Persalinan Normal, Jangan Buru-Buru Ke Rumah Sakit! Kenali dulu Kontraksinya!

Postingan kali ini, saya ingin sharing tentang pengalaman melahirkan secara normal anak pertama sekitar 14 tahun lalu. Harapannya, sebagai reminder saya pribadi bahwa ada beberapa hal seputar ilmu kehamilan & persalinan, begitu amat sangat berkembang selama 10 tahun terakhir.

Jaman dulu ilmunya sekelebat aja, sekarang bisa kita akses kapanpun dimanapun. Thanks to technology! Thanks to medsos! Berbekal sering scrolling instagram & tiktok, saya menemukan beberapa *ilmu gratis* seputar kehamilan & persalinan dari bidan ataupun dokter yang kompeten dibidangnya, hingga sharing banyakkkk mamah muda yang kalau saya analisa lagi, bikin manggut-manggut. Ohhh ternyata begini, ohhh ternyata begitu.

Salah satunya adalah tentang terburu-burunya saya ke rumah sakit saat proses melahirkan anak pertama, yang ujung-ujungnya bikin stress kelamaan di rumah sakit, jalan lahir seret banget ngebukanya, sampai akhirnya mau gak mau mendapatkan induksi untuk mempercepat proses lahiran.

Gimana cerita lengkapnya? Okey, okey cussss!

Keluar Lendir Darah, Tanda Siap Melahirkan?

Yap, di selasa 20 maret 2007, sekitar jam 3-4 sore, pas ke kamar mandi mau buang air kecil, saya menemukan lendir merah seperti berdarah di celdam. Langsung bilang ke Mamah, dannn cuss gak berapa lama manggil Mas Udin, tetangga yang biasa sopirin Mamah kemana-mana saat saya gak bisa anterin.

Suami kemana? Masih kerja di Jakarta dan setelah tau saya ke rumah sakit, juga bergegas segera ke Jogja.

Sesampai di rumah sakit, langsung ke UGD RS JIH (Jogjakarta International Hospital). Jiyehhh keren amat, gaji suami gak sampai 2 juta bisa melahirkan di rumah sakit internasional? *netizennyinyir* 😂

Alhamdulillah waktu itu, di tempat kerja suami di Trans TV Jakarta, mengcover seluruh biaya persalinan. Dannnn kebetulan banget, JIH masih baru buka, belum grand launching malah, jadi masih harga awal bangettttt. Anak saya aja, jadi bayi ke-5 yang lahir disana saat itu, dengan biaya kurang lebih 5 jutaan, dengan fasilitas rumah sakit internasional yang kece punya.

Kalau sekarang, jihyahhh jangan ditanya jadi berapa ye? Harga terbaru bisa cek disini: https://www.rs-jih.co.id/service-detail/59/paket-melahirkan

Harga 5 jutaan itu, ada tambahan biaya induksi, plus saya masuk selasa sore, baru keluar jumat pagi. Noh berapa hari? 3 malam 4 hari kan? Berasa nyaman dan betah gitu kali ya di rumah sakit? Dikira piknik kali *lol*

Pembukaan Sereeeettttt!

Kocaknya ya, sebagai Ibu baru yang gak terlalu mudeng, gak terlalu banyak baca tentang persalinan normal, pun dokter kandungan saya waktu itu juga cool anteng banyak diem, secara saya juga tiap kontrol bingung mau nanya apa. Alhasil, kaget bukan main, pas dicek pembukaan itu ternyata DICOLOK yaaaaa miss Vnya. Wadawwww! 

Mana pas dicek pertama kali sama bidan, masih bukaan 1 dan ini masih yang awal sempitttttt banget. Kebayang tho gimana ngilunya 😑

Selasa malam saya udah berpindah ke kamar inap, sambil menunggu suami yang ternyata datangnya di hari Rabu. Apakah bayi udah brojol? Belum saudara-saudara! Sampai kurang lebih rabu malam, ini mulai bukaan 2 sampai ke 3. Setelah itu seretttttt lagi. 

Di hari Kamisnya, saya udah semacam kehabisan energi. Segala kalut takut datang, semacam udah gak kuat. Berkali-kali saya bilang ke suami, "Yahhhh udah gak kuat, sesar ajaaaaa ya".  Berkali-kali juga suami menguatkan sambil menggenggam tangan saya, "Bunda bisa, Bunda kuat, anak kita juga nantiny jadi anak kuat seperti proses sekarang ini".

Sampai kemudian kamis malam, bukaan 5 saya langsung dibawa ke ruang bersalin. Di ruang ini, saya bukannya makin tenang, tapi makin parno. Panik sepanik-paniknya! Beberapa kali muntah, padahal saya jarang makan sejak 2 hari sebelumnya, karena terlalu tegang dan berlebihan ngerasain kontraksi.

