Siap-Siap (Mental) Pindahan (Ngungsi) ke Rumah Mertua (Lagi)!!!

Pengennya selama hamil tuh nyamannnn pikiran, tapi namanya hidup selalu ada ujian yang datang. 

Bulan-bulan mendekati lahiran, nyatanya sangat berdekatan dengan bulan dimana Ical, si anak mbarep masuk SMA, plusss kontrakan yang juga perlu diperpanjang.

Dengan segala dana yang ada saat ini, saya & suami memang harus memikirkan masak-masak. Sambil nunggu rumah kami yang baru dibangun di wilayah Cikeas, dana yang ada mau dipostkan kemana? Untuk biaya si kakak masuk SMA? Atau lanjutin kontrakan di tempat yang sama atauuu pindah kontrakan?

Dari awal sekolahin anak-anak, masuk ke sekolah negeri memang bukan prioritas utama kami. Alasannya? Sama seperti kebanyakan yang *akhirnya* memilih swasta. Yaitu kurikulum & kompetensinya. Haduh, maafkan kalau kami masih meragukan. Ibaratnya, untuk pendidikan anak, saya & suami termasuk yang berjuang to the max, Bismillah pengen memberikan yang terbaik. 

Apalagi di masa pandemi seperti ini. Alhamdulillah, SMP si kakak sekarang juga bisa berjalan normal seperti sekolah biasa, meskipun serba online. Bersyukur banget, karena banyak mendengar kalau sekolah negeri ada yang masuk beberapa kali saja dalam seminggu, itupun hanya beberapa jam saja. Inilah yang bikin anak akhirnya malah main game terlalu lama, dsb.

Pertimbangan inilah yang akhirnya membuat kami mantap, anak mbarep lanjut SMA ke yayasan sekolah sekarang, dan Ical juga setiap ditanya pengen SMA mana, pasti jawabnya Labschool.

Nah, terus gimana, kan kontrakan habis? Tinggal dimana dong?

Yes, mau gak mau, suka gak suka, balik ke rumah mertua yang pernah kami tinggali selama kurang lebih 4 bulan, saat awal-awal pindah ke Jakarta. 

Detail cerita kerumitannya ntarrr pasti meluncur di blog ini gaes. Tapi udah bisa nebak kan ya, tinggal dengan mertua plusss ipar (perempuan) pula itu seperti apa? 😌

Qodarullah, kecemasan saya tentang dana kontrakan, dana sekolah, ternyata hanya secuil masalah yang sebenarnya sedang terjadi di sekeliling saya. Ketika datang kabar dari pemilik kontrakan.


Kabar (Sedih) dari yang Punya Kontrakan

Kontrakan yang kami tinggali hampir 2 tahun ini, sebenarnya sudah sangat nyaman. Secara harga termasuk gak begitu mahal. Wajar sebenernya, karena kadang banjir meski di blok kami gak masuk rumah. 

Ditambah gak perlu pakai deposit, dannn gak ada kenaikan harga. Plus udah ada kasur serta lemari yang bisa digunakan. 

Di saat kami masih bimbang mau lanjut kontrakan atau tidak, mendadak yang punya kontrakan ngabarin, kalau suaminya terkena tumor otak

Innalillahi, entah kenapa saya ikutan lemes. Padahal saya dan Mbak pemilik kontrakan saling kontak ketika masa perpanjangan kontrakan aja. 

Kebayang aja gitu di posisinya seperti apa. Ketika si Mbak pemilik kontrakan memberi info, ia juga cerita sebenarnya down dan sedih banget dengan kondisinya.

Ia pun menjelaskan, bahwa rumah kontrakan kami ini sebenernya masih KPR. Dengan suaminya yang terkena tumor otak, otomatis sudah gak bisa bekerja secara normal seperti biasanya, dan tentunya gak bisa ada tanggungan KPR terlalu besar. Untuk itulah, yang awalnya dia setuju kami lanjut ngontrak, mau gak mau harus bikin keputusan sulit, melelang rumahnya, mau dijual pun susah, karena di berita-berita online sudah terlalu banyak info tentang kehebohan banjir di perumahan ini. 


Keep Relax, Keep Bersyukur

Jujur ya, saya sempat menangis beberapa kali ketika memutuskan harus ke rumah mertua lagi. Tapi saya juga tergugah untuk melakukan sesuatu hal yang mungkin kelihatan kecil, dengan harapan bisa menjadi sesuatu hal besar & bermanfaat buat orang lain. 

Prinsipnya sederhana, pengen menolong pemilik kontrakan dengan cara yang saya bisa. 

Yang saya yakini, 

"memudahkan urusan orang lain, maka Allah pun akan memberikan kemudahan".

Ini aja yang saya pegang. Gimana di rumah mertua, dealing again with *the ipar*, itu urusan nanti. Bismillah, Allah kasih jalan, Allah kasih mudah. 

Saya juga sadar sesadar-sadarnya, kondisi emosional & psikologis saat hamil perlu saya jaga. Caranya dengan melatih merilekskan pikiran, salah satunya dengan yoga dan menulis seperti ini. 


Satu lagi, tak henti-hentinya bersyukur dengan segala nikmat yang Allah kasih hingga detik ini, karena sebagai manusia kadang saya pun lupa, betapa banyak yang Allah sediakan, tapi saya masih saja ngeluh. Astaghfirullahaladzim 🥺




 

No comments