menyusui, barulah terpikir, alat kontrasepsi apa yang akan saya gunakan. Ngobrol dengan suami, dan suami menyerahkan sepenuhnya ke saya.

Kenapa Memilih Memakai Kondom?

Ya, akhirnya keputusan balik pakai kondom lagi. Jujur, milih yang praktis. Saya gak ngebayangin kalau harus serba hormonal seperti pil atau suntik. Secara saya ini pelupa dan suka teledor, bisa-bisa kelupaan meski sudah pasang alarm! Apalagi sistem kalender, duh meski udah dijelasin berkali-kali saat ketemu dokter kandungan di acara talkshow yang saya pandu jaman siaran dulu, tetep aja gak begitu paham dengan sistem kalender ini.

Saya pun, termasuk produk kebobolan, saat Ibu saya lupa minum pil KB, maka lahirlah saya di usia Ibu jelang 37 tahun. Ini juga alasan, kenapa saya memilih pakai kondom saja.

Ternyata, menurut berita di CNN Indonesia, berdasarkan survei terhadap 13.506 responden, sebagian besar responden yaitu sekitar 63,2% memilih kondom sebagai alat kontrasepsi andalan. Mmm, jangan tanya ke saya tapi, perihal respondennya ini pasangan halal atau belum :D

Kelebihan & Kekurangan Pemakaian Kondom

Kelebihannya adalah praktis, bisa didapatkan dimana-mana, mau di minimarket dekat rumah juga ada, mau di toko online pun sekarang ada. Bahkan ketika liburan ke luar kota, dan lupa bawa, tinggal cari apotek atau minimarket terdekat, kondom pun tersedia. Intinya mudah sekali kita dapatkan.

Perihal, siapa dong kalau gitu yang beli? Saya atau suami? Sementara ini suami yang beli, kalau saya beliin aja lewat olshop. Masih gak kuat dengan ekspresi penjaga minimarket saat bayar kondom. Padahal ngapain malu juga ya, saya juga menikah, beli kondom untuk hubungan suami istri secara halal. Ah sudahlah, selama pak suami masih mau wara-wiri ke minimarket, biar dia saja, wkwkwkwk.

Kekurangan pemakaian kondom, dari apa yang saya baca, katanya sih bisa robek, nah kalau begini dikhawatirkan tetap menyebabkan kehamilan. So far, dari merk kondom yang saya eh maksudnya suami pakai, tidak sampai terjadi hal demikian.

Emang tetap enak rasanya dengan pakai kondom? Nah ini nih, pertanyaan yang sering saya jumpai di forum-forum online. Selama ini, saya sih oke-oke aja ya, gak ada masalah, gak ada bedanya saat pakai atau enggak. Malah menurut saya, tambah greget aja, karena pas udah *panas-panas*nya, ada jeda bentar nunggu pemakaian kondom. Eittsss, bagi yang belum menikah, jangan kebablasan ya bayanginnya :P

Eh tapi ada sih, merk tertentu yang saya kurang suka. Terlalu keset menurut saya, jadi malah bikin agak sakit tapi gak nyaman. Hubungan suami istri itu kan enaknya, sakit-sakit tapi tetap enak kan? Nah ini ada satu merk yang buat saya bikin kurang nyaman. Apa merknya? DM saya aja di FB atau IG, nanti saya bisikin mana merk yang bikin enak dan enggak :D

IUD, Alat Kontrasepsi Terbaik Buat Perempuan Usia 40 Tahunan?

Bulan februari tahun 2020 ini, usia saya masuk 39 tahun, artinya gerbang menuju 40 tahun sudah di depan mata. Selama ini pula, saya dan suami masih menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi. Sudah terlampau nyaman kali ya. 

Dari berbagai literatur dan saran yang saya terima, di usia saya ini, sebaiknya mulai pindah ke IUD sebagai alat kontrasepsi. Tapi kenapa ya, kok rasanya belum berani gitu, berasa ngilu-ngilu bayangin ketika IUD dimasukkan. Belum lagi, tambahan cerita dari kakak ipar, yang pasang IUD beberapa kali, selalu ada masalah, entah itu pendarahan berkali-kali, sampai IUDnya malah lepas terus. 

Saat ini, saya dan suami, juga berpikiran sama, bahwa 2 anak sementara ini cukup. Dan kehamilan jelang ataupun setelah 40 tahun, dipercaya kurang begitu baik bagi Ibu maupun janin. Meski, saya juga menjumpai beberapa teman yang melahirkan diatas 40 tahun, anak-anaknya sehat, begitu pula dengan Ibunya.

Galau, Siap pakai IUD gak ya?
Duh, terus gimana dong Makkkk ini, baiknya saya pasang IUD gak ya? Masih ngebayangin ngeri proses pemasangan dan efek setelahnya nih. Plisss help help.

