Childfree? Ini Tuh Bukan Perkara Setuju Gak Setuju Cui!

Sekitar masuk minggu kedua-ketiga di bulan Agustus 2021, saya mulai baca di banyak update status tentang Childfree. Amazingly, ungkapan ini muncul dari seorang youtuber terkenal, yang saya sebenernya gak terlalu ngikutin sih, tapi tau aja kalo si mbak ini tuh cerdas.

Adalah Gita Savitri, yang bikin fenomena chidfree viral di seantero negeri, heboh bener dah, dari mulai aneka pujian karena setuju dengan sikapnya, sampai hujatan tumpah ruah ala netizen Indonesia yang seru kalo disimak sambil nyemil cilok 😌

Padahal ya, saya kenal istilah ini udah cukup lama. Lupa tepatnya kapan, kalo gak salah liat artikel selebriti-selebriti luar negeri yang sebagian diantaranya juga setuju dengan konsep childfree ini.

Childfree, Apaan Ini?

Secara bodornya nih ya, menerjemahkan childfree gampang banget. Childfree, bebas dari anak, alias gak pengen punya anak. 

Hah? Ada gitu orang gak pengen punya anak?

Kalo saya pribadi, karena gak kenal langsung dengan Gita Savitri, maka saya pun gak punya hak untuk menjudge bahwa keputusan childfreenya itu salah total. 

Saya lebih seneng, melihat ke sekeliling saya dulu. Ooo, ternyata ada nih salah satu keponakan yang juga memilih jalur yang sama. Weh kok bisa? Lah wong tantenya ini 2 anak masih nekad mau nambah lagi di usia 40 tahun.

Yes, keponakan saya ini lahir di kisaran tahun 90-an awal. Yes, she is super smart. Saya gak pernah liat dia belajar tuh jaman-jaman sekolah, tapi nilainya huwowww! Bahkan sempat ditawarin program akselerasi saat masih SD, tapi ditolak orangtuanya, karena pengen anaknya biar ada waktu bermain.

Tapi ternyata, setelah bertahun-tahun gak ketemu, disuatu saat, tercetuslah kalo dia gak pengen punya anak. Loh, kenapa?

Trauma Masa Lalu

Apapun yang media gulirkan tentang Gita Savitri, saya gak mau tanggapi di tulisan ini. Apa alasan Gita pengen childfree atau background yang disuguhkan berita tentang kasus ini, buat saya masih abu-abu. Yaa namanya juga berita kan ya, bisa jadi bener, bisa jadi ditambahin bumbu penyedap biar makin sedappppp dilahap penonton 😝

Saya hanya fokus pada cerita keponakan saya yang juga memutuskan hal serupa. Perempuan yang cantik, body bagus, karir bagus, sehatttt pula, kenapa gak mau punya anak? Kenapa pengennya malah childfree? Ada apa gerangan?

Oke gaes, sedikit flashback tentang keponakan saya ini. Saat saya beberapa menginap di rumahnya jaman sekolah-kuliah dulu, sering menjumpai kondisi rumahnya yang gak kondusif. Entah bapak-ibunya berantem, saling caci maki teriak-teriak sakpolllleee, bahkan sampai ke tindakan fisik. Ditambah lagi, Sang Bapak pernah nikah pisah sama Ibunya, hidup bareng dengan perempuan lain, di depannnn mata keponakan saya ini, lalu Bapaknya balikan lagi sama Ibunya, sampai kemudian sekarang pisah lagi.

Nah ya, puyeng kan? Saya aja yang menginap paling lama semingguan aja puyeng, gak betah. Apalagi dia, yang ngalamin hidup semacam itu berbelas-belas tahun. 

Jadi saya sangat memahami, ketika akhirnya sekarang ia pun memutuskan childfree. Bisa jadi trauma kan? Bisa jadi keputusannya gak pengen punya anak, karena ia gak pengen anaknya nanti mengalami apa yang pernah ia alami. 

