Cerita di Balik Lahirnya Emak Eksis

Mak, ada yang usianya jelang atau lebih 40 tahun? Detik-detik jelang usia yang dibilang orang, sebagai usia matang, pernah gak sih kepikiran, udah ngapain aja, udah bikin karya apa aja, ibadah kita gimana, sedekah selama ini gimana?

Nah, itu tuh Mak, yang bersliweran di kepala saya beberapa tahun terakhir ini. Apalagi ingat betul, kakak saya ketika meninggal di usia 40 tahun, pencapaian dalam hidupnya begitu luar biasa, baik karir, keluarga maupun ibadahnya. Lah saya, tahun depan masuk 40 tahun, udah ngapain aja?

Jatuh bangun membangun karakter & mental, up & down kepercayaan diri, dealing with my anxiety disorder, memang hal yang saya tempuh bertahun-tahun, bisa dibilang dari masa remaja hingga setelah punya anak, detailnya sudah saya ceritakan semua melalui audio podcast.

Tulisan ini, adalah bagian dari keseluruhan cerita yang saya sampaikan di podcast, sementara sekarang saya hanya lebih membahas tentang ide hingga terciptanya Emak Eksis.

Mulai sekitar 2-3 tahun lalu, saya makin aware dengan apa yang sudah dan akan saya lakukan. Sebelumnya gimana? Haduh, sebelumnya cuma mikir galau, resah gelisah, bingung gak jelas.


Apa yang Sempat Bikin Galau di Masa Lalu?

Meski jadi kesadaran saya sepenuhnya, bahwa memilih kerja di rumah adalah pilihan, tapi ternyata menjalaninya gak semudah itu. Tetep aja galau tiap lihat update teman-teman sekolah, yang makin moncer karirnya di kantor. Apalagi sesama emak-emak juga seperti saya. Haduh, saya sampai sempat gak mau loh, tiap ada ketemuan reunian atau teman-teman masa sekolah dan kuliah, karena ketakutan gak jelas.

Takut apa?

Jaman anak masih 1, salah satu masa-masa *tertekan* 😌

Takut ditanya apa aktivitasnya! Iya, gara-gara ini doang, Mak!

Takut dipandang sebelah mata, kenapa ini perwakilan siswa teladan tingkat propinsi kok sekarang malah ngendon di rumah aja? *Cuma* ngurus anak doang?

Takut dicibir, kenapa ini lulusan kumlot dengan prediksi karir luar biasa dari para dosen, berakhir di rumah aja, yang masak aja gak pinter-pinter amat, ditambah berkarya pun enggak!

Duh Mak, begitulah saya beberapa tahun lalu. Sering banget ngalamin, kecemasan demi kecemasan. Sampai muka saya dong, keliatan lebih tuwa dari usia sebenarnya. Keliatan gitu mumetnyπŸ˜…

Berhenti Oriflameman

Salah satu titik tergalau adalah ketika berhenti berbisnis Oriflame. Menjalani bisnis tersebut selama 4 tahunan, saya semacam punya keluarga baru, sudah terlampau dekat dengan tim saya, dan menganggap mereka seperti keluarga. Kenapa akhirnya keluar dan meninggalkan bisnis yang memang sebenarnya berpotensi besar?

Simple aja, Mak, saya kurang nyaman menjalaninya. Nah, mesti tanya lagi, kenapa gak nyaman? Karena MLM? Jujur, bukan karena ini, karena saya juga pelajari benar tuh bisnis real MLM ataupun sistem piramida dan money game yang merugikan.

Saya merasa, saya gak berkembang sesuai passion saya. Yang ternyata, setelah saya telusuri lagi, dunia pelaku suara adalah passion saya selama ini, yang dulu pernah ada dalam hidup saya, saya tinggalkan karena berpikir gak nguntungin secara hasil. Namun nyatanya, semua hal gak bisa tho dinilai dengan hasil dari sisi materinya?

Begitu pun ketika dulu gabung Oriflame dan sungguh-sungguh menekuninya, 5-7 juta perbulan Mak waktu itu masuk di rekening perbulan. Dan saya anti jadi leader yang gak amanah. Saya kerjain bener-bener, membina jaringan, bikin training, almost everyday. Saya lakukan ini semua, ya waktu itu mikirnya pengen bantu keuangan keluarga, secara suami saat itu masih belum settle secara karirnya, jadilah saya berpikir, satu-satunya jalan saya harus berbisnis, harus cari duit sebanyak mungkin πŸ˜†

Ketika akhirnya saya putuskan berhenti Oriflameman, email pamitan ke para Manager di group saya, ini saya mewekkkk, Mak. Sumpah. Bukan perkara karena saya meninggalkan bisnis ini, tapi karena daily activity saya waktu itu, yang hampir tiap hari kontak ke mereka, jadi bakal berkurang kan pastinya setelah gak Oriflameman lagi?