Tips Memilih Sekolah Pertama Untuk Anak

Melihat perubahan kurikulum yang serba mak jegagik, tiap ganti menteri ganti kurikulum, pernah bikin saya was was, gimana kalo pilih sistem homeschooling saja untuk anak-anak sekolah. Riset demi riset saya lakukan, sampai akhirnya jatuh pada pilihan, memilih sekolah formal tapi yang bisa mewadahi minat bakat anak. Ya, meski kadang sekolah tipe begini, harganya bisa lebih wow! Artinya emak bapakke, kudu lebih giat mendulang rejeki :D

Memilih sekolah pertama untuk anak, ini juga berarti memilihkan pondasi untuk anak, baik itu secara intelektual dan kecerdasannya, dan buat saya yang terpenting adalah moral dan akhlak.

Memilih sekolah pertama untuk anak, artinya juga memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi dengan dunianya. Makin nyaman anak di lingkungan barunya tersebut, maka ia pun akan makin enjoy berada di sekolah.


Nah, lalu apa saja yang perlu kita pertimbangkan saat memilih sekolah pertama untuk anak?

Anak Sudah Siap Masuk Sekolah Pertama? Kenali Tanda-Tandanya!

Punya pengalaman anak pertama rewel ketika masuk sekolah pertama kali, membuat saya punya banyak pelajaran berharga. Utamanya, belajar bagaimana mempersiapkan anak kedua, minimal bisa merasa lebih nyaman ketika masuk sekolah pertama kali. Alhamdulillah, meski Ical, anak pertama saya masuk sekolah pertama dengan segala drama yang ada, ketika adiknya, Sasha memasuki gerbang sekolah pertama kali, lebih antusias, less drama.


Belajar Dari Anak Pertama

Nyatanya memang, dari anak pertama kita selalu belajar hal yang benar-benar baru. Ketika pengalaman yang sama kita alami dengan anak kedua, artinya kita bisa mempelajari apa kesalahan sebelumnya, lalu kita perbaiki.

Apa yang saya perbaiki dan bagaimana caranya sampai kemudian anak kedua saya jauh lebih tenang ketika masuk sekolah pertama dibanding anak pertama?

Seperti misalnya, adanya proses survey mendalam tentang kondisi sekolah, yang mana tidak saya lakukan pada anak pertama. Lalu mengajak anak berkeliling dan melihat-lihat isi sekolah yang dituju, supaya anak lebih mengenal dan merasa lebih nyaman ketika pertama kali masuk sekolah, ini juga saya terapkan sebelum Sasha masuk sekolah.

Faktor yang juga tidak kalah penting, saya lebih mempersiapkan diri dan sadar betul, yes ini anak kedua mau masuk sekolah nih. Bismillah, saya bisa lebih tenang dan siap, dibanding saat memasukkan anak pertama sekolah.

Anak Rewel Ketika Masuk Sekolah Pertama Kali? Ini Tipsnya!

Mak, gimana anak-anak ada yang rencana masuk sekolah dalam beberapa tahun ke depan, atau mungkin malah tahun ini? Nah, saya punya cerita nih, tentang pengalaman sekitar anak pertama usia belum sampai 4 tahun, dan waktu itu Ibu saya alias Eyangnya anak-anak, sudah mulai sounding tentang kapan saya mau menyekolahkan anak saya.

Padahal waktu itu, saya sendiri termasuk masih mencari informasi terutama apakah anak harus sekolah di usia balita, apakah nantinya saya mau menyekolahkan anak di sekolah formal ataukah homeschooling, sampai pernah juga pada pemikiran bahwa masuk sekolah itu nanti saja langsung SD.

Ibu saya cerita, seluruh anak di komplek kami, sudah masuk sekolah semua. Ya, di sekolah yang sama. Akhirnya setelah ngobrol dengan suami, saya pun mengajak Ical, anak pertama saya, untuk daftar ke sekolah tersebut. Tanpa survey, tanpa trial, saya pun langsung mendaftarkan Ical ke sekolah tersebut. Secara kebetulan biaya pendaftarannya masih cukup terjangkau, yaitu Rp 600.000,00 dan uang SPPnya sebesar Rp 50.00,00 (eh atau 100ribu ya? saya agak lupa dengan SPP jaman masukin Sasha, adeknya Ical :D).

Intinya sih, masih sangat terjangkau oleh kocek saya dan suami. Apalagi jarak ke sekolah tersebut juga termasuk dekat. Naik motor bahkan jalan kaki pun bisa.

SIM Model Baru, Tidak Pakai Acuan Tanggal Lahir Lagi! Perhatikan!

Yes, sesuai dengan judulnya, SIM model baru sudah tidak pakai acuan tanggal lahir lagi sebagai tanggal batas waktu perpanjangannnya. Padahal kalau suruh milih, saya lebih senang dengan acuan tanggal lahir, bisa otomatis inget. Tinggal nginget atau ngecek tahun berakhirnya aja.

Apalagi banyak tuh yang masih perlu kita inget seputar tanggal-tanggal perpanjangan. Misal STNK, terus pajak rumah, BPKB, ini kan semua berdasar tanggal dibuat/ diperpanjangnya. Terus sekarang SIM model terbaru juga pakai cara yang sama. Duh rek, jadi makin banyak yang perlu dihapalkan.

Ya bisa sih pakai alarm di hape, tapi teteppp aja ya, perpanjangan SIM model baru dengan tidak pakai acuan tanggal lahir lagi, itu menambah was-was, takutnya telat!