Ketika nantinya ia berubah pikiran, wallahu a'lam. Cuma Allah yang bisa membolak-balikkan hati manusia.

Childfree, Setuju Kagak?


Gini bro sis, menurut saya, childfree bukan perkara setuju gak setuju, tapi lebih ke kesiapan mental. Sudah cukup sering kan kita denger berita tentang penyiksaan ibu ke anaknya, bahkan tega menghabisi nyawa anaknya sendiri hanya karena hal sepele? Ini karena apa coba? Ya karena gak siap secara mental. 

Gak usah yang terlalu ekstrem sampai ke pembunuhan anaknya sendiri deh. Liat aja, berapa kasus ibu-ibu pasca melahirkan yang mengalami baby-blues, berasa jijik dan benci dengan anak yang dilahirkannya sendiri. Sepertinya aneh, tapi ini nyata cui! Ini benar-benar terjadi ke lingkungan kita. 

Saya sendiri, termasuk yang sejak menikah, pengen langsung punya anak. Sebagai anak bungsu, melihat kehidupan keluarga kakak-kakak saya, yang tentu tidak 100% sempurna, justru membuat saya punya cita-cita, "Ooooh nanti kalo saya punya anak, konsepnya seperti ini nih". Apa yang saya liat baik, saya gunakan. Apa yang buruk, semaksimal mungkin saya hindari.

Meski gak segampang itu ferguso! 

Saya juga pernah berada di etape emosi memuncak ke anak-anak.

Saya juga pernah *hampir gila* karena merasa gagal sebagai Ibu.

Kenyataan di lapangan, memang punya anak gak segampang itu. Mulai dari perkara lahir hingga batin. Mulai dari mendampingi anak sampai ke biaya sekolah, les dan aneka hal bejibun yang bakal ditemui sepanjang perjalanan *gedein* anak. 

Persiapan Ketika Pengen Punya Anak

a. Persiapan Sejak Perencanaan Kehamilan - Melahirkan

Dari mulai masa perencanaan kehamilan, sebaiknya memang kita udah pikirkan matang. Siapkan badan semaksimal mungkin. Olahraga teratur, makan makanan yang baik & bergizi. Karena begitu hamil, seluruh energi akan tercurah ke kondisi kehamilan. Kalau kita pengen hamil secara sehat diiringi dengan persalinan lancar, mau gak mau, kita wajib siapin badan kita dengan baik.

Selain mempersiapkan badan, biaya persalinan juga perlu kita pikirkan. Mau pake BPJS? Mau pake re-imburse kantor? Mau bayar sendiri? Semua sebaiknya harus terplanning dengan rapi.

b. Persiapan Biaya-Biaya *Gedein* Anak

Gedein anak, gak cuman melulu ngasih ASI terus selesai kan? Kasih aja makan banyak,  ntar juga anak tumbuh kembang sendiri? Gak gini juga caranya. 

Gedein anak, butuh proses dan perjuangan luar biasa. Gak cuma kasih nutrisi *lahir* tapi juga nutrisi *batin*. Agama, akhlak, moral, hingga hal-hal sederhana bagaimana ia jadi pribadi kuat, tangguh & bijaksana.


c. Persiapan Mental Ibu

Pengalaman saat hamil anak kedua, saya kaget ternyata saya hamil. Alhasil anak kedua pun butuh waktu lebih lama dibanding kakaknya dalam hal kemandirian & kedewasaan. Gak nyangka ya, dari hal kaget punya anak aja, merembet ke psikologis anak. Artinya memang mental Ibu sebaiknya benar-benar siap saat hamil, karena bukan 1-2 hari kedepan, tapi juga jangka panjang hidup si anak. 

Noh, gak gampang kan punya anak! Jadi ketika terkait Gita Savitri, punya anak memang fitrah bagi perempuan, tapi ketika ia merasa gak siap, dan mengungkapkan pendapatnya bahwa ia gak siap, bukan hak kita menghakimi juga. Ngaca aja, kita sebagai Ibu udah seperti apa ke anak-anak kita.

