Jodoh Itu...

Jodoh itu bukan bertemunya 2 insan yang sama-sama sempurna

Justru Jodoh itu adalah...

Ketika 2 insan sama-sama belajar saling mengerti dan menyempurnakan

Kalimat ini tiba-tiba aja muncul beberapa tahun lalu, saat jalan bareng Lisa & Fadzri, kedua keponakan saya yang waktu itu masih sama -sama kuliah.

Di jaman saya seusia mereka dulu, masa kuliah adalah masa saya cukup cuek dengan pencarian soulmate ini. Sampai-sampai kakak saya bilang, "Ayo kalo nanti sampai lulus belum ada ngenalin siapa pacarmu, kujodohin ama temenku loh".


Belum Klik

Dibilang cuek sebenernya gak gitu-gitu amat sih, tapi saya cenderung amat sangat pemilih. Sempat dekat dengan beberapa teman lama masa sekolah ataupun teman baru di tempat kerja part time, tapi berasa kurang sreg aja gitu. Semacam ada yang belum klik aja.

Setelah saya ingat-ingat lagi, hampir setiap mulai ada dekat dengan cowok, saya selalu berdoa ke Allah, "Ya Allah, kalau dia (sambal sebut namanya) memang jodohku, maka dekatkanlah, tapi jika bukan, maka segera jauhkanlah".

Maka itulah yang terjadi, setiap ada PDKT dari cowok, atau saya yang agak-agak naksir, ujung-ujungnya gak jadi lagi, gak jadi lagi. Sampai pada satu masa, cuek aja lah, biarin aja, nanti kalau udah jodoh bakal dateng sendiri.

Tiba Saatnya

Sampai kemudian saya bertemu dengan kakak kelas di tempat kuliah, yang secara garis kehidupan, ternyata beliaulah jodoh saya. Ketika berangkat ke tanah sucipun, saya bawa doa yang sama, jika memang sosok yang satu ini adalah jodoh terbaik yang Allah pilihkan ke saya, maka dekatkan, jika bukan, maka segera jauhkanlah.

Rupanya Allah memberi banyak, bahwa lelaki tersebut adalah jodoh saya. Padahal kalau dipikir-pikir, bukan kriteria yang selama ini saya cari. Satu-satunya kriteria yang pas adalah, ia adalah muslim, bagi saya ini adalah kriteria utama yang bisa ditawar-tawar lagi. Tetapi, kriteria lainnya, seperti kesukaan kami yang totally berbeda, karakter yang bertolak belakang, hingga kebiasaan yang berbeda, pada awalnya memang membuat uring-uringan dan beragam keraguan.

Tapi memang, jawaban Allah atas segala doa permohonan jodoh terbaik, hinggap di lelaki yang usianya hanya terpaut 3 bulan lebih tua dari saya. Lelaki yang merupakan anak pertama di keluarganya, sementara saya anak terakhir, menjadikan kami begitu KLIK. Tau kan, gimana kadang eh atau seringnya anak bontot itu manja dan ingin diperhatikan. Ternyata hanya lelaki yang akhirnya jadi suami saya inilah, yang paling bisa mengimbangi, bukan si A yang pernah saya taksir atau harapkan, atau si B yang selalu telpon ke saya kemanapun ia mau beraktivitas.

Lelaki yang jadi Ayah dari anak-anak saya pulalah, yang mendampingi di masa-masa terpuruk saya saat itu. Meski beberapa kali sempat adu argumen dan segala perbedaan pendapat lainnya, nyatanya ini yang membuat kita makin mengenal satu sama lain.

Inilah Jodoh

Ya, inilah jodoh, yang sebagian pendapat ini adalah sebuah takdir, ada pula pendapat bahwa jodoh adalah pilihan dengan doa dan ikhtiar.

Buat saya, 2 insan dikatakan berjodoh, ketika hubungan yang terjadi membuat keduanya makin kuat, sama-sama belajar saling memahami, hingga sama-sama berjuang menjadi pribadi lebih baik.

Jika memang jodoh, gak mungkin akan saling merusak ataupun saling menyakiti.

Jodoh ibaratnya 2 pilar yang menopang rumah yang begitu besar yang berisi tanggung jawab, kesetiaan, kerjasama, dan beragam norma bahkan masalah yang perlu dihadapi bersama. Jika kedua pilar kuat dan saling mendukung, maka rumah juga terus berdiri dengan kokoh, bahkan tahun demi tahun, bertambah dengan isi yang penuh keindahan dan kebahagiaan.

So, bagi para pejuang jodoh, yakinlah suatu hari jodoh yang baik dan terbaik pasti akan menghampiri. Kuncinya kembali ke diri kita, segigih apa kita berusaha memperbaiki diri. Tentu saja, jodoh sempurna itu hanya fatamorgana, yang ada adalah saling menyempurnakan.


Post a Comment

EmakEksis.com | A Lifestyle Blogger
Theme by MOSHICOO