SIM Model Baru Itu Namanya "SMART SIM"

Oke, sebelum kita bahas lebih panjang lebar, kenalan dulu yuk sama SIM model baru ini.

Namanya SMART SIM. Dilansir dari website indonesia.go.id, Smart SIM ini diluncurkan bersamaan dengan layanan SIM online pada peringatan Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-64 di Gedung Basket Gelora Bung Karno, Jakarta, pada hari Minggu 22 September 2019.


Lalu apa bedanya Smart SIM dengan SIM yang lama dan sudah lama beredar sekarang di Indonesia?

Smart SIM ini sudah dilengkapi dengan beragam fitur canggih. Termasuk bisa memuat data pelanggaran hingga data kecelakaan si pemilik SIM. Bahkan, memiliki fungsi sebagai uang elektronik yang bisa digunakan untuk membayar tol, parkir ataupun sebagai alat transaksi saat berbelanja. Pengisian saldo maksimal di Smart SIM disebutkan bisa mencapai 2 juta rupiah.

Wow! Kalau SIM punya fungsi sama seperti uang elektronik, saya kok malah takut ya? Secara kalau di Jakarta begini, cukup aktif memakai kartu e-Toll atau Flazz, dan ini termasuk yang kalau naro di mobil atau dompet pun, kadang masih aja suka keslingsut. Secara sering banget dipakainya. Nah, apa kabar jadinya kalau ini SIM. Terus keslingsut, hilang? Duh, masa ya harus bikin lagi? Apa kalau hilang nantinya kita juga harus bikin baru seperti lewat masa perpanjangannya?


Ingat, SIM Telat Sehari, Wajib Bikin Baru!

Weladalah, ini saya pun baru ngeh, ketika sempat ngobrol dengan salah satu orang tua murid di sekolah anak saya. Terus pas perpanjangan SIM A & C di Jogja City Mall akhir tahun 2019 lalu, beberapa orang yang terlambat melakukan perpanjangan SIM, tidak bisa memperpanjang di SIM Corner/ SIM Keliling, tapi harus ke kantor kepolisian terdekat. Inipun harus bikin baru, mengulang dari awal tes pembuatan SIM, baik tertulis maupun praktek. Duh, males banget gak sih :(

Padahal, saya waktu perpanjangan SIM 5 tahun lalu, itu hitungannya lebih 1 minggu dari masa berlaku (which is batasnya adalah tanggal lahir). Kalau tidak salah dulu masih ada toleransi waktu untuk perpanjangan SIM dari tanggal aktifnya.


Hyaaa, jadinya saya kecepetan 1 bulan sekian hari dong ini perpanjangan SIMnya. Padahal maksudnya saya duluin, biar gak kelupaan nanti pas masa berakhir tepat di tanggal lahir, 7 Februari 2020. Ternyata pas saya cek lagi, berakhir SIM di masa perpanjangan berikutnya adalah tanggal 31-12-2024, 5 tahun lagi setelah perpanjangan di 31-12-2019 lalu.

Yo wes gak papa, yang penting para pembaca yang budiman yang mampir ke blog ini, jangan lupa diinget-inget tanggal ulang tahun saya ya :D






Dag-Dig-Dug Ketika Harus Nyetir Manual Lagi!

Nyetir mobil manual sebenarnya bukan hal yang baru buat saya. Awal bisa nyetir mobil, punya SIM A, sampai ke perpanjangan SIM pun, saya pernah selama lebih 10 tahun memakai mobil dengan transmisi manual. Hanya saja setelah 1 dekade pindah jalur memakai mobil matic dengan transmisi otomatis, tentu butuh penyesuaian luar biasa ketika harus kembali ke manual.

Kenapa Beli Mobil Manual, Kenapa Gak Matic Aja?

Berawal ketika, suami mendapat tawaran COP, semacam car program dari kantornya untuk para karyawannya. Pengennya tentu cari yang matic lagi dong ya, tapi ternyata dari spesifikasi mobil yang suami inginkan beda sekitar 10-20 jutaan dari budget yang diberikan kantor. Pilihannya bisa tetap dengan mobil yang suami pengen, tapi ambil yang bukan matic, tapi yang manual, karena ini lebih cocok budgetnya.

Kenapa gak bela-belain nambah aja 10-20 jutaan buat dapet yang matic? Mikirnya sayang aja sih, karena masih ada biaya STNK sekitar 5 juta yang harus kami tanggung sendiri, plus kebutuhan masuk sekolah dan pindah dari Jogja ke Jakarta tentunya butuh biaya yang tidak sedikit. Alhasil, kami mengambil COP berupa mobil dengan transmisi manual. Sambil saya meyakinkan diri saya, "Oke bisa Na!".

Mobil dengan transmisi manual ini, lebih banyak untuk urusan antar-jemput anak ke berbagai kegiatan di sekolah maupun luar sekolah. Secara suami kerja dengan sistem roaster, 10 minggu kerja dan 2 minggu libur, tentu saja saya yang banyak pegang mobil tersebut. Meski segenap perasaan deg-degan, tapi Bismillah aja, ini semua tentang pembiasaan.


