Ketika Si Kakak Iri Dengan Si Adik

Kenali Anak, Ketika Berbeda dari Biasanya


"Kakak kenapa, kok beberapa minggu ini beda sikapnya ke Adik?". Pertanyaan pembuka saya ketika ngobrol dengan Ical, si sulung yang masuk 13 tahun bulan Maret kemarin.

Pertanyaan saya ini muncul, karena saya perhatikan, Ical jadi serba sewot dan uring-uringan ke Sasha, adiknya yang masih berusia 8 tahun. Begini ya punya anak usia remaja, ketika faktor hormonal makin berpengaruh ke sikap sehari-hari si anak.

Perubahan lainnya, saya amati Ical kelihatan gak tenang, beda gitu Mak seperti biasanya. Ini bocah biasanya yang paling tenang, paling cool di rumah. Jadi penasaran kan saya, ini kenapa ya? Apa bener, karena faktor hormonal ABG? Apa karena hal lain?

Ical memang cukup berbeda karakter dengan Sasha, adiknya. Meski keduanya sama-sama suka cerita apapun ke saya tanpa disuruh. Perbedaannya Sasha jauh lebih ekspresif dan lebih cepat berceritanya. Sementara Ical, seperti butuh waktu sesaat, berpikir dulu, baru dia akan bercerita.

Sebagai orang tua, kita perlu hapal dengan pola-pola anak ketika sedang berbeda. Mungkinkah ada masalah? Mungkinkah ada hal yang menganggu pikirannya?

Ketika Anak Tampak Berbeda, Ayo Komunikasikan


Inilah yang langsung saya lakukan, bicarakan langsung ke Ical, heart to heart, saat kami sedang berdua.

Saling berkomunikasi artinya berbicara 2 arah. Bukan kita yang menggurui, tapi memberikan ruang untuk si anak ikut berbicara, mengutarakan isi hati dan pikirannya.

Komunikasi seperti ini, sudah saya bangun sejak anak-anak balita. Saya sampai hapal dengan gerak mata dan gerak tubuh anak-anak, ketika mereka mau menyampaikan hal penting atau sekedar ingin sharing hal-hal lucu versi mereka.

Salah satu ciri kita berhasil membangun komunikasi ke anak adalah, anak-anak bersedia dengan sendirinya cerita ke kita, sharing pendapatnya maupun cerita aneka hal tentang kehidupan sekolah dan teman-temannya.

Di era saat ini, menurut saya membangun komunikasi ke anak sedini mungkin, sangatlah penting. Kita bukan lagi tinggal di era jaman dulu, dimana ada sekat antara orang tua dengan anak.

Membangun komunikasi ke anak, artinya juga membangun jembatan kepercayaan. Ketika anak percaya ke kita sendiri sebagai orang tuanya, maka ia pun akan suka hati dan suka rela cerita apapun ke kita. Pernah terpikir Mak, kalau anak-anak gak cerita ke kita, terus ke siapa lagi? Ikhlas apa kita, kalau anak-anak lebih memilih galau marah-marah di sosial media karena ide dan pemikirannya gak ada yang bisa nampung? Lebih parahnya, ketika anak lebih percaya bercerita ke orang lain dibanding kita sebagai orang tuanya?

Ternyata, Ini Akar Masalahnya


Setelah perbincangan cukup mendalam dengan Ical, ternyata ada 1 titik temu permasalahan yang mengusik pikiran Ical. Sikapnya yang berbeda ke adiknya akhir-akhir ini, dipicu karena Sasha beberapa kali berhasil lolos casting pengisi suara serial animasi dan iklan.

"Aku belum bisa kayak Sasha Bun", ujarnya.

Masya Allah Nak, ternyata ini kerisauanmu beberapa waktu terakhir ini, tho.

"Kakak kan baru bangun channel youtubenya sendiri. Ini memang gak bisa cepet kak, tapi percaya deh, suatu hari juga bakal besar channel kakak", ujar saya menyambut keresahannya.

Perbincangan cukup alot sebenernya, tapi setidaknya saya bisa melihat ekspresi wajah Ical yang semula tegang, menjadi kendur dan lebih rileks dari sebelumnya. Ya, ini semua karena ia bisa bercerita.

Saya meyakini, ketika anak bisa belajar mengungkapkan apa yang berkecamuk di dirinya, ini sehat untuk batinnya. Saya sendiri mengalami tumbuh jadi remaja yang gak bisa menuangkan isi hati dan pikirannya, apa-apa dipendam sendiri, dan di satu masa, meledaklah. Detail boleh silahkan kunjungi podcast di link berikut ini ya untuk cerita selengkapnya >>> Podcast Emak Eksis Episode RUMAH.

