Great Talk, Great Sex?

Dari awal mengenal, saya mulai menemukan bahwa karakter lelaki yang saya pilih sebagai pendamping hidup ini, adalah lelaki yang tidak banyak cakap. Atau memang nyatanya lelaki sejati demikian? Jarang bisa berkomunikasi terbuka meski dengan pasangannya sendiri.

Lelaki sejati? Memang kalau yang tidak sejati beda gitu ya? Mmm, ini cuma analisa pribadi saja sih. Kebetulan saya pernah bekerja di ranah broacasting radio, dan sebagian rekan-rekan saya yang berjenis kelamin laki-laki, yang mereka ini tampak asyik diajak ngobrol, renyah dalam tiap pembicaraannya, beberapa diantaranya ternyata punya kecenderungan suka dengan sesama laki-laki. Eh tapi ini hanya beberapa loh ya, bukan berarti lelaki yang gampang berkomunikasi, lancar dalam berkata-kata itu semuanya punya kecenderungan seksual yang sama. Buktinya saya juga punya teman penyiar yang juga MC, tapi dia dalam koridor tetap suka dengan perempuan.

Ok ok, balik lagi ke pertanyaan saya di paragraf pertama. Apakah laki-laki memang pada dasarnya lebih pendiam, introvert, tidak bisa mengungkapkan perasaannya? Bisa jadi iya, ini yang saya alami selama 14 tahun pernikahan. Pas di awal, jangan ditanya, duhhh saya bisa entah berapa kali ngambek, karena merasa suami ini kok gak mudeng-mudeng ya dengan maksud saya.

To The Point

Ya, tipe suami saya, memang orang yang to the point. Gak bisa tuh, dikasih kode-kode doang, sinyal-sinyal aja, harus aja action langsung, baru noh paham! wkkwkwk. Jadi ya Mak, kalau ngerasa kok suami gak paham sih, suami gak ngerti-ngerti juga sih, pertanyaannya udah langsung bicara belum tentang maksud kita seperti apa? Bicara ya Mak, bukan sewot dan marah-marah.

Gimanapun manusia, punya ego, suami yang bilang sayang dan cinta sama kita  pun, bisa kepancing emosinya kalau kita tidak membuka percakapan dengan positif.

Misal nih saya dulu, mau minta tolong sesuatu hal, itu bukannya minta tolong langsung, tapi cuma ngasih kode-kode. Ya gak pernah nyampe lah ke pikiran suami. Wong cuma kode-kode, mana jelas? Yang ada, sayanya uring-uringan, terus suami bingung ini istrinya kenapa coba? wkwkwk

Kalau sekarang, tiap saya butuh bantuan, ya saya bilang langsung, ngomong terus terang. Misal pas suami off dari site kerjanya, otomatis 2 minggu di rumah full kan, setelah 10 minggu berada di luar pulau. Di saat inilah, saya minta tolong suami untuk antar-jemput anak, belanja ke indomaret atau hal-hal lainnya, yang biasanya saya bisa kerjakan sendiri, tapi begitu suami di rumah, boleh dong bagi-bagi tugas. Mumpunglah 😄

Komunikasi Lancar = Seks Lancar?

Halah, ini maksudnya seks lancar apa sih? Hahaha. Maksudnya tuh begini para emak sekalian. Setelah saya pelajari bertahun-tahunnnn, ternyata yang namanya membangun komunikasi dengan suami, itu memang butuh proses. Kita gak akan pernah bisa merubah karakter aslinya kok.

Suami saya yang tipe pendiam, apa-apa dipendam sendiri, ini juga akan selalu begini. Hanya saja, dengan rutin saya cerita tentang anak-anak, kondisi di rumah, apa keluhan saya, apa yang bikin saya semangat, tanpa saya sadari kok ini bikin suami juga bertahap bisa dengan sendirinya cerita tentang dunia kerjanya, apa kegalauannya, dan lain sebagainya.

Tanpa saya sadar juga, ternyata ini membawa pola hubungan kami sebagai suami istri. Istilah jaman now, skidipapap. Haduhh, ini gak ngerti kenapa bisa gitu ya, hubungan suami istri, atau hubungan seks suami istri, bisa jadi ada istilah skidipapap. Hahaha, ada-ada ajaa bahasa gaul sekarang ini.

Jadi-jadi gimana tadi?

Gini-gini, pola komunikasi 2 arah yang saya dan suami bangun, atau lebih tepatnya jatuh bangun kami bentuk selama ini, ada pengaruhnya juga buat hubungan yang skidipapap itu. Masing-masing jadi bisa jujur dengan apa yang kami suka dan tidak suka.

Pose apa yang kami nyaman, dan tidak nyaman. Sentuhan bagian mana yang bikin pengen lagi, dan gak pengen disitu lagi. Yaaaaa intinya, serangkaian skidipapap itu udah pada apal kan ya Mak Emak sekalian? 😆

Tell Me, What You Want!

Yes, ketika komunikasi positif berhasil kita bangun dengan suami, otomatis hubungan ke ranjang pun juga mengikuti. Gak perlu sungkan Mak, untuk bilang, apa yang kita suka dan enggak. Suami mah kadang gitu, kita harus to the point aja, sampaikan apa adanya. Barulah doi paham.

Suami itu udah lelah kerja di kantor, dan otak laki-laki itu memang bisanya fokus 1 hal. Butuh lama gitu untuk menswitch arah fokusnya. Jadi kalau pulang kantor, masih diem aja, biarkan aja bentar, karena pekerjaan kantornya masih ada di dalam pikirannya tuh Mak.

pic: pexels.com

Setelah suami mandi, makan, barulah kita bisa buka percakapan. Kalau saya, biasanya dengan menceritakan anak-anak dulu. Hal yang membuat suami antusias, barulah cerita-cerita hal lainnya. Dengan begini, maka pas misal cerita-cerita ini nanti berlanjut ke tempat tidur, dijamin deh Mak, skidipapapnya bisa makin maksimallll

Namanya membangun mahligai pernikahan, memang gak pernah selamanya mulus, ibarat kita menggambar nih Mak, kadang perlu dihapus, perlu diperbaiki gambarnya, diwarna-warna biar makin cakep. Gak ada yang sempurna, yang ada suami istri bekerjasama untuk saling menyempurnakan 😍




Post a Comment

EmakEksis.com | A Lifestyle Blogger
Theme by MOSHICOO