Nyetir Manual Jogja-Magetan Setelah Vakum 10 Tahun

Awal-awal nyetir mobil manual itu malah pas pergi ke Bromo, saya ditantang suami buat bawa mobil.  Meski cuma nyetir 5 jam sampai Magetan, tapi dag-dig-dugnya berasa banget. Mana cara mundur mobil ini beda dengan mobil manual yang saya pakai 10 tahun lalu. Intinya belajar lagi dan lagi.

Bayangkan, udah lah 10 tahunan gak pegang mobil manual, terus bawa dengan sistem transmisi yang agak beda, dan jarak yang ditempuh gak cuma 20-30 menit, tapi 5 jam. Tapi bukan inna namanya kalo dikasih tantangan terus mundur. Jadi baiklah, saya jabanin tantangan dari pak suami.


Nyetir Manual di Jakarta, Pegal-Pegal Sedap!

Setelah sukses sampai Magetan, project berikutnya adalah nyetir di Jakarta. Belum lah hapal jalannya, cuma modal Gmaps, masihlah ini tangan sama kaki, plus otak mikir, berkoordinasi terbaik buat nyetir manual senin-jumat saat anak-anak berkegiatan.


Kalo nyetir di jalanan yang luas dan lebar sih gak terlalu terasa nyetir mobil manual, tapi lewat jalanan atau lebih tepatnya gang yang super sempit, ibaratnya 2 mobil berlawanan arah ketemu aja, ini jalan udah passsss banget. Ditambah ada got di kanan kiri jalan. Beh, ini biasanya saya langsung nahan nafas, dengan harapan kalo nahan nafas tuh mobilnya mengecil dan bisa lebih mudah masuk di jalan yang gak terlalu besar. Padahal ya ukuran jalan sama mobil juga tetep aja meski nahan nafas, wkwkwk.

Belum lagi, kalo ketemu perempatan dengan lampu merah, dan jalannya ini nanjak plus kamacetan luar biasa, haduhhhh yung, ini kaki yang nginjek kopling rasanya tegang luar biasa. Di awal-awal balik nyetir manual lagi, kaki kiri yang injak kopling & rem, harusnya kan bisa tuh ditaro aja. Tapi gak bisa bok, gak bisa santai saya. Tegang banget, itu kaki kiri pokoknya nemplok dikit antara di kopling atau gas, meski gak diinjek. Jadi ya semacam nahan kaki cuma sekedar nemplok tapi gak nginjek.

Pegel? Ya iyaaaaaaalah!

Pegel-pegel sedep lah rasanya. Pokoknya di bulan pertama nyetir manual di Jakarta, itu udah macam nightmare. Lelah saya Bang, lahir dan batin :D

Dengan transmisi kopling untuk mundur yang berbeda dari yang pernah saya pakai 10 tahun lalu, ini sempat bikin pergelangan tangan kiri saya sakit bukan main untuk beberapa minggu. Untung ada counterpain, halah ini bukan endorse :P

Tapi sumpah, lumayan ngebantu banget pas pergelangan tangan kiri ngilu saat atau setelah nyetir. Untungnya ini hanya berlangsung sekitar beberapa minggu, setelah itu terbiasa.

Kalo saya mengistilahkan, otot yang belum terlatih aja, sama lah seperti waktu saya belajar pose-pose yoga baru, kan ada bagian-bagian otot yang belum terlatih, nah itu pasti pegel luar biasa. Tapi begitu terbiasa, jadi lebih nyaman. Sama seperti saat balik nyetir manual ini, butuh penyesuaian lagi, baik itu fisik yang melibatkan otot-otot kaki & tangan, sampai ke mental yang harus lebih kuat kalo nyetir di Jakarta.

Tau kan kalo mobil manual gak pas saat transisi kopling, langsunglah mati mesinnya, dan ketika ini terjadi di Jakarta, klakson dari kendaraan di belakang kita bagaikan orkestra, alias pencet bel semuaaaaa. Deh, kalo panik malah gak bisa nyala-nyalain lagi tuh mobil! :D

Emak-Emak Nyetir Mobil Manual? Kuy!

Sejak mulai belajar nyetir mobil sampai tiba waktunya punya SIM A pertama kali, saya memakai transmisi manual. Bahkan waktu itu, belum ada model kursus setir mobil seperti sekarang dengan mobil-mobil keren dan terbaru. Jaman dulu, kursus setir itu pake mobil semacam pick up. Setirnya berat banget boookkk! Sampai keringetan gembroyos tiap kelar latihan. Berasa abis fitness dah pokoknya :D

Beruntunglah yang baru ikut kursus nyetir di era-era sekarang. Saya perhatikan hampir tiap tempat kursus sudah menyediakan mobil-mobil matic dan bisa dibilang mobil pun dalam kondisi bagus. Tapi kata kakak sepupu saya, kalau mau jago bawa mobil, justru belajarnya dari yang gak enak dulu. Biar gak manja. Yang setirnya berat dulu. Yang manual transmisinya. Benarkah demikian?