Tapi kita juga gak boleh lupa, namanya Allah itu Maha Paling Tahu Segala. Bisa aja kita yakin dengan 1 hal, tapi Allah kasih yang lain. Pernah kan kita berdoa & berharap akan 1 hal tertentu, ternyata yang dikabulkan kok beda ya?

Artinya, kita pun perlu berserah diri, ketika Allah berkehendak, apapun yang kita pikir mustahil, bisa kejadian kok tanpa seperencanaan kita. 

Ya namanya manusia, boleh berencana. Allah juga nanti yang menentukan. Tapi bukan berarti, ini alasan kita berhenti berdoa & berikhtiar akan sesuatu hal kan?


Siap-Siap (Mental) Pindahan (Ngungsi) ke Rumah Mertua (Lagi)!!!

Pengennya selama hamil tuh nyamannnn pikiran, tapi namanya hidup selalu ada ujian yang datang. 

Bulan-bulan mendekati lahiran, nyatanya sangat berdekatan dengan bulan dimana Ical, si anak mbarep masuk SMA, plusss kontrakan yang juga perlu diperpanjang.

Dengan segala dana yang ada saat ini, saya & suami memang harus memikirkan masak-masak. Sambil nunggu rumah kami yang baru dibangun di wilayah Cikeas, dana yang ada mau dipostkan kemana? Untuk biaya si kakak masuk SMA? Atau lanjutin kontrakan di tempat yang sama atauuu pindah kontrakan?

Dari awal sekolahin anak-anak, masuk ke sekolah negeri memang bukan prioritas utama kami. Alasannya? Sama seperti kebanyakan yang *akhirnya* memilih swasta. Yaitu kurikulum & kompetensinya. Haduh, maafkan kalau kami masih meragukan. Ibaratnya, untuk pendidikan anak, saya & suami termasuk yang berjuang to the max, Bismillah pengen memberikan yang terbaik. 

Apalagi di masa pandemi seperti ini. Alhamdulillah, SMP si kakak sekarang juga bisa berjalan normal seperti sekolah biasa, meskipun serba online. Bersyukur banget, karena banyak mendengar kalau sekolah negeri ada yang masuk beberapa kali saja dalam seminggu, itupun hanya beberapa jam saja. Inilah yang bikin anak akhirnya malah main game terlalu lama, dsb.

Pertimbangan inilah yang akhirnya membuat kami mantap, anak mbarep lanjut SMA ke yayasan sekolah sekarang, dan Ical juga setiap ditanya pengen SMA mana, pasti jawabnya Labschool.

Nah, terus gimana, kan kontrakan habis? Tinggal dimana dong?

Yes, mau gak mau, suka gak suka, balik ke rumah mertua yang pernah kami tinggali selama kurang lebih 4 bulan, saat awal-awal pindah ke Jakarta. 

Detail cerita kerumitannya ntarrr pasti meluncur di blog ini gaes. Tapi udah bisa nebak kan ya, tinggal dengan mertua plusss ipar (perempuan) pula itu seperti apa? 😌

Qodarullah, kecemasan saya tentang dana kontrakan, dana sekolah, ternyata hanya secuil masalah yang sebenarnya sedang terjadi di sekeliling saya. Ketika datang kabar dari pemilik kontrakan.


Kabar (Sedih) dari yang Punya Kontrakan

Kontrakan yang kami tinggali hampir 2 tahun ini, sebenarnya sudah sangat nyaman. Secara harga termasuk gak begitu mahal. Wajar sebenernya, karena kadang banjir meski di blok kami gak masuk rumah. 

Ditambah gak perlu pakai deposit, dannn gak ada kenaikan harga. Plus udah ada kasur serta lemari yang bisa digunakan. 

Di saat kami masih bimbang mau lanjut kontrakan atau tidak, mendadak yang punya kontrakan ngabarin, kalau suaminya terkena tumor otak

Innalillahi, entah kenapa saya ikutan lemes. Padahal saya dan Mbak pemilik kontrakan saling kontak ketika masa perpanjangan kontrakan aja. 