Brojol Moment

Kamis setelah isya sampai dengan kisaran jam 12 malam, apakah pembukaan jalan lahir lancar? Oh No!!! Balik seret lagi dong, padahal kontraksinya udah berasa makin menjadi-jadi. Sampai kemudian ketika masuk pembukaan 6-7, dokter menyarankan induksi. Suami juga langsung setuju, karena juga gak tahan lihat istrinya yang udah lemes & kesakitan.

Setelah induksi inilah, Alhamdulillah pembukaan ke lengkap makin cepat, diiringi dengan kontraksi yang superrrrrr ruar biasaaaaaah pemirsa!

Setiap proses cek pembukaan jalan lahir, saya selalu melihat ke arah jam dinding di ruang bersalin, begitu pula saat akhirnyaaaaaa the baby is coming, saya perhatikan sekitar jam 3 pagi lebih sekian-sekian. Ya secara ngeden yaaa, jadi gak fokus tepatnya jam berapa Buk. 

Alhamdulillah, disaat bayi brojol secara proses normal inilah, entah gimana ceritanya, segala rasa sakit mendadak hilang, segala ketakutan mendadak sirna. Apalagi pas bayi ditaro di dada sebelum dibersihkan. Nyessss banget rasanya, meski dokter juga sibuk dengan proses obras mengobras dibawah sana 😛

Welcome Baby Ical
Kamis, 22 Maret 2007
Jam 03.10 wib
BB: 3.5kg/ PB: 52 cm


Dokter kandungan yang membantu saya melahirkan anak pertama di JIH adalah Dokter Yasmini, sebenarnya bukan dokter yang dari awal saya kontrol. Awal tau hamil, saya ke Dokter Adi di Rumah Sakit Bantul, ini pun disuruh seorang sahabat buat segera cek, karena saya cerita sudah menunjukkan tanda-tanda hamil. 

Setelah ke Dokter Adi, saya kontrolnya di Dokter Hasto, Dokter kandungan legend lah di Jogja. Meski dokternya pendiem, tapi ganteng bookkk! Dasar ibu-ibu, wkwkkwk.

Rencana melahirkan memang bareng Dokter Hasto ini di klinik beliau, yaitu Klinik Sadewa. Tapi ternyataaaa, sang dokter ini pas baru ke luar negeri di tanggal HPL saya. Plus saya melihat kondisi klinik. yang begitu crowded, takut gak dapet kamar ketika lagi butuh-butuhnya. So dipilihlah melahirkan di JIH, terserahhhh dah mau dokter siapa aja. Bisa-bisanya cuek banget dah waktu itu, baru deh pas proses persalinannya, jumpalitan! Kapokmu kapannnnnn Na! 😅

Pelajaran Apa Yang Bisa Diambil Saat Persalinan Anak Pertama?

Secara sekarang sedang hamil anak ketiga, saya sering banget flashback tentang proses persalinan pertama dan kedua, dikomparasikan dengan ilmu yang berkembang sangat maju & pesat saat ini.

Dari persalinan pertama ini, saya belajar bahwa ke rumah sakit itu jangan terburu-buru, belajar kenali kontraksinya, karena ternyata ada pola tertentu yang bisa kita kenali.

Kenapa gak buru-buru ke rumah sakit aja? Kejadian yang saya alami, justru gak nyaman dan malah stres banget karena kelamaan di rumah sakit. Mending pulang dulu aja. Herannya kenapa dulu pihak RS juga gak nyaranin saya pulang dulu ya. Secara Ibu baru dan gak mudeng sama sekali, yaaa wes nurut aja kan? 

Rumus Kontraksi 5-1-1

pic: web Bidan Kita

Rumus ini baru saya dapatkan beberapa bulan lalu, saat ikut kelas yoga di Bidan Kita yang diadakan Bidan Yessi. 

Apa itu 5-1-1?
5 adalah jarak kontraksi berlangsung kurang lebih tiap 5 menit
1 adalah durasi menit tiap kontraksi kurang lebih 1 menit
1 berikutnya adalah berlangsung minimal kurang lebih selama 1 jam

Di saat inilah, saat yang tepat untuk menuju rumah sakit atau klinik bersalin. 

Saya sendiri, belum praktek secara langsung yaaaa, baru bisa cerita nanti setelah anak ketiga ini lahir. Saya tuliskan cerita ini, sekali ini dengan motivasi sebagai reminder, sekaligus ilmu minimal buat saya dan kalau bermanfaat buat yang membaca, Alhamdulillah.

Sejatinya tiap proses persalinan itu banyakkkk belajar hal baru, dan yang perlu kita ingat, ilmu serta teknologi bersalin makin hari makin canggih dan memudahkan, tinggal kita aja ni sebagai Ibu mau seberapa banyak belajar & praktekkin apa yang kita pelajarin.

Nah, persalinan anak kedua, tentunya punya cerita beda dan lebih seruuuu lagi. Tunggu aja yaaaa 😍


No comments