Si Macho Feroza

Mobil pertama yang saya pegang, mobil Daihatsu Feroza. Gagah, macho banget. Mobil feroza ini adalah milik kakak saya yang ditinggal di Jogja untuk aktivitasnya ketika ia pulang dari site tempatnya bekerja. Nah selama dia gak di rumah, saya yang tugas membawa & merawat si Feroza ganteng ini. Kurang lebih seperti ini nih penampilannya (foto nyomot di google)


Dengan Feroza si manual yang perkasa, saya cukup sering pergi ke luar kota bersama Ibu. Mengendarai mobil jarak jauh, tentunya membuat pengalaman nyetir saya terupgrade dengan sendirinya. Jadi lebih lanyah kalo orang Jawa bilang. Makin hari makin smooth. Makin mudah mengenali ritme si transmisi manual ini.

Keuntungan Emak-Emak Bisa Nyetir Mobil Manual Ala Emak Eksis


Bisa jadi, pendapat kakak sepupu saya tentang awal mula belajar nyetir itu sebaiknya pakai mobil manual, benar adanya. At least itu yang saya rasakan dan dapatkan langsung manfaatnya.

Ready Kapanpun

Saya perhatikan beberapa orang yang hanya bisa mengendarai mobil matic, itu jadi semacam menghindari sekali dengan mobil manual. Wajar sih ya, ibarat biasa pake hape android terus disuruh ganti besutan apple misalnya, kadang gak semua orang bisa langsung nyaman, apalagi sudah fanatik. Beberapa ponakan yang dari awal belajarnya pake matic, sekarang malah jarang dipake kemampuannya. Lebih milih kendaraan umum meski ada fasilitas sendiri di rumah. Atau memilih suaminya yang nyetir.

Artinya ketika ada situasi apapun, Insya Allah bisa ready nyetir. Mau adanya mobil manual ataupun matic. Saya dulu pernah membawa ART yang keguguran pakai mobil manual. Ya karena adanya di rumah yang versi manual. Mana waktu itu belum jaman taxi online, telpon taxi yang biasanya kok kayak kurang nyaman, karena jujur si Mbak ART itu cukup berdarah-darah kondisinya. Pas di rumah gak ada kakak saya atau kakak sepupu yang biasanya ready wara-wiri untuk urusan darurat. Akhirnya dengan deg-degan ketar-ketir saya antarkan Mbak ART ke rumah sakit terdekat.


Gak Manja

Ini istilah kakak sepupu saya, kalo terbiasa nyetir matic doang, jadi manja. Jadi pengen enaknya doang. Nah kalo ini, saya tidak sepenuhnya sepakat sih, wong pas saya tahunan pake mobil matic juga tetep ngerasain pegel di tungkai kaki. Meski memang tidak seberat mobil manual, tapi tetep ajaaaa lah kerasa capeknya.


Nyaman Nyetir Mobil Manual Atau Matic?


Nah, kalo disuruh milih nyetir mobil manual atau matic, setelah kurang lebih 24 tahun nyetir kedua jenis transmisi ini, emak eksis milih yang mana ya kira-kira?

Begini pertimbangannya,

Kalau perkara enak dan tidak enak, tentu relatif. Untuk keperluan apa dulu misalnya? Kalau secara budget, mobil dengan jenis dan merk sama, pasti lebih murah mobil manual. Tapi untuk berkendara enak mana? Tergantung juga sih, kalau di dalam kota yang serba macet, jarak pendek-pendek, memang lebih nyaman pakai mobil matic.

Nah kalau urusan salip menyalip, wah ini sih jagonya mobil manual. Kendali kopling perpindahan gigi ada di kita sendiri. Kalau mobil matic, so far yang pernah saya bawa, butuh jeda mikir dulu buat pindah gigi, jadi kadang proses nyalip mobil lain kurang greget.

Tapi denger-denger sih, ada mobil matic yang kalau manuver nyalipnya juga enak seperti mobil manual. Eittss, tentu dengan harga yang wow pastinya ya :D

Gimana Mak, sanggup nyetir mobil manual atau lebih nyaman dengan mobil matic?





Emak-Emak Bisa Nyetir Sendiri? Penting Gak?

Lulus SMP adalah masa-masa pertama saya belajar nyetir baik itu motor maupun mobil. Otomatis ketika kelas 1 SMA saya sudah bisa mengendarai roda 2 dan roda 4. Kenapa seawal itu saya belajar? Sederhana alasannya, karena waktu itu Bapak sudah meninggal, lalu semua kakak-kakak saya berada di luar kota, sebagai anak bontot yang tinggal bareng Ibu, pengen bisa anter Ibu kesana kemari. Meski nyatanya, lebih banyak saya sendiri yang beraktivitas dengan nyetir kemana-mana, untuk urusan sekolah maupun ekskul.

Pengalaman Jatuh dari Motor

Semasa SMA, entah berapa kali saya jatuh dari motor. Waktu belajar pertama kali, sempat ada adegan terbang, alias mencolot melewati gorong-gorong, bareng sama Mbak Ocie, pacar sepupu saya yang ngajarin waktu itu. Pernah juga, karena kurang perhitungan, tersenggol mobil pick up sampai jatuh dan luka-luka. Motor sih fine-fine aja untungnya. Tapi ngilunya ituuuu, kerasa banget pas malem hari.