Kebayang aja gitu di posisinya seperti apa. Ketika si Mbak pemilik kontrakan memberi info, ia juga cerita sebenarnya down dan sedih banget dengan kondisinya.

Ia pun menjelaskan, bahwa rumah kontrakan kami ini sebenernya masih KPR. Dengan suaminya yang terkena tumor otak, otomatis sudah gak bisa bekerja secara normal seperti biasanya, dan tentunya gak bisa ada tanggungan KPR terlalu besar. Untuk itulah, yang awalnya dia setuju kami lanjut ngontrak, mau gak mau harus bikin keputusan sulit, melelang rumahnya, mau dijual pun susah, karena di berita-berita online sudah terlalu banyak info tentang kehebohan banjir di perumahan ini. 


Keep Relax, Keep Bersyukur

Jujur ya, saya sempat menangis beberapa kali ketika memutuskan harus ke rumah mertua lagi. Tapi saya juga tergugah untuk melakukan sesuatu hal yang mungkin kelihatan kecil, dengan harapan bisa menjadi sesuatu hal besar & bermanfaat buat orang lain. 

Prinsipnya sederhana, pengen menolong pemilik kontrakan dengan cara yang saya bisa. 

Yang saya yakini, 

"memudahkan urusan orang lain, maka Allah pun akan memberikan kemudahan".

Ini aja yang saya pegang. Gimana di rumah mertua, dealing again with *the ipar*, itu urusan nanti. Bismillah, Allah kasih jalan, Allah kasih mudah. 

Saya juga sadar sesadar-sadarnya, kondisi emosional & psikologis saat hamil perlu saya jaga. Caranya dengan melatih merilekskan pikiran, salah satunya dengan yoga dan menulis seperti ini. 


Satu lagi, tak henti-hentinya bersyukur dengan segala nikmat yang Allah kasih hingga detik ini, karena sebagai manusia kadang saya pun lupa, betapa banyak yang Allah sediakan, tapi saya masih saja ngeluh. Astaghfirullahaladzim 🥺




 

Persalinan Normal, Jangan Buru-Buru Ke Rumah Sakit! Kenali dulu Kontraksinya!

Postingan kali ini, saya ingin sharing tentang pengalaman melahirkan secara normal anak pertama sekitar 14 tahun lalu. Harapannya, sebagai reminder saya pribadi bahwa ada beberapa hal seputar ilmu kehamilan & persalinan, begitu amat sangat berkembang selama 10 tahun terakhir.

Jaman dulu ilmunya sekelebat aja, sekarang bisa kita akses kapanpun dimanapun. Thanks to technology! Thanks to medsos! Berbekal sering scrolling instagram & tiktok, saya menemukan beberapa *ilmu gratis* seputar kehamilan & persalinan dari bidan ataupun dokter yang kompeten dibidangnya, hingga sharing banyakkkk mamah muda yang kalau saya analisa lagi, bikin manggut-manggut. Ohhh ternyata begini, ohhh ternyata begitu.

Salah satunya adalah tentang terburu-burunya saya ke rumah sakit saat proses melahirkan anak pertama, yang ujung-ujungnya bikin stress kelamaan di rumah sakit, jalan lahir seret banget ngebukanya, sampai akhirnya mau gak mau mendapatkan induksi untuk mempercepat proses lahiran.

Gimana cerita lengkapnya? Okey, okey cussss!

Keluar Lendir Darah, Tanda Siap Melahirkan?

Yap, di selasa 20 maret 2007, sekitar jam 3-4 sore, pas ke kamar mandi mau buang air kecil, saya menemukan lendir merah seperti berdarah di celdam. Langsung bilang ke Mamah, dannn cuss gak berapa lama manggil Mas Udin, tetangga yang biasa sopirin Mamah kemana-mana saat saya gak bisa anterin.

