Healing with Podcasting

Sejak mulai mengenal dunia podcast beberapa waktu terakhir ini, saya sepertinya makin asyik, baik sebagai pendengar maupun podcaster itu sendiri. Meski masih banyak yang belum tertarik, entah itu karena alasan podcast di dunia belum bisa monetize, atau dinilai lebih ribet daripada ngeblog, ataupun alasan personal lainnya, tapi buat saya, podcast punya tempat tersendiri. 

Ngepodcast itu Nyaman!


Buat saya pribadi, ngepodcast itu sangat nyaman. Dari dulu memang senang bercerita secara langsung daripada harus melalui tulisan, bahkan kalau WA ke teman pun, dan agak panjang isinya, saya mending kirim voice note daripada menulis panjang-panjang. 

Ngepodcast juga semacam obat kangen siaran yang sudah saya tinggalkan sekitar 3 tahun lalu. Gimanapun dunia kepenyiaran radio, bakal selalu di hati dan pikiran saya. Impian masa kecil yang kemudian bisa saya jemput ketika kuliah, lalu berlanjut hingga saya punya anak. 

Setelah menjalani rekaman hingga proses editing podcast, saya menemukan kenyamanan tersendiri, bahkan lebih dari itu, podcast ternyata membantu proses healing yang saya tempuh. Healing karena apa? Memangnya kenapa?



Self Healing

Tahun 2011, saya pernah berkesempatan ikut sebuah pelatihan NLP (Neuro Languange Programming) & Hypnotherapy. Dalam sesi perkenalan, saya memperkenalkan diri saya sebagai seorang Ibu rumah tangga, yang ingin menjadi Ibu yang lebih baik buat anak saya. 

Di depan para peserta lainnya, yang sebagian besar adalah para pengusaha, karyawan, agen asuransi, ataupun para trainer yang ingin upgrade ilmua, saya dredek maksimal. Bukan karena gak pede, tapi karena terbersit hal-hal buruk yang pernah saya ucapkan ke anak saya. Meski saya gak pernah menyakiti secara fisik, tapi waktu itu saya begitu marah ke diri saya sendiri, karena kata-kata yang saya pikir begitu melukai si kecil.

Saya begitu kecewa dan marah ke diri saya, kenapa sih gak bisa mengendalikan omongan ke anak? Sebenarnya bukan kata-kata seperti bodoh atau nakal atau kata-kata kejam lainnya. Tapi lebih ke penekanan kata ya, seperti emosi berlebihan, lalu saya ngomong ke Ical yang waktu itu masih balita, "Ical gimana sih?", misal saya kurang nyaman dengan apa yang Ical lakukan. Bahkan gara-gara Ical gak mau minum obat, saya sempat marah besar, dan Ibu yang kemudian menenangkan Ical yang terus menangis.

Kenapa ini? Ada apa ini? Seperti semuanya out of control, saya gak pengen seperti ini! Saya capek jadi ibu yang seperti itu! Kemana perginya teori-teori parenting yang udah saya baca jauh-jauh sebelum menikah?

Bukan hanya ke anak, tapi justru ke diri sendirilah yang bikin saya kelimpungan. Suka cemas, mendadak gak pede, dan aneka ketakutan menyergap gak jelas. Sampai-sampai saya pernah benar-benar menarik diri dari kehidupan sosial. Gak mau ketemu teman-teman masa sekolah, gak mau berbaur dengan siapapun.

Pada saat mengikuti pelatihan NLP & Hypnotherapy tersebut, barulah terkuak beberapa hal penting, yang membuat saya jadi pribadi kurang nyaman ke diri sendiri ataupun sekitar saya, gampang kecewa karena hal kecil, atau hal-hal lain yang membuat kecemasan berlebihan yang kadang kala gak mendasar


Memori Masa Kecil

Waktu kecil, suatu ketika, Ibu pernah marah begitu besar ke saya, mengacungkan gunting dan bilang ingin bunuh diri jika saya masih saja nakal. Saya lupa apa persisnya yang saya perbuat, sampai Ibu begitu marah. Tapi kejadian itu terekam begitu hebatnya. Ternyata ini tersimpan di bawah sadar saya, sampai saya pun ketika stres tingkat tinggi di masa SMP, pernah mencoba bunuh diri, meski akhirnya saya urungkan.

Kecewa

Masa remaja, saya pernah ngefans dengan seorang kerabat, yang saya nilai ia punya banyak prestasi dalam hidupnya. Hingga suatu kali, ia ternyata punya anak di luar nikah, hal inilah yang membuat saya begitu kecewa. Bagi saya yang waktu itu masih usia remaja, masa-masa mencari jati diri, ini jadi sebuah pukulan berat buat saya, seperti kehilangan sosok idola.

Takut

Uniknya, selain saya kecewa dengan kerabat yang saya sebutkan diatas, saya juga punya ketakutan teramat sangat dengan orang ini. Tiap ia datang silahturahmi ke rumah, suaranya yang menggelegar, membuat saya was-was luar biasa. Suaranya memang keras dan tegas. Apalagi ketika ia ngamuk, duh makin jiper lah saya. Hal inilah yang sering saya temui di masa-masa SMP-SMA saya, melihatnya marah-marah, ngamuk, dan aneka tingkat emosional yang terpapar jelas. Saya ingin tegaskan, bahwa kerabat ini bukan Ayah atau Ibu saya ya, biar gak salah persepsi buat siapapun yang membaca postingan ini, tapi yang jelas ia adalah sosok yang saya kenal cukup dekat.