Jatuh cukup lumayan itu jatuh dengan posisi tengkurap. Semacam mendarat dengan bagian wajah, tepatnya bagian gigi. Sampai-sampai gigi saya yang ginsul jadi rata. Kata Dokter Gigi langganan saya, gigi berhasil dirapikan oleh aspal, wkwkkwk. Hadeh, ini ngilunya juga ampun-ampunan.

Jatuh yang cukup memalukan juga pernah. Jatuh padahal gak kena apa-apa. Seriously, cuma karena mau muter balik, terus gubrak jatuh aja gitu. Terus bangun sendiri sambil geli dan malu-malu kucing :D

Di Era Ojol Seperti Sekarang, Emak-Emak Penting Gak Bisa Nyetir Motor/ Mobil Sendiri?


Usia saya di tahun 2020 ini, menginjak 39 tahun, artinya 24 tahun sudah, masa saya bisa mengendarai motor maupun mobil. Februari tahun ini pun, saatnya saya melakukan perpanjangan SIM A dan SIM C untuk kesekian kalinya. Sebelum bisa nyetir sendiri, saya juga termasuk yang akrab dengan aneka angkutan umum, dari mulai angkot seperti daihatsu saat masih SD-SMP di kota Semarang dan juga naik bis kota selama SMP di Jogjakarta.

Suatu saat, Ibu saya pernah bilang. Perempuan itu sebaiknya bisa bawa kendaraan sendiri, entah itu sepeda, motor, ataupun mobil. Ibu juga berpesan, dengan bisa nyetir sendiri itu, perempuan bisa lebih mandiri, gak harus tergantung atau nunggu suami kalo ada urusan mendadak. Selain itu, bisa membantu orang lain yang sekiranya membutuhkan.


Tapi di era maraknya ojek online seperti sekarang, apakah sosok emak-emak tetap penting buat bisa nyetir motor/ mobil secara mandiri?

Jawabnya bisa iya, bisa juga tidak, tergantung pada tingkat kebutuhannya. Kalo saya termasuk yang butuh skill bisa nyetir sendiri. Meskipun saya termasuk pengguna ojol cukup aktif, terutama salah satu yang aktif oder makanannya. Atau ketika kendaraan masuk bengkel, maka pilihan utama langsung order ojol, daripada harus naik angkot yang jamnya tidak bisa menyesuaikan jadwal yang saya punya. Ketika naik transportasi umum seperti pesawat atau kereta, biasanya saya juga memakai ojol untuk menuju bandara ataupun stasiun. Berasa lebih ringkas, dan gak perlu ngerepotin saudara/ kerabat buat nganterin.

Emak-Emak Bisa Nyetir Sendiri Itu Penting, Ketika...

Meski saya cinta ojol, dengan kemampuan nyetir dari usia belasan tahun, sempat merasakan memakai angkot selama beberapa tahun, pendapat saya tentulah lebih cenderung bahwa bisa nyetir motor ataupun mobil itu penting buat perempuan, apalagi emak-emak seperti saya.

Suami kerja di luar pulau dengan durasi kerja 10 minggu dan libur 2 minggu, tentunya membuat 10 minggu saya yang sendiri ngurus anak-anak di kota besar, mau gak mau harus belajar mandiri dalam urusan apapun. Anak sakit, cusss harus segera ke dokter, maka saya juga bergegas ke rumah sakit terdekat. Antar jemput anak-anak sekolah/ les, tentunya lebih murah dibanding memakai jasa antar jemput sekolah. Belanja bulanan, wusss langsung belanja. Meski kadang juga cenat-cenut kalo lewat jalanan Jakarta yang belum pernah saya lewati. Takut nyasar, padahal udah pake gmaps :D

Antar jemput suami ke bandara saat mau bertugas ke luar pulau, ini juga satu hal yang saya syukuri, dengan saya bisa nyetir sendiri. Kebayang kalo pake ojol seperti Go-Car atau Grab-Car, bisa habis berapa tuh ya, dari jarak rumah kami yang ada di Bekasi mepet Cibubur begini. Belum tau juga sih, bis bandara yang ngetem di area Cibubur itu dimana. Mungkin lain kali, bisa dicoba nih.

Secara masih baru pindahan, belum begitu mengenal banyak jalan dan lokasi, maka nyetir pun hanya kisaran tempat-tempat yang benar-benar kenal, atau benar-benar butuh. Misal saat suami masih tugas di luar pulau, sementara anak-anak ada kegiatan akhir pekan di tempat yang cukup jauh. Sekali lagi,  mau gak mau, ya saya jabanin. Meski kadang panik-panik asoi pas salah ambil jalur :D

Manfaat Bisa Nyetir Motor/ Mobil Buat Emak-Emak, Bisa Jadi  Tambahan Penghasilan!