Suami kemana? Masih kerja di Jakarta dan setelah tau saya ke rumah sakit, juga bergegas segera ke Jogja.

Sesampai di rumah sakit, langsung ke UGD RS JIH (Jogjakarta International Hospital). Jiyehhh keren amat, gaji suami gak sampai 2 juta bisa melahirkan di rumah sakit internasional? *netizennyinyir* 😂

Alhamdulillah waktu itu, di tempat kerja suami di Trans TV Jakarta, mengcover seluruh biaya persalinan. Dannnn kebetulan banget, JIH masih baru buka, belum grand launching malah, jadi masih harga awal bangettttt. Anak saya aja, jadi bayi ke-5 yang lahir disana saat itu, dengan biaya kurang lebih 5 jutaan, dengan fasilitas rumah sakit internasional yang kece punya.

Kalau sekarang, jihyahhh jangan ditanya jadi berapa ye? Harga terbaru bisa cek disini: https://www.rs-jih.co.id/service-detail/59/paket-melahirkan

Harga 5 jutaan itu, ada tambahan biaya induksi, plus saya masuk selasa sore, baru keluar jumat pagi. Noh berapa hari? 3 malam 4 hari kan? Berasa nyaman dan betah gitu kali ya di rumah sakit? Dikira piknik kali *lol*

Pembukaan Sereeeettttt!

Kocaknya ya, sebagai Ibu baru yang gak terlalu mudeng, gak terlalu banyak baca tentang persalinan normal, pun dokter kandungan saya waktu itu juga cool anteng banyak diem, secara saya juga tiap kontrol bingung mau nanya apa. Alhasil, kaget bukan main, pas dicek pembukaan itu ternyata DICOLOK yaaaaa miss Vnya. Wadawwww! 

Mana pas dicek pertama kali sama bidan, masih bukaan 1 dan ini masih yang awal sempitttttt banget. Kebayang tho gimana ngilunya 😑

Selasa malam saya udah berpindah ke kamar inap, sambil menunggu suami yang ternyata datangnya di hari Rabu. Apakah bayi udah brojol? Belum saudara-saudara! Sampai kurang lebih rabu malam, ini mulai bukaan 2 sampai ke 3. Setelah itu seretttttt lagi. 

Di hari Kamisnya, saya udah semacam kehabisan energi. Segala kalut takut datang, semacam udah gak kuat. Berkali-kali saya bilang ke suami, "Yahhhh udah gak kuat, sesar ajaaaaa ya".  Berkali-kali juga suami menguatkan sambil menggenggam tangan saya, "Bunda bisa, Bunda kuat, anak kita juga nantiny jadi anak kuat seperti proses sekarang ini".

Sampai kemudian kamis malam, bukaan 5 saya langsung dibawa ke ruang bersalin. Di ruang ini, saya bukannya makin tenang, tapi makin parno. Panik sepanik-paniknya! Beberapa kali muntah, padahal saya jarang makan sejak 2 hari sebelumnya, karena terlalu tegang dan berlebihan ngerasain kontraksi.

Brojol Moment

Kamis setelah isya sampai dengan kisaran jam 12 malam, apakah pembukaan jalan lahir lancar? Oh No!!! Balik seret lagi dong, padahal kontraksinya udah berasa makin menjadi-jadi. Sampai kemudian ketika masuk pembukaan 6-7, dokter menyarankan induksi. Suami juga langsung setuju, karena juga gak tahan lihat istrinya yang udah lemes & kesakitan.

Setelah induksi inilah, Alhamdulillah pembukaan ke lengkap makin cepat, diiringi dengan kontraksi yang superrrrrr ruar biasaaaaaah pemirsa!

Setiap proses cek pembukaan jalan lahir, saya selalu melihat ke arah jam dinding di ruang bersalin, begitu pula saat akhirnyaaaaaa the baby is coming, saya perhatikan sekitar jam 3 pagi lebih sekian-sekian. Ya secara ngeden yaaa, jadi gak fokus tepatnya jam berapa Buk. 