Bapak & Kakak-Kakak Meninggal

Bapak meninggal ketika saya lulus SMP, bertepatan dengan rasa kecewa luar biasa yang pernah saya alami. Hal ini menjadikan trigger ingin mengakhiri nyawa, namun akhirnya batal, dan saya memilih kabur dari rumah. Saat saya lulus kuliah, kakak sulung saya meninggal dunia secara mendadak, ternyata kehilangan orang-orang tersayang ini membuat saya lemah lagi. Seperti pemicu bom yang siap meledak. Begitupun ketika kakak kedua saya meninggal karena kecelakaan, semacam ikatan tali lepas lagi, dan membuyarkan psikologis saya untuk kesekian kalinya.

Meski kejadian kakak kedua saya yang meninggal itu adalah setelah saya menempuh pelatihan NLP & Hypnotherapy, tetapi ternyata masih bisa muncul ke permukaan, sisa-sisa keterpurukannya.

Hal inilah, yang membuat saya, sebaiknya tetap waspada dan punya alert, supaya ketika *akan kambuh*, saya bisa dengan mudah dan cepat menetralisir. Salah satu caranya adalah dengan bercerita.


Healing with Podcasting


Suami saya termasuk orang yang open minded, kalo enggak yaaaa mana bisa menerima istri seperti saya ini yaaa, yang serba cemas berlebih begini. Justru dari suami, saya jadi belajar banyak, tentang gimana berusaha tenang ketika menghadapi masalah.

Banyak cerita yang sudah saya sampaikan ke suami, hanya saja sejak ngepodcast, saya juga ingin sharing banyak hal, yang mungkin saya terlewat ketika saya curhat ke suami. Bukannya apa-apa, karena dengan cerita, maka sering kali saya menemukan solusi. Besar harapan saya, bagi yang ikut mendengarkan, jika pernah mengalami etape kehidupan seperti yang saya alami, bisa mengambil hikmah dan pelajarannya.

Inilah kenapa, saya begitu nyaman ketika menemukan dunia podcast. Bisa bercerita dengan elemen rasa yang lebih kuat, dibanding saya menulis seperti ini. Yaaa, ngaku deh, kalau nulis tuh bawaannya pengen buru-buru selesai :D

Podcasting itu tentang kejujuran, gimana saya bisa jujur ke diri saya sendiri, bahwa saya masih harus terus berproses menyembuhkan luka batin yang mengendap puluhan tahun. Semoga dengan segala hal yang saya share melalui media podcast maupun blog ini, bisa membawa kebaikan & pencerahan ya. Satu hal yang saya yakini, bahwa tiap orang itu selalu punya kesempatan untuk berubah jadi lebih baik, tinggal mau atau enggak aja.

Untuk yang pengen mendengarkan postingan ini versi podcastnya, boleh silahkan dengarkan di Podcast Emak Eksis yuk, atau bisa dengan klik tombol play di bawah ini:



pic: pexels

7 comments

  1. Aku malah belum tahu apa itu podcast, tapi sepertinya semacam curhat atau ngobrol dengan teman atau orang lain ya.

    Ehm, saya juga pernah tuh mengalami hal semacam itu. Saya mengidolakan guru ngaji saya. Eh ternyata anaknya (iya anaknya, bukan guru ngajinya) kedapatan menghamili anak orang. Saya agak shok waktu itu.

    Tapi kalo dipikir lagi, setiap orang pasti punya kekurangan, apalagi saya.😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk mas, melipir ke podcast, sama seperti blog aja sebenernya, bedanya ini versi audionya

      Nah yang saya pelajari, ternyata masa lalu itu begitu bisa melekat ke siapapun dengan cara yang bisa kasih efek positif ataupun sebaliknya

      Ini nih yang jadi PR tersendiri kalau efeknya negatiff, bagi sebagian orang, termasuk saya, bisa bertahun-tahunnnn recoverynya :D

      Delete
  2. Beruntunglah sekarang kak Inna sudah mulai ngga out of control lagi, lebih bisa mengendalikan diri dengan baik.

    Selamat berpodcast, kak.
    Ssst, kalo aku ngga pede sama suaraku soalnya rada ngebass maly denger suara sendiri wwkkk

    ReplyDelete
  3. say sudah sering denger podcast sih...tapi belum begitu mengerti apa itu podcast

    ReplyDelete
  4. Dunia podcasting....Sebenarnya dulu suka dengan hal seperti ini cuma karena minder atau sedikit kurang gaul jadi saya agak canggung. Karena kala itu masih Smp. Dan tidak ada sahabat yang sejalan dengan saya. Yaa akhirnya dunia podcast tak pernah saya ingat lagi sampai yaa membaca postingan ini.😊😊

    Kalau untuk sekarang jika mau ditelatenin waktunya hampir tak ada. Karena benturan kesibukan.😥😥

    ReplyDelete
  5. Wah terima kasih mbak masih bertahan dan semangat melanjutkan hidup wlpun saat ditinggal oleh orang tersayang rasanya ingin mengakhiri hidup ya.. Semoga bisa terwujud menjadi ibu yang super untuk anak2nya yaa.. Jd pengen ngepodcast juga nih

    ReplyDelete
  6. waktu tau bisa cuap cuap di podcast pengen bikin juga, selama ini podcast cuman buat dengerin aja.
    karena suka dengan dunia penyiar juga, jadi aku pikir ini wadah yang oke buat nyalurin ngomong

    ReplyDelete

EmakEksis.com | A Lifestyle Blogger
Theme by MOSHICOO