Kalo ini, bukan pengalaman saya sendiri. Tapi ini pengalaman kakak ipar saya. Setelah kakak saya alias suami kakak ipar saya ini meninggal. Kakak Ipar saya yang bernama Mbak Yanti ini pindah ke Jogja. Semenjak anak sulungnya menikah, dan anak keduanya jelang lulus kuliah, Mbak Yanti yang juga punya pengalaman nyetir cukup lama, mendapat tawaran pekerjaan sebagai sopir pribadi tetangganya yang kebetulan punya 6 anak, dan jadwal pekerjaan cukup padat. Nah di usia Mbak Yanti yang sudah tidak muda lagi, malah punya kesempatan pekerjaan dengan penghasilan cukup lumayan untuk ukuran Jogja. 

Setidaknya dengan umur Mbak Yanti seperti sekarang, masih bisa beraktivitas, meski orang bilang *cuman nyetir*, tapi penghasilannya bisa untuk menopang hidupnya sendiri, tidak hanya uang bulanan dari anak-anaknya. See, sederhana banget ya sebenernya, manfaat bisa nyetir/ mobil seperti yang kakak ipar saya alami ini. 

Bahkan kalo kita perhatikan, ojol baik motor maupun mobil pun sekarang cukup banyak perempuan-perempuan yang berada di balik kemudinya. Tentu demi mendapatkan penghasilan untuk dirinya dan keluarganya.

Nah gimana, kamu termasuk perempuan yang udah bisa nyetir motor/ mobilkah? Sejak kapan? Atau belum bisa dan tertarik untuk belajar nyetir sendiri?


Hati-Hati, Jangan Sampai Terlambat Perpanjang SIM!

"Padahal cuman lewat sehari aja nih perpanjang SIM, eee disuruh tes dari awal lagi seperti bikin baru", curhatan seorang Emak-Emak salah satu wali kelas di sekolah anak saya sekitar setahunan lalu. Si Emak bersuami bule Amrik tersebut langsung cerita ke saya, tes yang dijalani juga sama seperti saat pertama kali mau bikin SIM, baik itu tes tertulis maupun praktek.

"Duh males banget kan mbak kalo gitu", begitu tambahnya sambil terlihat kesal.

Well, saya juga bakalan kesel kalo harus ngulangin dari awal lagi dalam perihal pembuatan SIM. Bukan apa-apa sih, secara sebagai emak-emak anak 2, yang keliatannya cuma wara-wiri anter jemput sekolah ama les doang, gini-gini punya jam terbang cukup tinggi #tsahhhh :P

Dari cerita harus tes lagi gegara telat sehari perpanjangan SIM, maka saya pun langsung ngecek SIM A dan SIM C saya. Ternyata masa berakhirnya di minggu-minggu awal bulan Februari 2020. Langsung lah wanti-wanti ke diri sendiri, jangan sampai lupa!

Pindah Jakarta, Ngurus SIM Alamat Jogja, Dimana Jadinya?

Bersamaan dengan pindah ke Jakarta, saya sebenarnya udah pengen ngurus perpanjangan SIM sebelum pindah. Tapi manusia manapun pasti tau, betapa ribetnya ketika ngurus pindahan, jadilah saya putuskan untuk menunda dulu. Dalam pikiran saya, bisa balik ke Jogja kisaran Januari atau saat anak-anak libur sekolah. Atau mungkin gak saya perpanjangan SIM di Jakarta aja, artinya beda lokasi perpanjangan SIM. 

Langsunglah inget, punya kenalan yang suaminya kebetulan polisi. Saya menanyakan apakah bisa memperpanjang SIM di beda kota beda propinsi. Ya info dari google udah ada, tapi semacam biar mantep aja kalo konfirmasi langsung ke pihak yang bener-bener tau.

Dan ternyata, benarlah info yang saya dapatkan di google, kalo kita ternyata bisa perpanjangan SIM dimana aja, beda kota pun gak masalah, karena sudah serba online.

Lalu saya mencari info tentang pengurusan SIM di Jakarta, eh Bekasi tepatnya, atau Bekasi-Cibubur, tempat tinggal saya sekarang. Bekasi mepet Cibubur :D

Ketemulah di beberapa tempat, saya lakukan survey, tapi ternyata tempat yang terdekat dengan lokasi saya, ternyata belum beroperasi seperti yang tertera di berita online. Tuh kan, gak semua info di online itu benar realitanya. Inilah perlunya cek & ricek. Saya sengaja cek dulu, biar nantinya gak terlalu mepet dan panik ketika mau memperpanjang SIM A ataupun C.

Dan akhirnya, setelah menimbang matang-matang, saya memutuskan untuk perpanjangan SIM di Jogja, karena memang sudah punya rencana untuk ke Jogja di libur sekolah anak-anak. Pertama untuk mengambil beberapa barang yang masih tertinggal saat pindahan ke Jakarta. Kedua, Ibu saya alias Eyangnya anak-anak pengen banget nengok kondisi rumah saya di Jakarta sejak pindahan ini. Nah, langsung lah sekalian aja buat ngurus SIM kan?