Alhamdulillah, disaat bayi brojol secara proses normal inilah, entah gimana ceritanya, segala rasa sakit mendadak hilang, segala ketakutan mendadak sirna. Apalagi pas bayi ditaro di dada sebelum dibersihkan. Nyessss banget rasanya, meski dokter juga sibuk dengan proses obras mengobras dibawah sana 😛

Welcome Baby Ical
Kamis, 22 Maret 2007
Jam 03.10 wib
BB: 3.5kg/ PB: 52 cm


Dokter kandungan yang membantu saya melahirkan anak pertama di JIH adalah Dokter Yasmini, sebenarnya bukan dokter yang dari awal saya kontrol. Awal tau hamil, saya ke Dokter Adi di Rumah Sakit Bantul, ini pun disuruh seorang sahabat buat segera cek, karena saya cerita sudah menunjukkan tanda-tanda hamil. 

Setelah ke Dokter Adi, saya kontrolnya di Dokter Hasto, Dokter kandungan legend lah di Jogja. Meski dokternya pendiem, tapi ganteng bookkk! Dasar ibu-ibu, wkwkkwk.

Rencana melahirkan memang bareng Dokter Hasto ini di klinik beliau, yaitu Klinik Sadewa. Tapi ternyataaaa, sang dokter ini pas baru ke luar negeri di tanggal HPL saya. Plus saya melihat kondisi klinik. yang begitu crowded, takut gak dapet kamar ketika lagi butuh-butuhnya. So dipilihlah melahirkan di JIH, terserahhhh dah mau dokter siapa aja. Bisa-bisanya cuek banget dah waktu itu, baru deh pas proses persalinannya, jumpalitan! Kapokmu kapannnnnn Na! 😅

Pelajaran Apa Yang Bisa Diambil Saat Persalinan Anak Pertama?

Secara sekarang sedang hamil anak ketiga, saya sering banget flashback tentang proses persalinan pertama dan kedua, dikomparasikan dengan ilmu yang berkembang sangat maju & pesat saat ini.

Dari persalinan pertama ini, saya belajar bahwa ke rumah sakit itu jangan terburu-buru, belajar kenali kontraksinya, karena ternyata ada pola tertentu yang bisa kita kenali.

Kenapa gak buru-buru ke rumah sakit aja? Kejadian yang saya alami, justru gak nyaman dan malah stres banget karena kelamaan di rumah sakit. Mending pulang dulu aja. Herannya kenapa dulu pihak RS juga gak nyaranin saya pulang dulu ya. Secara Ibu baru dan gak mudeng sama sekali, yaaa wes nurut aja kan? 

Rumus Kontraksi 5-1-1

pic: web Bidan Kita

Rumus ini baru saya dapatkan beberapa bulan lalu, saat ikut kelas yoga di Bidan Kita yang diadakan Bidan Yessi. 

Apa itu 5-1-1?
5 adalah jarak kontraksi berlangsung kurang lebih tiap 5 menit
1 adalah durasi menit tiap kontraksi kurang lebih 1 menit
1 berikutnya adalah berlangsung minimal kurang lebih selama 1 jam

Di saat inilah, saat yang tepat untuk menuju rumah sakit atau klinik bersalin. 

Saya sendiri, belum praktek secara langsung yaaaa, baru bisa cerita nanti setelah anak ketiga ini lahir. Saya tuliskan cerita ini, sekali ini dengan motivasi sebagai reminder, sekaligus ilmu minimal buat saya dan kalau bermanfaat buat yang membaca, Alhamdulillah.

Sejatinya tiap proses persalinan itu banyakkkk belajar hal baru, dan yang perlu kita ingat, ilmu serta teknologi bersalin makin hari makin canggih dan memudahkan, tinggal kita aja ni sebagai Ibu mau seberapa banyak belajar & praktekkin apa yang kita pelajarin.

Nah, persalinan anak kedua, tentunya punya cerita beda dan lebih seruuuu lagi. Tunggu aja yaaaa 😍