Tanya Jawab Tentang Podcast (Untuk Pemula)

Kurang lebih setahunan ini, saya mulai tertarik dengan podcast. Sempat install beberapa aplikasi yang dibutuhkan, terus dihapus lagi, karena semacam bingung ini harus diapain sih?

Terus karena penasaran, install lagi dong, tapi lebih sebagai pendengar aja. Ngamatin beberapa podcaster yang sesuai minat saya, seringnya sih dengerin Do You See What I See, itu tuh podcast horor yang sering diundang Raditya Dika di channel youtubenya.

Tapi karena belum merasa butuh aplikasi ini, yaaa saya uninstall lagi, wkwkwk. Karena merasa youtube itu sudah cukup, dan konten semacam Do You See What I See itu juga diupload di youtube, jadi kenapa saya harus punya aplikasi buat podcast? Pikir saya waktu itu.

Sampai tiba beberapa minggu lalu, salah satu teman di instagram, yang kebetulan juga punya blog, sering membagikan aktivitas ngepodcastnya. Lalu, saya baca di blognya seputar podcast ini, terus ingatlah saya dengan aplikasi yang pernah saya install sampai 2x, terus uninstall lagi.

Saat belajar tentang bagaimana membuat podcast ini, saya pun menemukan bahwa salah seorang teman masa siaran dulu, sudah punya podcast. Saya langsung dengarkan podcastnya, dan makinlah membara keinginan buat ngepodcast juga.

Podcast Ini Apa Sih?

"Mbakkkk, dari tadi ngomong podkas podkes, ini apaaa jeee?". Nah, ini juga pertanyaan saya waktu awal mengenal kata podcast ini saat nonton youtubenya Deddy Corbuzier.

Bahkan saat saya share tentang podcast yang saya bikin, ada yang tanya di DM tentang apa sih podcast ini?

Mmm oke gini, kalau youtube kita mendapat suguhan audio visual bersamaan. Nah kalau podcast ini, kita hanya bisa mendengar suara aja. Ya, sama seperti ketika denger radio lah gampangnya. Bedanya, kalau di radio kita bisa mendengarkan aneka acara dan lagu dalam 1 radio saja, sementara podcast rata-rata masih dikelola individual, atau meskipun grup, dalam jumlah belum terlalu banyak.

Sama halnya seperti radio, podcast ini punya genre berbeda, mmm sama berarti ya seperti blog. Ada yang temanya gado-gado, ada yang lebih seperti motivasi, ada yang curhatan suami istri, dan lain-lain.

Ok, Kalau Ini Semacam Radio, Bisa Denger Dimana?

Ada beberapa aplikasi nih, tapi yang so far saya pakai dan tau sekarang adalah ada 3,  yaitu: Anchor, Spotify ataupun Apple Podcast.

Anchor

Spotify


Anchor & Spotify, tentu perlu download dulu di smartphone masing-masing, sementara Apple Podcast ini sudah tersedia bagi para pemakai produk besutan Apple.

Apple Podcast

Kalau Pengen Ikut Ngisi Podcast, Caranya Gimana?

Nah, kalau gemes pengen bikin podcast sendiri, artinya bikin semacam akun. Monggo mau kasih nama apa saja. Yang perlu disiapin tentunya alat perekam suara, pakai smartphone dulupun gak masalah, pastikan aja suara yang tertangkap jelas dan minim noise. Setelah rekam, mau langsung upload juga boleh, mau pakai diedit dulu juga silahkan. Nah, perkara ngeditnya gimana, lebih afdol di postingan lain aja yaaa biar lebih detail penjelasannya.

Intinya, setelah kita rekam di hp, langsung upload di podcastpun langsung bisa.

Cara Upload Podcast Itu Gimana?

Ok jadi gini nih kalau pengen upload konten di podcast -->

Hasil rekaman, upload ke Anchor. Lalu, dari anchor ini akan mendistribusikan sendiri otomatis ke saluran-saluran podcast lainnya, seperti Spotify, Appla Podcast, Google Podcast, dll

Bisa Promosiin Podcast Kemana?

Sama seperti platform lainnya, podcast ini juga ramah dengan sosial media. Kita bisa share di facebook, twitter, instagram, dll. Malah kalau di story facebook & instagram, bisa langsung ada link yang bisa diklik loh! Apalagi instagram story tuh, gak perlu nunggu 10ribu follower biar bisa swipe up. Kalo kita share podcast dari akun spotify, bisa langsung otomatis muncul tuh link ke spotify kita tanpa perlu swipe up cuyyy!

Nah gimana, udah ada gambaran belum tentang si Podcast ini? Kalau belum jelas-jelas banget, sokk manggaa mampir ke Podcast Emak Eksis berikut ini, biar makin pahamm *moduspromosi*

Podcast Emak Eksis >>> https://open.spotify.com/show/6i1pdofKizghLzd3Qm1Oc7?si=6o4uLLxwQAiWqRxSkzhm5A

Film Dolittle Robert Downey Jr, Kurang Greget?

Dolittle, film pertama Robert Downey Jr. setelah menggantung armor Iron Man dari film Avengers End Game tahun 2019 lalu. Jangan harap menemukan sosok Robert yang 100% berbeda saat ia memerankan Dokter Dolittle, karena ada beberapa senyuman khas dan cara bicara yang Tony Stark banget. Ya, gimanapun Robert ternyata belum bisa lepas dari bayang-bayang karakternya sebagai Iron Man di dalam film fenomenal besutan Marvel.

Ketika sebagai Iron Man, maka kekuatan berasal dari outfitnya, sementara dalam film Dolittle, kemampuannya berbicara dengan binatang adalah sesuatu hal yang membuat sosoknya istimewa. Sebagai dokter yang bukan hanya bisa mengobati manusia, tapi juga binatang yang membutuhkan bantuannya.



Bagus Mana, Dolittle Versi Eddy Murphy atau Robert Downey Jr.?

Dari info yang saya dapatkan, Film Dolittle ini juga ada di era 1967, tapi karena saya belum pernah nonton, jadi saya review versi 1998 yang diperankan Eddy Murphy, disandingkan dengan Dolittle versi terbaru yang tayang mulai pertengahan Januari 2020 ini.



Tingkat Kelucuan

Ya, tidak bisa dipungkiri, kalau image Dolittle itu lucu. Salah satu part yang ditunggu-tunggu adalah, kapan nih lucunya? Bagian mana yang lucu?

Eddy Murphy, memang seorang komedian, dari ekspresi wajahnya saja, kita sudah bisa tertawa. Yang saya alami, ketika nonton Dolittle versi lama, meskipun berkali-kali, tetap saya bisa tertawa dan cukup terpingkal-pingkal.

Beda halnya ketika nonton Dolittle versi baru yang diperankan Robert Downey Jr. Ada kesan lucu sih, tapi semacam kurang nendang. Nanggung lucunya. Kalau Robert bisa bermain cukup apik saat memerankan Charlie Chaplin, sehingga mendapat bintang 7.6 di IMDB, sementara dalam film Dolittle ini tampaknya ada usaha cukup keras bagi Robert, supaya tampak lucu. 

Kenapa kalau Robert berperan sebagai Tony Stark di film garapan Marvel, ketika ngebanyol terdengar lucu? Barangkali karena itu ada bumbu dari Film Avengers supaya tidak terlalu serius. Tapi ketika berada dalam scene film yang *diekspetasikan lucu*, maka saya bilang bahwa Robert cukup kewalahan di Film Dolittle ini.