Melatih Anak Mengelola *Cemburu* ke Saudara Kandungnya


Cemburu  atau rasa iri yang Ical alami, tentunya pernah dialami anak-anak lain seusianya. Cemburu dalam konteks iri karena saudaranya bisa jadi ia anggap lebih sukses dalam suatu hal, atau mungkin merasa adik/ kakaknya tampak mendapat perlakuan lebih dari orang tuanya.

Cemburu atau Iri Boleh Saja, Asal Sehat

Mmm, sehat gimana?

Cemburu karena seseorang lebih sukses dari kita, ini sebenarnya hal yang bagus, artinya kita punya kemauan untuk berkembang. Begitu pula dengan anak-anak, ketika mengalami hal ini, baik tertuju ke saudara sendiri ataupun teman-temannya di sekolah.

Tapi tentu saja, ada koridornya. Ketika gak kita kelola dengan baik, maka jatuhnya bikin uring-uringan, malah hanya melihat seseorang tersebut dari sisi negatifnya saja. Sementara ketika kita kelola dengan baik, maka ini semacam stimulasi untuk makin meningkatkan potensi diri lebih baik lagi.

Apalagi usia Ical, usia remaja, dimana masa *keakuannya* sedang merambat naik. Kebutuhan akan pengakuan apa yang dikerjakan, sangat dibutuhkan. Jadi wajar, jika Ical sempat merasa gak nyaman dengan dirinya sendiri ketika belum berhasil mengelola cemburunya ke adiknya.


Tiap Anak Berbeda, Latih Potensinya


Ketika anak-anak merasa cemburu dengan kemampuan lebih dari saudara kandungnya yang gak dimilikinya, inilah saatnya kita bicarakan dan ulang-ulang. Kadang gak bisa sekali untuk meyakinkan anak tentang sesuatu. Butuh berkali-kali, dan biasanya lebih mengena ketika kita hanya bicara berdua dan di suasana si anak sedang rileks.

Di saat seperti ini, barulah kita bisa sampaikan, bahwa tiap anak punya kemampuan berbeda. Ical tau benar tentang hal ini, karena kami sudah sering bahas, tapi ternyata ia terpicu juga karena melihat Sasha berhasil dapet job ini itu.



Ical dan Sasha itu ibarat sebuah film layar lebar. Sasha berada di depan layar, dan Ical berada di belakangnya. Begini saya mengistilahkan ke Ical. Betapa dirinya juga punya potensi sama besar seperti Sasha. Terutama setelah bertahun-tahun melihat kecenderungan kedua anak ini, saya makin paham tentang minat mereka berdua, yang *tampak sama* tapi tetap ada benang merah yang sangat berbeda.


Apa Pentingnya Mengelola Rasa Iri Anak ke Saudara Kandungnya?


Sangat penting pastinya ya. Kalau gak dikelola, maka ini akan mengganggu hubungan mereka sebagai kakak adik di masa depan. Salah satu pesan Bapak almarhum, namanya saudara itu rukun, kompak, hindari permusuhan apalagi perpecahan.

Hal tersebutlah yang mendasari saya, membangun koneksi kedekatan itu bukan melulu dari orang tua ke anak ataupun sebaliknya, tapi antar anak dengan saudara kandungnya pun juga penting.

Dengan mengelola rasa iri dan cemburu ke saudara kandung sendiri, ini juga sekaligus melatih toleransi diantara anak serta membantunya belajar mengenali kemampuan saudaranya berikut dengan kemampuannya sendiri yang berbeda, yang gak bisa disama-samain.

Dengan saling menghargai kemampuan masing-masing, Insya Allah ini juga jadi modal anak-anak kita, lebih memahami saudara kandungnya dan mengeratkan tali persaudaraan diantaranya.

Yang perlu kita ingat, kita sebagai orang tua, gak mungkin bisa mendampingi anak-anak kita 24 jam, seumur hidup kita. Modal mengelola rasa iri dan cemburunya terhadap keberhasilan orang lain, adalah bekal metal anak-anak kita di hari ini dan utamanya masa depan. Mak gimana, pernah ngalamin anak-anak jealous ke saudara kandungnya atau teman-temannya mungkin? Boleh share di kolom komentar yuk



1 comment

  1. noted nih Mbak, komunikasi 2 arah, harus nurunin ego orang tua nih saya biar anak punya hak berbicara juga.
    Kadang saya gemes sendiri terus saya potong kalau anak bicara hihihi.

    Btw, keduanya punya kelebihan masing-masing ya baik Ical maupun Sasha :D
    Setidaknya bisa fokus di pilihannya, anak saya belom nih, dia maunya pemain bola katanya, tapi kalau main bola suka nangis kalau jatuh hahahaha

    ReplyDelete

EmakEksis.com | A Lifestyle Blogger
Theme by MOSHICOO