Lebih berat meninggalkan orang-orangnya. Jadi leader MLM, memang kita jadi tau benar, apa mimpi member di jaringan kita. Saya bisa tau, ada yang gabung karena suaminya sakit dan gak bisa kerja. Saya bisa kenal dengan anak muda pejuang untuk keluarganya, dan beragam kisah lainnya. Kisah-kisah ini, yang begituuu sulit buat saya, untuk melepas bisnis tersebut.

Saya akhirnya keluar, bukan ketika turun level, saya keluar di level yang sama, dengan penghasilan bulanan yang masih terbilang besar. 
Orang bisa bilang, "Gila loe ya Na, udah dapet duit segitu, ditinggalin gitu aja?".

Setelah proses pemikiran panjang dan mendalam, saya nilai, gak akan bagus untuk lahir batin saya. Saya tipe gak tegaan, jadilah saya kerjain Oriflame ini sampai lembur, begadangan. Ya, saya tau, setiap hasil besar, butuh usaha besar. Tapi bukan dengan mengorbankan kesehatan.

Begadang bikin mood sering berantakan, bahkan karena seringnya berinteraksi mantau jaringan pakai handphone, beberapa bagian di jari dan tangan saya sering merasa ngilu, yang ketika ditelusuri lebih jauh, karena memang pemakaian gadget yang berlebihan.

Lalu kenapa, setelah berhenti Oriflameman jadi makin galau?
Karena rutinitas yang sebelumnya begitu padat, dan saya berada di tengah-tengah kebingungan, mau mengerjakan apa nih?

Eksis itu tentang dirimu!

Sampai kemudian, bertahun-tahun setelah saya berhenti berbisnis Oriflame, setelah berdoa dan meminta ke Allah langsung, apa yang sebaiknya saya lakukan, paling gak, hal apa yang membuat diri saya bisa bermakna lagi?

Ternyata jawabannya, gak jauh dari apa yang pernah saya jalani bertahun-tahun lalu, yaitu dunia pelaku suara. Pernah siaran, pernah kerja di televisi berkutat dengan segala ide kreatif, ternyata inilah yang membawa saya kembali. Membuat saya UTUH!

Waktunya lebih fleksibel, saya bisa lebih dekat ke anak-anak, bisa punya waktu untuk ibadah lebih khusyuk, punya kesempatan untuk eksplore kemampuan saya, bahkan bisa lebih fokus mengenali minat bakat anak-anak.

Hingga lahirlah Emak Eksis, dalam bentuk tulisan di blog dan curahan kata di podcast. 
Karena ketika kita adalah adalah perempuan, gak kerja kantoran, gak punya bisnis, pastilah pernah berada di masa, kita merasa bukan siapa-siapa. 

Saya pernah berada di titik tersebut, dan melalui karya yang saya tulis maupun saya ungkapkan dalam versi audio, saya berharap bisa memberi kekuatan ke para perempuan, ke para ibu, ke para emak, yang pernah dalam posisi terpuruk saya, untuk bisa bangkit, dan menemukan passionnya.

Menemukan hidupnya.

Eksislah dengan apa yang kita suka, yang kita bisa. Merasa gak bisa apa-apa? Percaya Mak, kulik kulik terus, nanti pasti ketemu. Telusuri lagi lorong waktu, ketika masih SMP, SMA, masa-masa kuliah, masa-masa kecil dulu, apa yang dulu pernah jadi cita-cita kita, apa yang pernah jadi pengen kita, bisa jadi ini titik balik kebangkitan kita detik ini.

Yuk Mak, kalau mau galau, boleh monggo aja, take your time. Kadang galau itu salah satu cara mengusik kegelisahan kita, sampai kita tau benar, harus melangkah kemana.

Saran saya, plis bentar aja galaunya, karena ketika sudah punya anak, galau kita bakal nyetrum ke mereka, berpengaruh ke mentality mereka. Suami pun bakal kesetrum Mak, kerjaan bermasalah dan aneka hal keruwetan lainnya.

Perempuan adalah Cakra (pusaran energi) bagi suami & anak-anaknya

Perempuan sebagai istri dan ibu, adalah cakra dalam keluarganya. Kitalah pusat energinya Mak, sukses anak-anak dan suami, letaknya ada di pola pikir kita.