So, here we go, Jogjaaa I'm coming :D

Pengalaman Perpanjangan SIM A & SIM C Jelang Akhir Tahun 2019

Secara saya ke Jogja menjelang akhir tahun 2019, maka saya juga harus cek lagi, tanggal buka dan tutup pelayanan SIMnya. Pilihannya tentu ke SIM Keliling atau SIM Corner terdekat rumah Ibu di Jogja. Kepepetnya misal pada tutup, ya mau gak mau, saya harus ke Polres terdekat, which is ini hitungan jaraknya cukup jauh, dan macet luar biasa ketika musim liburan akhir tahun di Jogja.

Ketika 5 tahun lalu, saat saya masih bekerja di Radio Rakosa, saya melakukan perpanjangan SIM di tempat saya bekerja ini. Tapi SIM Keliling di Radio Rakosa Jogjakarta, hanya beroperasi hari Jumat. Sementara saya sampai Jogja baru Jumat malam, dan Jumat depan sudah balik ke Jakarta.

Teringat saya, dengan seorang teman content writer, yang pernah melakukan perpanjangan SIM di Jogja City Mall. Setelah tanya-tanya, pagi hari harinya saya langsung menuju mall yang berada di kawasan Jalan Magelang ini. Tepatnya di hari Senin tanggal 30 Desember 2019. 


Perpanjangan SIM A & SIM C di Jogja City Mall

Udah pede banget dong, dateng cukup pagi jam 8an, karena infonya formulir udah dibagikan mulai jam 7 pagi, meski pelayanan baru mulai jam 9. Berada di kawasan parkiran P2, dimana ini parkiran cukup bawah. Untungnya saya pergi bareng anak saya, lumayanlah ada yang nemenin, gak lucu kan kalo ada yang nongol-nongol di gelap-gelap sambil cekikikan. Fix, kebanyakan nonton youtube genre horror! 

Setelah menerobos gelap, barulah di P2 lampu lumayan terang. Ternyata di jam 8-an pagi, udah ada sekitar 20 orang yang antri. Beberapa ngisi formulir, beberapa tanya-tanya. Dengan langkah percaya diri saya ke meja admin. "Fotocopiannya?", tanya si Bapak.

Barulah saya ngeh. Hadeh. Lupa lagi fotokopi. Padahal udah sempet cari infonya, dan nemu tentang syarat fotokopi, tapi sayanya yang lupa. Terlalu fokus sama nyari tempat perpanjangan SIM doang sih :D

Nah buat Om Tante sekalian yang juga mau perpanjang SIM, jangan lupa sama syarat berikut yes. Karena bukan saya aja yang gak notice/ lupa sama syarat ini, banyak juga ternyata yang datang berbarengan dengan saya :D

1. SIM asli yang akan diperpanjang
2. Fotokopi SIM yang akan diperpanjang
3. KTP asli
4. Fotokopi KTP 
5. Surat keterangan sehat (tersedia di sim corner)

Lalu saya tanya di Bapak yang tugas di meja admin tersebut, apakah tanggal 31 masih buka? Ternyata masih buka, tapi cuma sampai jam 11 siang. Baiklah, saya putuskan datang besok lagi. Daripada harus antri lebih lama lagi karena di jam 8 itu sudah lumayan antriannya. Belum lagi saya harus keluar mall dulu buat cari tempat fotokopian.

Esok harinya, Selasa 31 Desember 2019, saya datang lagi ke SIM Corner Jogja City Mall. Lebih pagi dari sebelumnya. Jam 7.30an saya sudah sampai, dan baru ada 3 orang termasuk saya yang mengambil formulir. Karena tutupnya lebih cepat, maka pelayanannya pun juga dipercepat. Menunggu sebentar untuk mendapat surat keterangan sehat, lalu difoto, dan beberapa saat kemudian SIM udah jadi. Untuk biaya perpanjangan SIM per desember 2019 saat saya melakukan perpanjangan, SIM A sebesar Rp 80.000,00 dan SIM C Rp 75.000,00.


Tips Perpanjangan SIM

1. Cek dan perhatikan benar kapan tanggal berakhirnya SIM, jangan sampai telat. Kadang ada beberapa toleransi ketika tanggal merah, tapi sebaiknya hindari banget deh, kecuali kita bener-bener dapet info valid berapa hari toleransinya dari tanggal berakhirnya SIM. Intinya sih, usahakan jangan sampai harus ngulang tes dari awal lagi. Kecuali kamu no problem, kamu sungguh sangat selo, silahkan aja :D

2. Siapkan budget. Baik itu untuk perpanjangan SIM, biaya surat keterangan sehat juga. Bisa jadi di tahun-tahun lain berbeda, cari aja info beritanya di artikel terbaru.

3. Datang lebih awal. Kalo pengen dapet pelayanan lebih cepat, memang sebaiknya kita datang lebih awal. Seperti SIM CORNER di Jogja City Mall, ini sebenernya baru mulai jam 9, tapi jam 7 udah mulai berdatangan. Kecuali kalo kita pengen nongkrong lama-lama, bisa bawa cemilan atau budget tambahan buat jajan :D

Nah, gimana gaes, kapan tanggal berakhirnya SIM kamu, yuk cek cek cek!