Yang masih butuh waktu merenung, silahkan, tapi sekali lagi, jangan lama-lama ya Mak, karena waktu terus berjalan 


30 comments

  1. Pengalaman yg begitu menyentuh Mbak, mengharu biru kala membacanya.. Duh, kalau sy ada di posisi itu kumaha yak? Luar biasa sharenya Mbak, smg kita semua bisa eksis di semua posisi yg kita duduki saat ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yess mbk, semangat eksis, semangat terus berkaryaaa

      Delete
  2. Mbaaakkk, boleh bagi peluukkk doonggg!
    Ini kok samah banget! Meski nggak sama durasinya hahaha.

    Saya banget, di awal jadi IRT galaaauuu setengah mampus, saya sampai menghilang lama dari kancah dunia maya.
    Malu ketemu orang, baper kalau liat teman naik jabatan, hiks.

    Terus Oriflamean.
    Dan iya ya, jari saya ngilu Mba, kadang sekarang juga gitu sih, kebanyakan ngetik hahahaha.

    Sayapun Oriflame an benar-benar totalitas, begadang almost everyday, ke mana-mana pegang hape.

    Saya bahkan sempat 3 kali menggosongkan panci, saking ditinggal liat hape hahaha.

    Tapi saya nggak pernah sampai SM apalagi director.
    Entah mengapa nasib saya selalu nggak sebanding dengan kemampuan saya hahaha

    Ah tapi sudahlah, benar kata Mbak, emang kita wanita kudu setrong!
    Semua butuh kita.
    Baik anak maupun suami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betyulllll
      Jadi perempuan memang kudu setronggg

      Kata Ibuku
      Ususe kudu dhowooo
      Ususnya harusss panjang
      Artinya sabarrr dan setrong

      Sekarang pun juga kadang kalo terlalu aktif di online, masih suka nyut-nyutan, dan kalo ini uda kerasa, langsung stoppp aku, gak kuatttt nyerinya

      Delete
  3. Banyakin Sabar Mak kalau Rezky nggak kemana, memang manusia tu di titipi sifat bosan dan sudah menjadi Sunatullah, makanya ya siap siap kalau dah bosen di kerjaan satu beralih ke kerjaan yg lain hehe.

    Semoga tambah sukses di dunia tarik suara ya Mak semngat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama dalam koridor passion apa yang kita, pasti baliknya kesitu lagi kesitu lagi mas biasanya. Bisa jadi bidangnya berbeda, tapi garis besarnya sama. Seperti saya awalnya dari penyiar, meski berhenti bertahun-tahun, ternyata minatnya ke arah dunia suara lagi

      Delete
  4. Menarik sekali ceritanya. Dari kegalauan terus orifleman dan akhirnya lahir emak eksis. Makasih sharingnya, Maaak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Makkk

      Sesama emak-emak, saling menguatkan yaaa kita, baca dan melihat pengalaman dari orang lain kadang bikin kita banyak belajar jugaaa

      Semangattt

      Delete
  5. Suka banget sama kata-kata yang ini

    Karena ketika kita adalah adalah perempuan, gak kerja kantoran, gak punya bisnis, pastilah pernah berada di masa, kita merasa bukan siapa-siapa.

    Kata-kata ini benar banget ...!!!

    Mba, nanti aku japri biar dirimu ajarin aku podcast sama youtube ya? Selalu suka dengan tulisan-tulisanmu yang menginspirasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, siap dijapri mbaaa

      Yuk belajar bareng, teknologi selalu berkembang dan bertumbuh ilmunyaaa, gak fokus sebulan dua bulan aja, muncul baruuuu lagi infonya

      Delete
  6. Perempuan sebagai istri dan ibu, adalah cakra dalam keluarganya. Kitalah pusat energinya Mak, sukses anak-anak dan suami, letaknya ada di pola pikir kita.

    Ya Allah, mak. baca ini rasanya gimana gitu, Rasanya saya bukan siapa-siapa dan belum melakukan apa-apa untuk mereka.

    BTW, mau 40 kok masih cantik, mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uhuk itu jelas efek kamera henpon jaman sekarang yang penuh filter makkk, xxixiiiiii

      Suksess ya Mak dengan pilihan hidup dan apapun yang Mak jalani sekarang, Bismillah apapun yang Mak udah lakukan itu udah support terbaik untuk keluarga

      Delete
  7. Sangat menarik ceritanya, saya jadi belajar gimana nantinya kalau sudah berumah tangga hehehe

    ReplyDelete
  8. Wah, kisahnya menginspirasi sekali Mba. Semangaaaat. Setiap kita memang punya kegalauan sebelum benar-benar menemukan dunianya.

    ReplyDelete
  9. Hampir berusia 40 tahun tapi keliatan muda lho mba. Serius. Makasih ya mba udah sharing. Saya jadi makin semangat untuk belajar hal baru. Pingin punya pengalaman sebanyak mungkin *walau cuma irt*

    ReplyDelete
  10. Mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan passion kita memang akan berujung dengan ketidaknyamanan, meski bisa mendapakan materi yang cukup menggiurkan. Yang paling nyaman memang adalah mengerjakan sesuatu yang kita sukai.

    Kalau saya, suka banget menulis. Jadi, dapat materi atau tidak, pokoknya menulis itu mengasyikkan.

    ReplyDelete
  11. Masya Allah mbak, saya kok merasa terhubung. Saya gak Oriflamean tapi jadi marketer. Terus baru2 ini mulai ngeblog lagi karena rindu. Rasanya ngga mungkin fokus ke semuanya, cuma cukup melelahkan semuanya dikerjain. Pengennya dapat job nulis tapi belum. Btw, saya juga dulu kerja di TV

    ReplyDelete
  12. Wah, blognya nambah, ya, Mbak Ina. Aku pun pernah mengalami titik galau hidup. Hehe memang memutuskan jadi irt itu enggak mudah buat yang punya ijazah sarjana. Pelan-pelan mulai menerima, accept semua keadaan, bikin stabil ke jiwa raga juga sih. Sukses buat blog barunya.

    ReplyDelete
  13. Ahhh, kusuka sekali, Mak. Aku pun pernah berada pada titik galau itu. Ya, sekarang juga kadang masih galau sih, hehehe. Dulu begitu resign aku Oriflame-an juga, Mak. tapi baru sampai 18%. Trus hamil, trus lemes aku akhirnya gak lanjut. Trus gala u parah karena PPD. Trus perlahan bangkit di tahun 2016. Dan this is me now, wkwkwkwk. masih belum apa-apa. Masih banyak rencana. Semoga waras sehat biar bisa menggapainya. Sehat, bahagia juga buatmu Mak. tetap bersinar untuk keluarga.

    ReplyDelete
  14. Wah blog baru mak ina ya~ tapi beneran deh mak, kamu tuh eksiss... ak seneng loh liat karya mak ina di blog maupun di instagram, apalagi pas duet bareng anak... salut mak... :)

    ReplyDelete
  15. Ah Mba Inna, emang kl semua dikerjain sesuai ama passion kita rasanya bahagia banget. Kerjaan yg paling ciamik kan emang hobi yg dibayar, hihi

    ReplyDelete
  16. sebelum jadi blogger, aku hampir 20 tahun jadi marketing. Dari mulai posisi receh sampai ke posisi lumayan. Akhirnya resign dengan suatu alasan. Pada saat resign inilah malah bisa kenal lebih banyak teman dan dapat pengalaman baru dan yang pasti jadi bisa eksis di dunia maya hehehe

    ReplyDelete
  17. galaunya para wanita dan menjadi ibu itu ya begitu deh ya mba hihi, kalo mau bercerita pasti seru banget kayak kisah mba ini, soon aku mau cerita deh. Karena aku merasa masih pengen kerja tapi ada alasan besar yg menahanku wkwk

    ReplyDelete
  18. Kutipan ini yang paling saya suka dari tulisan mbak "waktu merenung, silahkan, tapi sekali lagi, jangan lama-lama ya Mak, karena waktu terus berjalan" 😍

    ReplyDelete
  19. Ini blognya nambah lagi mbak?
    Wagelaseh ini. Saya nggak bisa bayangin gimana cara manage semuanya dengan kesibukannya mbak yang buanyak sekali.

    Tapi judulnya cocok banget mbak. Begitu baca udah merasa kalau ini mbak inna banget nih

    ReplyDelete
  20. Menentukan pilihan jadi IRT memang nggak mudah dan proses untuk menemukan apa yang ingin kita lakukan juga butuh waktu banget.
    Setuju Mbak. Meski berstatus IRT, kita perlu eksis sesuai kemampuan yang kita bisa.

    ReplyDelete
  21. Lakukanlah apa yang menjadi passion kita dan yang dijalani dengan tulus, karena itu akan memberikan dampak positif

    ReplyDelete
  22. Bekerja yang tak sesuai passion memang bisa bikin kita tak nyaman, sebaliknya jika kita bekerja sesuai passion maka semua yang dilakukan pastinya dari hati dan bahagia. Sukses terus ya mbak dengan segala pilihan dan aktivitasnya.

    ReplyDelete
  23. Setiap keputusan hidup yang kita pilih punya resikonya masing-masing. Baik ataupun buruk. Orang-orang hanya memandang kita dari tampilan fisik saja, tapi tak mengerti apa yang kita alami. Cerita yang inspiratif mak. Menginspirasi kami yg masih muda ini. Yg belum ada seujung kuku ilmu dan pengalamannya.

    ReplyDelete

EmakEksis.com | A Lifestyle Blogger
Theme by MOSHICOO